
Sudah dua kali Farhan bolak-balik kamar mandi pagi ini. Makanan yang di makan sarapan tadi keluar semua tak tersisa. Bahkan ia sampai izin tak masuk kelas. Kini Farhan masih di ruangan kebesarannya.
Rasanya Farhan begitu rindu dengan sang istri. Padahal baru setengah jam yang lalu ia berpisah. Tangannya begitu gatal inginelepon Anisa. Sekuat apapun menahan, tetap saja tak bisa. Akhirnya goyah juga pertahanannya.
"Assalamu'alaikum, ada apa Mas? Ada yang tertinggal?" Tanya Anisa.
"Mas kangen, kamu ke kampus dong Yang... Mas udah dua kali bolak-balik kamar mandi." Rengek Farhan sembari menyenderkan kepalanya di sofa.
"Astaghfirullah, iya Mas... Adek ke kampus sekarang ya, mau ikut Ayah sekalian..." Jawab Anisa terdengar panik.
"He'em, hati-hati yaa... Wa'alaikumussalam" Tutup Farhan.
Tok! Tok! Tok!
Tak berselang lama tiba-tiba ada ketukan pintu. Dari bayangannya seperti dua orang perempuan.
CKLEK!
Farhan membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum pak, mohon maaf mengganggu waktunya... Kami mau memberitahukan bawa sekarang waktunya bapak mengajar di kelas kami menggantikan Bu Anisa," Ujar salah satu mahasiswa dengan hati-hati. Sepertinya gugup melihat ketampanan pak rektor satu ini.
"Wa'alaikumussalam! Saya tahu sekarang ada jam di kelas kalian. Sabar dulu bisa! Kenapa harus repot-repot ke ruangan saya? Saya tidak pikun ya!" Jawab Farhan kerus.
Demi apa! Suaranya yang tadi begitu lembut dan manja berubah drastis menjadi tegas dan keras. Dua mahasiswa di depannya menciut seketika. Mereka tak berani sekalipun menatap dosen yang ada di depannya.
Tak ada jawaban sama sekali dari ketiga manusia di depannya. Farhan masih memamerkan wajah jengkelnya.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Anisa pada salah satu mahasiswanya yang ternyata sesenggukan. Di pegangnya lengan mahasiswa itu perlahan.
Ayah yang melihat suasana panas itu menarik Farhan agar masuk ke ruangan anaknya. Sepertinya hormon bumil Anisa berpindah seratus persen pada pakmil.
"Bicara sama saya, tidak apa, tidak usah takut," Ujar Anisa sembari membimbing kedua mahasiswa itu agar duduk di kursi yang di sediakan di depan ruangan Farhan.
"Kami hanya ingin mengingatkan Pak Rektor untuk masuk di kelas kami menggantikan ibu, tapi malah dimarah," Lirihnya dengan masih sesenggukan.
"Kami kira Pak Rektor lupa bu, soalnya sudah lewat 10 menit tadi," Sambung teman di sebelahnya. Untung saja yang menangis hanya satu. Kalau dua-duanya bisa dituntut jangan-jangan. Hahaha.
Huufft! Anisa membuang nafasnya berat. Benar-benar kelewatan calon ayah satu itu.
"Saya pribadi memohon maaf atas ketidak jelasan sikap suami plus Rektor yang ada di dalam itu ya... Sepertinya hormon kehamilan saya berpindah kepadanya. Aduuhhhh, saya jadi malu sendiri megatakan hal ini," Lirih Anisa.
"Tidak apa bu, saya hanya kaget tadi. Baru kali ini Pak Rektor bentak-bentak. Sama saya pulak yang pertama....hehehe," Jawab mahasiswa yang sudah berhenti menangis. Sepertinya ia terhibur dengan cerita + alasan Anisa.
"Di kelas sebelumnya, Pak Rektor juga tidak masuk Bu," Adu mahasiswa satunya.
Kacau ini mah! Sepertinya Anisa harus kembali mengajar. Toh ia sudah kuat. Tak lemas + tak berubah-ubah moodnya. Ia rasa sudah kuat untuk kembali mengajar. Sepertinya harus berdiskusi dengan Bunda, Ayah, Umi, Abi, dan Mbah Kakung, Mbah Uti. Tak perlu berdiskusi dengan pak suami. Tak akan mendapatkan jalan keluar jika berurusan dengan bapak-bapak yang sedang ngidam.
...Bersambung... ...