Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Up


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Anisa dan Farhan kembali ke ruangan. Menyusuri pekarangan dan koridor Universitas, tak menghalangi niatan Farhan untuk melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Anisa.


Sampai di ruangan Farhan, Anisa langsung masuk ke kamar Farhan. Merebahkan diri di sana, rasanya cukup lelah ternyata mengajar dan ditambah dengan mengurus bayi beruang satu itu. Bahkan kini Farhan sudah tiduran di depan Anisa. Posisi Anisa kini tengah miring dengan Farhan menghadap padanya.


Tangan Anisa diarahkan Farhan agar memeluknya. Begitupun Farhan, ia juga memeluk Anisa. Ya Allah, Anisa benar-benar memiliki bayi beruang sekarang. Anisa tak tega untuk menolak sang suami, ia tahu jika semua tingkah Farhan juga bukan keinginannya.


Anisa mengelus dengan lembut rambut Farhan. Farhan semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada pelukan Anisa.


Sebenarnya Anisa kegelian dengan posisi Farhan yang semakin mendusel itu. Tapi ia tak tega untuk mencegahnya. Dapat dipastikan sang suami akan merajuk nantinya.


.


.


.


Dua jam lamanya dua pasutri itu istirahat di kamar. Untung saja mereka sebelum tidur sudah melakukan salat, sehingga tak ada tanggungan lagi. Anisa diam sebentar memandangi suaminya yang masih pulas. Kenapa manusia ini begitu tampan? Hanya dengan kaos oblong bewarna putih malah membuat tingkat ketampanan Farhan bertambah berlipat.


Tiba-tiba saja Anisa ingin bertemu Wardah. Dengan hati-hati Anisa memindahkan tangan Farhan agar tak memeluknya lagi. Anisa berangsur turun dari tempat tidur takut jika sang suami terbangun.


Anisa menjauh dari posisi Farhan dan memilih menuju balkon. Dicarinya nomor hp Wardah berniat untuk menghubunginya. Sekali, dua kali tak ada sahutan sama sekali.


Sudah tujuh kali Anisa menghubungi, tapi tetap saja tak ada sahutan. Mulai jengkel tak ada tanda-tanda tersambung, Anisa memilih untuk masuk.


"Dari mana sih Yaang? Aku cariin lho dari tadi," Ujar Farhan yang ternyata baru bangun.


"Mau nelpon Wardah, tapi gak ada sahutan," Lirih Anisa dengan cemberut.


"Mandi yuk! Abis itu ke rumah Wardah," Celetuk Farhan yang berdiri dan merangkul Anisa memasuki kamar mandi.


"Ya udah, mandi aja... Gantian, gak usah berdua," Jawab Anisa mencoba menolak.


Jangan ditanyakan bagaimana reaksi Anisa, ia berteriak dan menggeliatkan tubuhnya berusaha turun. Tentu saja tak mempan untuk Farhan. Ia berhasil membawa Anisa dan langsung mengunci pintu kamar mandi.


Tak cukup satu jam mereka di kamar mandi. Anisa sudah menggigil dibuatnya. Dipukulnya bertubi-tubi dada Farhan karena geram.


"Maaf Yaang, gak tahan tahuu," Ujar Farhan sembari memakaikan jubah mandi untuk Anisa.


"Capek tahuu!" Ketus Anisa kemudian meninggalkan Farhan sendiri. Bukannya merasa bersalah, ia malah tertawa melihat ekspresi marah Anisa.


"Kamu gak nyiapin baju buat Mas?" Tanya Farhan tepat di dekat telinga Anisa.


"Nggak! Ambil sendiri! Pilih sendiri!" Jawab Anisa menahan rasa remang-remang akibat ulah suami resenya itu.



Selesai sudah mereka melaksanakan salat asar berjamaah. Anisa kini sudah siap dengan dress yellow-nya. Dipadukan dengan jilbab sorong berwarna pink menyesuaikan motif bunga di dressnya.


"Ayo Mas! Adek gak sabar mau ke rumah Wardah." Rengek Anisa.


"Iyaa sebentar, mas ambil jaket dulu," Jawab Farhan.


Keluar dari lift mereka menjadi pusat perhatian manusia di lobi universitas. Pasalnya Farhan kali ini memakai pakaian kasual dengan jaket di bagian luarnya. Menambah kesan yang uuhhhh! Tampan!


Anisa merangkul posesif lengan Farhan. Tak rela rasanya melihat sang suami mendapat tatapan seperti itu dari manusia-manusia di sana. Yang lebih menjengkelkan, para mahasiswa juga terbengong melihat Farhan dan Anisa.


Kenapa jadi gantian terus sih mood mereka berdua. Beberapa waktu yang lalu Farhan, sekarang Anisa. Baby.... Kenapa kau mempengaruhi mood baba dan uma mu seperti ituuuu? Hahahaha


...Bersambung.... ...