
Cklek!
"Assalamu'alaikum," sapa Farhan dan Eza.
"Waalaikumussalam," jawab Anisa dan Wardah dari sisi ruangan ini.
Indra penciuman mereka bekerja saat ini. Bau sedap sangat menggugah selera. Farhan melangkahkan kakinya menuju dapur dan Eza mengikutinya. Eza sesekali mengamati interior ruang kerja Farhan. Tak buruk juga desainnya. Tampak dua wanita itu tengah disibukkan dengan bahan-bahan masakan. Satu hidangan tampak sudah tersaji di atas meja makan.
Muncul ide brilian Farhan untuk mengerjai Wardah dan Eza. Farhan menghampiri Anisa yang tengah menumis kangkung. Memeluk mesra Anisa dari belakang. Meletakkan dagunya di pundak Anisa. Wardah memutar bola matanya jengah.
"Kan kumat! Males ah kalau Mas Farhan udah gitu!" protes Wardah.
"Hahaha, tuh! Ada Ezo. Ajak pelukan sana," celetuk Farhan dibalas kekehan oleh Anisa.
"Rese kalian Mah! Sana kelonan di kamar sana!" gerutu Wardah sembari mendorong dua sejoli yang tengah berpelukan untuk henyah dari hadapannya. Farhan dan Anisa tertawa puas melihat respon Wardah. Eza? Ia mengulum senyuman melihat tingkah 3 orang di hadapannya.
Farhan dan Anisa pamit sebentar untuk istirahat. Maklumlah, bumil tak boleh terlalu capai. Tersisalah di dapur ini Wardah dan Eza saja. Eza mendekati Wardah dan membantu meneruskan masakan Anisa tadi.
"Kita kembali ke Jakarta kapan Mas?" tanya Wardah. Mengingat bahwa mereka belum sempat mengunjungi Bunda dan Ayah.
"Setelah urusan kita di Jombang selesai. Setelah dari sini kita menemui Bunda kamu dulu lalu ke makam Ayah," ujar Eza. Wardah tersenyum simpul menanggapi.
Azan asar sudah berkumandang, tapi Farhan dan Anisa belum keluar juga dari peti persembunyian mereka. Wardah tampak bosan kali ini. Makanan itu sudah memanggil-manggil, tapi partner sebelah belum muncul juga.
"Sholat dulu saja yuk sambil nunggu Farhan," ajak Eza.
Wardah mengangguk dan mengikuti Eza keluar ruangan mencari masjid kampus. Tampak para mahasiswa terkagum-kagum melihat manusia tampan ini. Tak segan-segan pula dari mereka meminta fotonya.
"Kalah famous aku Mah!" celetuk Wardah.
"Hahaha, tenang, pulang dari sini ada hadiah untuk kamu," ujar Eza.
Eza menggenggam pergelangan tangan Wardah yang terlapis kain lengn panjangnya. Melanjutkan rencana mencari masjid. Sesekali Eza bertanya agar tak tersesat. Luas sekali ternyata. Wardah masih linglung dengan adegan tangannya yang digenggam.
"Kita jamaah?" tanya Eza setelah mereka menemukan masjid.
"Wardah ke dalam duluan Mas," ujar Wardah.
Ia sudah salah tingkah dari tadi digandeng oleh Eza. Jantungnya serasa mau copot.
.
.
.
"Kayaknya nggak usah deh Nis, ntar kalau aku pulang akhir jadinya ngluarin ongkos hehehe," celetuk Wardah. Benar-benar perhitungan anak satu ini.
Anisa langsung memasang muka garangnya.
"Bisa-bisanya kamu Ya! Aku udah bela-belain bujuk bos kamu. Eh! Malah minta berangkat! Terserah kamu wes!" protes Anisa. Ia beranjak meninggalkan 3 manusia yang terbengong di ruang makan. Hanya seperti itu langsung mengubah mood bumil?
"Wardaaahhhh, kaaan! Ngambek kaan! Susah wes!" gerutu Farhan mengusap kasar mukanya. Wardah yang menjadi biang kerok hanya mesam-mesem tak tahu arah.
"Udah nggak papa di Jombang dulu aja, kitakan juga belum ziarah ke makam Ayah... Sekalian aja saya nunggu kamu selesai acara 7 bulanan Mbak Anisa," ujar Eza.
Wardah tak enak sendiri dibuatnya. Baik sekali bosnya ini. Udah ganteng, profesional, pinter, jaya, baik, dermawan lagi.
"Kamu bujuk tuh Anisa! Tanggung jawab!" perintah Farhan.
"Kalem Mas... Seloww, takut banget sama istri, hahaha!" goda Wardah segera berlari menghampiri Anisa sebelum kena baku hantam.
.
.
.
Anisa sama sekali tak mau menyahuti panggilan Wardah. Ia masih kekeh membelakangi Wardah yang kini tengah tersenyum geli melihat tingkah bumil itu. Sebegitu hancurnyakah moodnya?
Wardah jadi membayangkan hari-hari Farhan yang harus ekstra hati-hati dalam menjaga moodnya. Lebay sekali sahabatnya ini. Hahaha. Apa dirinya kalau tengah hamil juga akan seperti itu? Hahaha. Wardah terkikik sendiri.
"Udah dong Say ngambeknya... Iya-iya, aku ke Jakartanya setelah selesai 7 bulanan kamu," bujuk Wardah duduk di samping Anisa.
"Hey kembar! Bia kalian ngambek terus nih! Bantuin aunty dong bujuknya," ujar Wardah dengan suara melasnya mengajak bicara dua nyawa dalam perut Anisa.
Wardah memeluk Anisa dari arah samping. Menyenderkan kepalanya pada pundak Anisa. Memandang ke luar jendela kaca yang amat besar menyajikan pemandangan kota Jombang versi permukiman warga dan hamparan sawah.
"Jangan ke Jakarta dulu," lirih Anisa.
"Iyaa nggak, ngambeknya serem dah!" celetuk Wardah. Satu sentilan mendarat pada kening Wardah. Sukses membuat Wardah mengaduh.
...Bersambung.... ...