Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Gupuh


Pagi-pagi buta, bahkan suara sahutan burung hantu masih terus saja terdengar. Anisa sudah merengek pada Farhan agar segera ke rumah Wardah. Pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama nantinya jika mereka berdua akan bertemu kembali. Itulah yang dipikirkan Anisa sejak kemarin hari. Anisa sudah menyiapkan bingkisan yang nantinya diberikan untuk Wardah. Ia ingin Wardah selalu ingat padanya, ya meskipun tak mungkin rasanya Wardah melupakan sahabatnya sendiri itu.


“Iya, setelah sarapan pagi kita ke rumah Wardah, Mas janji deh! Sekarang kita lalaran Al-Quran dulu yuk!” Tak mudah bagi Farhan untuk membujuk istrinya.


“Yank, kamu nggak malu sama Allah, masak nggak lalaran dulu, malah panic ngajak ke rumah Wardah? Wardah berangkatnya masih nanti jam 9. Kita masih punya banyak waktu,” Bujuk Farhan. Tentu saja tak mungkin jika mereka berdua bertamu subuh-subuh begini.


Akhirnya Anisa mau juga, ia lalaran atau simakan Al-Quran bil ghoib bersama suaminya. Dengan telaten Farhan menyimak Anisa. Membetulkan jika ada yang salah atau terlewat. Mungkin karena fokus Anisa masih tertuju pada sahabatnya, makanya saat lalaran kali ini sedikit belibet. Ada yang salah, terlewat, atau bahkan ngelantur ntah kemana bacaannya.


Setelah menghabiskan waktu lalaran selama dua jam, Anisa segera membereskan peralatan salat dan mengajinya tadi ke tempat semula. Tentu saja dibantu Farhan. Setelah itu ia menuju dapur untuk membantu para ibu-ibu yang terdiri dari Bunda, dan Mbah Uti. Sepertinya Mbah Uti memang sudah betah di sini. Beliau dan Mbah Kakung tak akan pulang sebelum melihat cicit kembar mereka katanya. Anisa yakin jika anaknya sudah lahir, pasti kedua orang tua Uminya itu tetap tak akan pulang ke Jogja. Semua cucu dan cicit tersayangnya ada di sini soalnya. Mbah Kakung dan Mbah Uti masih kangen dan sering menginap di rumah Umi untuk bermain dengan anak Kak Ical. Semoga saja kasih saying mereka tak terbagi nantinya.


Setelah siap 30%, Anisa pamit mencari Farhan untuk segera bersiap. Agar setelah sarapan bisa langsung berangkat katanya. Di carinya di teras samping tempat biasa berolah-raga tak ada. Di teras depan tak ada, di mana gerangan manusia tampan manis nan gagah itu sebenarnya? Sayup-sayup Anisa mendengar gelak tawa bapak-bapak dari arah taman belakang.


Benar saja, ternyata Farhan, Ayah dan Mbah Kakung tengah bermain catur dan berbincang riang di pendopo. Anisa menghampiri mereka sembari membawakan teh hangat dengan nampan.


“Sudah matang makanannya sayangnya Ayah?” Tanya Ayah sembari mengambil cangkir dari nampan yang di letakkan Anisa tadi.


Anisa menarik-narik lengan baju Farhan, niatan ingin memberikan intruksi agar Sang Suami menyelesaikan permainan caturnya dengan Mbah Kakung. Tapi ternyata tak peka-peka.


“Kenapa Yank?” Bisik Farhan tepat di telingan Anisa. Sukses membuat Anisa bergidik geli.


“Ayo siap-siap ke rumah Wardah Mas,” Lirihnya.


Cup! Satu kecupan singkat mendarat dengan indahnya di pelipis Anisa.


“Ayah gantiin Farhan dong! Farhan mau siap-siap dulu, habis sarapan mau ke rumah Wardah,” Ujar Farhan.


“Ya udah sana!” Jawab Ayah menggantikan posisi duduk Farhan. Farhan meminum teh bagiannya baru kemudian mengajak Anisa ke dalam. Jika segera dituruti, bisa dipastikan merajuk nantinya. Semalam saja ia sudah merajuk saat Farhan bercanda tak akan mengantarkan ke rumah Wardah. Alhasil Anisa tak mau di peluk sama sekali oleh Farhan.


Bersambung….