
"Bapak pengen buang hajat nduk," Ujar ayah Cak Ibil kepada Wardah yang duduk di samping Anisa.
"Monggo Pak, saya antarkan," Jawab Wardah spontan.
Bapak Supono berdiri dengan segera mengikuti Wardah.
"Ibu juga nduk, sekalian... Kulo ke kamar mandi dulu ya bu," Ujar Bu Surinah pamit pada Bunda juga ikut berdiri. Bunda tersenyum menanggapi.
"Monggo Bu, Pak. Dek, kamu antarkan di kamar mandi taman yaa, yang di dalam belum dibersihkan. Takut licin," Jawab Bunda disertai instruksi untuk Wardah.
"Iya Bunda..." Jawab Wardah.
Selama perjalanan menuju kamar mandi, kedua orang tua Cak Ibil tak berhenti-berhentinya mengagumi rumah besannya itu. Maklumlah, ini kali pertama mereka mengadakan silaturrahmi antar besan di rumah. Wardah pun belum tahu bagaimana rumah suaminya itu.
"Tanaman ini yang nanam siapa nduk?" Tanya Ibu Surinah ketika sampai di taman belakang.
"Yang menanam Bunda Bu," Jawab Wardah dengan senyuman.
"Oalah, kok yo apik banget," Decak Ibu Surinah dengan kagum.
"Ini Pak, Buk, kamar mandinya," Ujar Wardah.
Setelah buang hajad, bukannya langsung kembali ke ruang tamu para orang tua Cak Ibil malah berkeliling melihat tanaman yang ada di taman belakang. Di taman belakang memang sudah banyak tanaman hias, pendopo kecil, kolam renang, ayunan, beberapa pohon buah dan sayuran yang sempat di tanam Wardah tempo hari yang lalu.
"Nduk, kamu belum ada tanda-tanda hamil?" Tanya Ibu Surinah sebelum mereka kembali. Bapak Supono sepertinya juga penasaran. Terlihat dari gerak-geriknya yang mendekat menuntut jawaban pula.
"Belum Bu, do'akan nggeh Bu," Jawab Wardah sekenanya. Bagaimana mau hamil? Bahkan Cak Ibil belum menyentuh satu sama lain.
.
.
"Ayo ke rumahnya ibuk nduk, tata rumah ibuk biar cantik seperti ini," Celetuk Ibu Surinah di sela perjalanan menuju ruang tamu.
"Hahaha, insyaallah buk," Jawab Wardah.
Ternyata mertuanya cukup baik dan Ramah, tak sesuai ekspetasinya. Sepertinya memang karena pertemuan pertama waktu resepsi, makanya terlihat belum akrab. Sekarang jauh lebih baik. Meskipun Wardah masih tampak canggung dan sungkan.
"Ada apa?" Tanya Wardah dengan volume terkecil nyaris tak terdengar pada Anisa. Anisa-nya malah mengelus lembut punggung tangan Wardah.
"Buk, Pak, ada yang mau Ibil sampaikan," Ujar Cak Ibil yang duduk di sofa single.
"Apa to Le?" Tanya Pak Supono bingung dengan suasana ini.
"Sebenarnya Ibil belum memperlakukan Wardah sebagai istri Ibil Pak... Saya sama sekali belum memperlakukan Wardah sebagai istri," Ulangnya lagi.
Sontak Wardah tercengang melihatnya. Kenapa harus dibicarakan disini? Bukankah perjanjian mereka dua bulan? Sekarang baru masuk minggu ke tiga.
Sepertinya orang tua Cak Ibil belum mamahami arah pembicaraan anaknya itu.
"Ibil belum menyentuh Wardah sama sekali, karena Ibil belum sepenuhnya melupakan Anisa," Lirih Cak Ibil.
"Astaghfirullah, kamu berbohong dengan Ibu dan Bapak nak? Tega kamu nak?" Lirih bu Surinah sembari memandangi Wardah dan wanita di sampingnya.
Ia tahu betul bagaimana anaknya itu meminta izin untuk menikahi Anisa. Kemudian setelah mendapat penolakan, ia kembali meminta izin untuk menikahi wanita di sampingnya.
Ibu Surinah mendekati Wardah dan berlutut di depannya.
"Jangan seperti ini Bu," Ujar Wardah kaget dan langsung menuntun agar duduk di tengah-tengah wanita cantik itu.
"Maafkan Ibu Nak, maafkan ibu... Ketakutan ibu ternyata menjadi nyata, ibu menyesal membiarkan anak ibu menyakiti perempuan baik seperti kamu," Lirih beliau dengan mengusap lembut pipi Wardah. Air mata Wardah lolos seketika. Begitu pun sang ibu.
"Terima kasih nak, kamu sudah menolak Ibil. Dia memang tidak pantas untuk kamu. Begitu pun dengan kamu Wardah sayang... Dia tidak pantas untuk kamu, lepaskanlah jika itu membuat hati kamu tidak tertekan lagi. Ibu ikhlas," Sambung beliau berbalik pada Anisa dan kembali ke Wardah.
Wardah tak tahu ingin mengatakan apa. Lidahnya kelu. Ia masih sesenggukan melihat kebaikan hati mertuanya. Mungkin jika ia tinggal bersama mertuanya, akan mengurangi rasa sesak di hati selama ini. Tapi ia juga menjadi ragu akan Ibil. Bisakah ia menjadikan Ibil seutuhnya mencintainya?
...Bersambung.... ...
......***Gimana nih gaess? Ibil sama Wardah di satukan lagi atau tidak? ......
Oh iya, sengaja Lhu-Lhu menuangkan kisah Wardah disini. Pengennya di novel Wardah udah terbit kehidupan baru. Ntah itu keluarga Wardah yang kembali utuh dan harmonis, ataupun kehidupan Wardah tanpa Cak Ibil***.