
Anisa tengah melepaskan aksesoris yang melekat di kepalanya. Padahal baru setengah hari, capeknya masyaallah. Gimana besok.
CKLEK! Farhan memasuki kamar. Didapati Anisa tengah berkaca membersihkan printilan aksesoris.suasana kamar yang memancing Farhan untuk... Ehm!
Ia mendekati Anisa.
"Saya bantu". Ujarnya dengan mengambil beberapa jarum di hijab Anisa.
"Eh! Mas? Gak usah". Anisa kaget sekaget-kagetnya melihat Farhan tepat dibakangnya.
Anisa sedikit menjauh dari Farhan.
"Kamu kenapa? Saya ini suami kamu". Lirih Farhan sengaja menggoda Anisa. Hahaha, benar-benar rese.
"Mas! Jangan macam-macam ya! Anisa gak suka lho!". Tegas Anisa beringsut menjauhi Farhan. Perlahan-lahan Farhan terus mendekati Anisa dan Anisa mundur hingga mentok pada dinding.
"Kamu istri saya Alya Anisa Azzahra". Ujar Farhan. Ia begitu puas melihat wajah Anisa yang pucat pasi. Hahahhaha.
Farhan menghadang Anisa dengan kedua lengannya. Menghimpitnya pada tembok.
"Maaaas". Lirih Anisa. Mulailah Anisa menumpahkan air matanya.
"Eh! Kok malah nangis sih? Kan Saya cuma bercanda". Ujar Farhan panik.
Anisa beringsut berjongkok menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Nis? Mas cuma bercanda. Mas gak niat ngapa-ngapain kamu kok. Beneran deh". Farhan tambah panik dibuatnya.
Farhan mengunci pintu takut jika tiba-tiba ada yang masuk. Kan berabe, padahal ia belum menyentuh sama sampai kali. Ia hampiri Anisa.
"Niis? Jangan gini dong. Saya minta maaf". Ujar Farhan. Tapi Anisa masih saja terisak. Farhan merengkuh Anisa dalam pelukannya. Anisa tak menolak. Farhan mengelus kepala Anisa mencoba menenangkan.
Farhan menuntun Anisa untuk duduk disisi ranjang.
"Kamu kenapa setakut ini? Saya tadi hanya bercanda". Lirih Farhan.
Anisa hanya menggelengkan kepalanya dalam dekapan Farhan.
"Aku takut mas, Aku belum siap". Lirih Anisa dengan sesenggukan.
"Hahahah". Tawa Farhan pecah seketika.
"Saya niatnya cuma bercanda tadi". Sambungnya.
"Lha abisnya tiba-tiba maju maju gitu". Jawab Anisa.
"Hahaha, ayo saya bantu lepasin onderdilnya". Ujar Farhan. Anisa mengangguk. Farhan membantu Anisa membukakan hiasan di jilbab dan bajunya.
"Anisa ke kamar mandi dulu". Ujar Anisa berlari ke kamar mandi. Farhan terkekeh melihat tingkah istrinya.
Anisa Pov
Ya Allaaaah, dadaku gak bisa terkontrol. Ku langkahkan kaki menuju cermin wastafel. Kaan, mukaku merah.
Astaghfirullaaaah, bisa-bisanya aku lupa membawa baju ganti. Nanti aja deh, mending mandi dulu. Aduuuuh, kenapa panjang banget sih resletingnya? Kan jadi susah bukanya.
"Sayaang". Apaan tuh orang! Sayang-sayang.
"Kamu lagi ngapain sih? Lama banget".
"Apaan sih teriak-teriak?". Jawabku.
CKLEK!
"Kok belum apa-apa?". Tanyanya.
"Lupa gak bawa baju ganti". Jawabku singkat.
Kutinggalkan Mas Faridz untuk mengambil baju ganti dan kembali lagi ke kamar mandi.
Sebelum benar-benar masuk,
"Mas?". Panggilku pada Mas Faridz yang tengah berbaring di ranjang.
"Hmm". Jawabnya. Sebel dah. Kenapa coba cuma berdeham.
"Kenapa sayaang". Jawabnya lagi.
Kudekati dia, " Mas, bukain resleting bajunya". Lirihku membelakanginya.
"Kamu mau goda saya". Ujarnya.
"Ya udah kalau gak mau. Aku minta tolong Umi ajah". Jawabku mulai berdiri.
"Eh! Jangan emosian dong. Sini tak bukain". Ujarnya menahanku. Kurasakan tangannya mulai membuka resleting bajuku. Untung saja dalamnya masih ada mangset.
"Sudah". Ujarnya.
"Makasiiiih". Jawabku meninggalkannya.
Setelah beberapa saat membersihkan diri, aku keluar kamar. Ternyata Mas Faridz sudah tertidur.
"Mas? Mas Faridz? Mas gak mandi dulu?". Ku goncangkan dengan lembut lengannya.
"Mas?". Sekali lagi ku panggil.
"Hooam, tunggu saya sholatnya". Jawabnya dan pergi ke kamar mandi.
Ku siapkan sajadah untuk kami sholat.
Kami melakukan sholat berjamaah perdana. Selepas itu, Mas Faridz izin untuk keluar sebentar. Kupilih untuk mengistirahatkan diri ini di ranjang yang serba putih. Lebih terkesan lebay menurutku. Sebab ada tumbler yang menggantung dimana-mana.
Farhan Pov
CKLEK!
Sudah tidur ternyata. Padahal baru ditinggal beberapa menit untuk mengambil minum. Ku letakkan air minum di nakas sebelah ranjang.
Aku punya ide. Hahahahha, lihat saja sayang, kamu bakalan jantung maraton. Ku rebahkan tubuh ini disamping Anisa. Ku regangkan sebentar lalu mulai ku arahkan kepalanya di lenganku dan kupeluk dirinya.
Ya Allaaaah, terima kasih sudah menjadikannya bagian dari bidupku. Bagaimana ya reaksinya kalau bangun nanti hahahah.
Tak peduli. Yang penting aku bisa memeluknya saat ini.
What! Apa ini? Dia membalas pulukanku. Jangan mendusel di dadaku sayang, aku takut tak bisa mengontrolnya.
Untung saja kamu masih pakai jilbab. Kalau tidak aku gak tau bakal gimana menahannya.
Author Pov
Setelah lelah berargumen dengan dirinya, Farhan mulai mengantuk dan tidur. Mereka kini tidur dengan keadaan saling berpelukan satu sama lain.
"Farhan? Anisa?". Panggil Umi dengan mengetuk pintu kamar mereka.
"Mungkin mereka masih istirahat. Coba di cek". Ujar Abi.
CKLEK! Umi membuka pintu kamar mereka yang tak terkunci.
Betapa kagetnya Umi melihat pemandangan yang begitu indah itu.
"Bi?". Panggil Umi.
"Ada apa?". Tanya Abi. Umi menunjuk ke arah anak mereka yang tengah berpelukan satu sama lain.
Abi tersenyum menanggapi kekagetan Umi.
"merekakan suami istri. Ya gak papa to. Sudah ayo keluar. Mereka pasti capek". Ujar Abi.
"Iya bi, Umi gk sabar mau ngasih tau Bunda". Jawab Umi. Merekapun meninggalkan kamar Anisa.
Azan asar mulai berkumandang di langit Jombang. Sayup-sayup Anisa mulai sadar.
Emmmh, nyaman banget. Pikirnya. Dikeratkannya pelukan Anisa pada Farhan.
"Ni anak makin nempel aja deh. Kan jadi sayaang". Batin Farhan dengan mengeratkan pelukannya juga.
"Sayangkuuu? Udah asar lho". Usap lembut Farhan pada kepala Anisa.
"Lima menit lagi Umi, Anisa masih capek". Lirih Anisa dengan suara khas bangun tidur.
"Saya suami kamu Anisa". Dengan suara berat untuk mengerjai Anisa.
Tiba-tiba Anisa mendongakkan kepalanya menghadap tepat diwajah Farhan. Sadar siapa yang mendekapnya, Anisa menjauh dari Farhan.
"Mas curi kesempatan yaa!". Tegas Anisa.
"Kesempatan apa?". Tanya Farhan.
"Peluk-peluk aku". Jawab Anisa.
"Ngawur. Jelas-jelas kamu yang mulai meluk saya". Jawab Farhan dengan senyum liciknya.
"Dasar mesum!". Teriak Anisa dengan berlari memasuki kamar mandi. Farhan terkekeh.
"Bisa-bisa kering liurku ketawa terus". Ujar Farhan.
Anisa memilih untuk sekalian mandi sebelum sholat asar.
"Astaghfirullaaaah, bisa-bisanya aku lupa gak bawa jilbab. Mana yang tadi udah masuk keranjang kotor lagi". Gumam Anisa merutuki keteledorannya. Untung baju gantinya tidak ketinggalan.
"Maaas? Mas Faridz?". Panggil Anisa dari dalam kamar mandi dengan sedikit membuka pintu.
"Heemm! Ada apa?". Jawab Farhan.
"Minta tolong". Ujar Anisa.
"Tolong apa sayang?". Goda Farhan dari balik pintu.
"Hish! Masih sempet aja gaje. Tolong ambilin jilbab di ruang ganti maas". Ujar Anisa dengan sedikit berteriak.
"Langsung keluar aja, toh gak dosa kamu gak pakai jilbab didepan saya". Jawab Farhan.
"Gak mau. Mass, tolong dong". Rengek Anisa.
"Kalau gini". Farhan dengan iseng mematikan lampu kamar mandi.
"AAAAA". Anisa berlari keluar dari kamar mandi memeluk Farhan.
"Jahat banget siiih". Rengek Anisa dengan menangis.
"Maaf, habisnya kamu kenapa gak mau ngelepas jilbab?". Lirih Farhan dengan mengelus rambut Anisa.
"Aku maluu". Jawab Anisa.
"Kenapa malu? Rambutnya cantik kok". Ujar Farhan.
"Saya mandi dulu, habis itu kita sholat". Sambung Farhan. Anisa mengangguk.
Bersambung...