
Dering telepon yang sedari tadi menyahut tak dihiraukannya. Farhan terus berlari ke dalam rumah sakit.
"Cepat suster! Cepat! Cepat tangani!" teriak Farhan dengan tak sabar.
"Bapak silahkan tunggu di depan," ujar seorang perawat.
"Nggak! Saya nggak akan keluar!" tegas Farhan.
"Biarkan sus," ujar dokter yang menangani Anisa.
Anisa meringis ngilu saat dokter mulai mengambil tindakan. Farhan terus menggenggam tangan Anisa erat. Ia sampai lupa jika beberapa waktu gawainya terus bergetar.
"Untung saja anak-anak kalian bisa terkondisikan kembali. Kamu jangan berulah Han, manjakan istrimu. Jangan buat dia stres sampai hampir kontraksi seperti ini," ujar dokter yang memang sudah kenal dengan Farhan. Farhan kini tengah berada di ruang dokter, sedangkan Anisa tengah dipersiapkan menuju ruang inap.
"Saya nggak tahu dok, saya selama ini selalu memanjakan istri saya," jawab Farhan.
"Tadi juga sempat akan terjatuh kata kamu, lebih hati-hati dalam menjaga ibu hamil," ujar dokter itu lagi. Farhan manggut-manggut.
.
.
.
Harus benar-benar menyiapkan diri Farhan sekarang. Ia harus menyiapkan mental bertemu Ayah nantinya. Ia belum siap mengabari pihak rumah saat ini. Gawai yang dari tadi menayangkan foto Bunda terus bermunculan. Tak berani mengangkat.
Cklek!
"Assalamu'alaikum," sapa Farhan memasuki ruang rawat Anisa. Tak lupa Farhan mengembangkan senyuman manisnya.
"Waalaikumsalam," jawab Anisa.
Farhan mendekati Anisa dan duduk di sisi ranjang membelai lembut rambutnya. Hanya mereka berdua di sini, tak masalah jika Anisa leoas jilbab. Farhan sengaja memilih fasilitas yang lebih berprivasi, agar istrinya lebih nyaman.
"Gimana? Masih sakit perutnya?" tanya Farhan.
Anisa menggeleng dan kini memeluk sebagian perut Farhan yang kini berposisi duduk.
"Alhamdulillah udah nggak... Mas..." panggil Anisa lirih.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Farhan.
"Indah itu siapa kamu dulu?" tanya Farhan.
"Dia itu dulu cinta monyetnya mas, mas gak pernah pacaran sama dia. Cuma sekedar suka-suka anak sekolahan gitu... Cuma deket-deket hubungan gak pasti gitu yaank... Kamu tahulah gimana sih santri kalau punya cem-ceman? Nggak pacaran, tapi deket. Itu nggak lama, gara-gara mas takut kalau kena takzir. Udah gitu aja, nggak ada yang istimewa," jelas Farhan panjang lebar.
"Tadi Indah bilang sama aku, katanya kamu dulu jahat sama dia. Kan aku jadi kepikiran. Seberapa jauh sih hubungan suamiku ini dengan dia? Tapi aku udah tenang kok sekarang," jawab Anisa.
"Kamu tadi lama banget! Aku jadi nggak nyaman sama Indah terus. Aku nggak suka sama dia, dia kayak masih suka gitu mas, sama kamu," sambung Anisa.
"Hati mas cuma untuk istri mas seorang, kamu yang nomor 2... nomor satunya buat Bunda, hahaha," tawa Farhan menggelegar melihat raut cemberut Anisa.
"Nggak mau! Maunya nomor 1 semua!" protes Anisa.
"Iya... Sekarang makan dulu ya. Tadikan mau makan baby cumi," jawab Farhan.
Anisa mengangguk mengiyakan. Farhan dengan telaten menyuapi Anisa. Ia juga menghubungi Bunda jika kini menantu kesayangannya tengah dirawat. Jangan bertanya bagaimana respon mereka di rumah. Jelas pasti mereka ngegas meminta penjelasan kenapa bisa terjadi.
Ternyata di sana juga ada Umi dan Abi. Syukurlah, tak perlu menghubungi dua kali.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang laki-laki dan perempuan mengetok ruang rawat.
Farhan memakaikan jilbab bergo istrinya baru kemudian membukakan pintu.
"Waalaikumussalam, masuk Dik," jawab Farhan. Ternyata tamunya Dika dan Indah.
"Silahkan duduk, maaf ya, ini disambi nyuapin bumil," ujar Farhan kembali ke tempat tidur Anisa.
"Iya nggak papa, lanjutin aja nggak papa," jawab Dika.
Kedua tamu itu sudah duduk manis di sofa yang ada. Farhan melanjutkan menyuapi Anisa dan sesekali dirinya sendiri karena memang belum makan dari tadi. Dika sempat membelikan baby cumi tadi, sebelum mengantarkan Anisa ke rumah sakit. Keturutan juga.
Farhan tampak asik berbincang pada Dika. Karena dulu mereka memang satu geng ditambah Kak Ical. Oh iya! Wanita itu belum tahu jika sebenarnya Anisa adalah adik dari Faisal Alghifari.
"Selamat siang, bu Anisa sebaiknya istirahat ya, supaya cepat pulih dan diperbolehkan pulang," ujar suster memasuki ruangan.
"Kami pulang saja kalau begitu, biar Anisa bisa istirahat," ujar Dika.
"Nggak papa, di sini aja nemenin Mas Faridz. Saya nggak terganggu kok," ujar Anisa. Padahal mereka baru sampai, masa sudah mau pulang.
"Iya, kalian enakin saja di sini," sambung Farhan.
Anisa tampak memperhatikan wanita yang duduk di samping Dika. Tampak ia sedari tadi memperhatikan suaminya. Tidak bisa dibiarkan ini mah! Anisa menarik tangan Farhan dan diletakkannya di pelipis. Farhan tentu saja tahu maksud istrinya. Farhan mengelus lembut alis Anisa. Kebiasaan dari dulu memang jika dirinya tak bisa tidur.
Benar saja Anisa langsung mangantuak dibuatnya. Ekor mata Anisa melirik pada Indah. Ingin rasanya ia tertawa terbahak. Jelas sekali raut wajah tak sedap dipandang itu. Puas? Tentu saja belum.
Anisa memiringkan tubuhnya dan memeluk kaki Farhan yang kini berselonjor di samping Anisa. Tempat tidur Anisa cukup besar untuk berdua. Ntahlah, bisa-bisanya ada rumah sakit berkelas hotel seperti ini.
...Bersambung... ...