Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
SMS Itu


Kegiatan masak memasak masih berlanjut. Farhan dengan telaten mengiris dan mengulek. Padahal ada blender. Supaya lebih terasa cita rasanya katanya.


"Lho! Kok udah pada dirumah?". Ujar Bunda kaget setelah melihat Anisa dan Farhan di dapur.


"Iyaa tuh mas Faridz ngajak makan di rumah katanya. Padahal katanya tadi Bunda udah pulang duluan". Jawab Anisa. Farhan cengengesan sambil mengaduk masakannya.


"Farhan ya gitu orang, hahaha. Ya udah kalian lanjutin. Bunda mau Ayah kurung dikamar". Ujar Ayah yang baru masuk.


"Ayah ma, sa aee". Ledek Anisa. Ayah dan Bunda berlalu ke kamarnya setelah meletakkan belanjaan di meja makan yang tadinya di mobil Ayah.


Anisa mengambil kantong yang lumayan banyak isinya. Ternyata ia berbelanja banyak sekali tadi bersama Bunda. Disusunnya belanjaan makanan di kulkas sambil menunggu Farhan.


"Udah jadi yang, yuk makan". Ajak Farhan.


"Hmmm, tidak buruk untuk urusan aroma dan plating". Ujar Anisa menghampiri Farhan yang sudah duduk di meja makan.



"Jangan ngledek yang, ini enak. Dijamin deh. Gak kalah sama ala restaurant". Ujar Farhan.


"Pengen nyobain". Lirih Anisa.


"Hahaha, sok mangga atuh". Jawab Farhan ala-ala bahasa sunda.


"Adek ambil piring dulu, okee". Ujar Anisa mengambil piring dan bergegas mencicipi masakan Farhan.


"Emmm, enak bangeet. Gak nyesel deh tadi gak ikut makan Ayah sama Bunda". Ujar Anisa setelah suapan pertama.


"Jangan ngomong kalau lagi makan. Gak bagus". Ujar Farhan mengingatkan. Anisa membalasnya dengan cengiran. Sesekali Anisa menyuapi Farhan.


Farhan memandangi wajah istrinya yang tengah semangat menghabiskan masakannya. Senyumnya itu lhoo. Bikin gemes. Apalagi belepotan saus diwajahnya itu. Hahaha, macam anak kicik baee.


"Makan maas". Ujar Anisa.


"Suapin lagi doong". Jawab Farhan.


.


.


.


.


.


.


Siang ini Anisa dan Farhan tengah menonton tv diruang keluarga. Mumpung Ayah dan Bunda di kamar. Mereka bisa bebas mesra-mesraan di depan tv. Hari libur itu dimanfaatkan untuk leyeh-leyeh. Hahaha. Mereka berdua iya libur. Sedangkan Lhu-lhu harus up ditengah tugas UAS yang menumpuk. Sekolah daring begitu meresahkan yaa bun? Mana diburu-buru sama orang banyak disuruh cepet up -_-. Hahaha, malah curhat.


"Mas, aku mau angkat jemuran deh. Ntar numpuk". Ujar Anisa bangun dari tidurnya yang berbantalkan paha Farhan.


"Mas bantu angkatin". Ujar Farhan mengikuti Anisa yang berjalan menuju balkon atas tempat menjemur baju.


Anisa tak menolak, justru ia senang. Tak capek-capek mengangkat. Hahaha.


Farhan tak melarang Anisa yang berinisiatif mengurus perlengkapannya sendiri. Awalnya ia sempat ragu dengan tindakan Anisa. Ternyata hal ini juga atas didikan keluarganya.


"Baju Anisa sama Mas Faridz gak usah Mbak, biar Anisa ajah yaa". Ujar Anisa mengambil alih bajunya yang hendak diangkat oleh salah satu pekerja di mansion ini.


"Kamu angkat punya Ibuk sama Bapak saja yaa, biarkan punya saya dan istri saya". Sambung Farhan.


"Baik den. Permisi". Pamitnya.


"Sini mas bawain". Ujar Farhan mengambil alih dari tangan Anisa.


"Kalau sama Mas, adek gak nolak. Hehehe". Jawab Anisa.


Farhan mengacak rambut Anisa yang masih berbalut jilbab.


.


.


.


.


Farhan? Jangan tanyakan. Kini ia tengah menghadap pacarnya yang sesungguhnya. Sepertinya hari tak lengkap, jika tak menghadap laptop.


"Mas keluar dulu ya?". Pamit Farhan.


"Mau kemana Mas?". Tanya Anisa.


"Ada yang mau dibicarakan sama Ayah, bentar aja kok. Nanti kesini lagi". Jawab Farhan berlalu dari kamar untuk menemui Ayah.


Di ruang Baca.


"Ada tanda apa lagi?". Tanya Ayah to the point pada Farhan.


"Ini Yah". Jawab Farhan dengan menunjukkan sebuah kotak masuk.



"R?". Ayah heran melihat tanda itu.


"Dia mulai main-main, Farhan. Kamu harus siap siaga". Sambung Ayah.


"Apa perlu Ayah siapkan bodyguard?". Tanya Ayah memastikan.


"Farhan rasa jangan dulu Yah, Farhan bingung bagaimana jika nanti Anisa bertanya masalah ini". Lirih Farhan.


"Ayah juga tak menyangka jika dia masih mempunyai dendam busuk seperti ini. Yang jelas kamu harus jaga menantu Ayah. Jaga diri kamu juga". Pesan Ayah dan berlalu meninggalkan Farhan.


Dihempaskannya tubuh Farhan di sofa. Ia baru saja memulai dengan Anisa. Kenapa harus ada ujian seperti ini. Kasihan Anisa. Diusapnya kasar rambutnya.


Tiba-tiba bergetar gawai Farhan. Beberapa kali ia berdeham untuk menetralkan suaranya sebelum menjawab telpon.


"Ehm! Ada apa sayangku? Baru aja ditiggal udah kangen ajah". Jawab Farhan.


"Iyaa-iyaa, mas ke kamar. Assalamu'alaikum istriku". Jawab Farhan.


Farhan bergegas naik ke kamarnya. Tak didapatinya Anisa disana. Dimana ia?


Oh! Ternyata sedang di balkon.


"Sudah selesai beresin bajunya?". Tanya Farhan dengan memeluk Anisa.


"Udah mas". Jawab Anisa.


"Mas, kata Kak Ical Mas Faridz punya tabungan hafalan ya?". Tanya Anisa.


"Alhamdulillah, ada sedikit". Jawab Farhan dengan senyuman manisnya.


"Adek mau dong simakin Mas Faridz. Masak Mas terus yang bantuin Adek lalaran? Gantian dong". Ujar Anisa berbalik menghadap Farhan.


"Boleh, yuk wudhu dulu". Ajak Farhan.


Anisa menurut. Setelah wudhu, mulailah Farhan melantunkan ayat demi ayat dalam Al-Quran dengan Anisa yang menyimak.


Bersambung...


#Maaf ya gaesss, lhu-lhu baru up. Hari-hari ini disibukkan dengan UAS.


UAS terus sih? Mungkin ada diantara kalian yang berfikir seperti itu. UAS ku bukan UAS sembarangan gaeesss. Selama pandemi tugasnya lebih menantang. Hehehe. Jadi harap maklum yaaa....


Maaf lhu-lhu hanya dapat up sedikit. 🙏🙏🙏


Ini aja dipaksain buat nulis,biar kalian gak kabur dari bacaan ini. Yaaaa! walaupun sebenarnya lelah banget seharian didepan laptop. 🙏🙏🙏


Gaeesss, setelah part ini ada part lagi. Ke up 2X. Di skip ajah yang kedua. Besok kalau sempat diperbaiki lagi., 🙏🙏🙏


Love youuuuu


😍😍😍


😘😘😘😘😘😘