Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Masalah Lagi!


Di sepertiga malam terakhir Farhan terbangun. Bukan karena Anisa, melainkan suara kokokan ayam yang sangat nyaring milih warga di sebuah perkampungan belakang Universitas. Posisi mereka berdua masih sama. Anisa masih berada di dekapan Farhan.


Cup! Kecupan mendarat di pipi mulusnya. Hati Farhan masih merasa sakit perihal semalam. Melihat wajah Anisa yang teduh, damai ini membuatnya semakin bersalah.


Farhan mengelus lembut pelipis sang istri agar bangun. Perlahan Anisa menggeliatkan tubuhnya. Melihat sang suami sekilas, ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang itu. Jangan ditanya betapa bahagianya Farhan. Itu berarti sang istri sudah memaafkannya.


“Tahajud yuk?” Ajak Farhan. Anisa membuka matanya dan mengangguk.


“Mau ke kamar mandi bareng?” Tanya Farhan sekalian menggoda. Anisa melotot mendengar ucapan Farhan. Anisa mengibaskan tangannya mengisyaratkan agar Farhan ke kamar mandi.


Farhan tertawa dibuatnya. Ia segera beranjak dari ranjang ternyaman itu. Farhan keluar dengan menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Ia sekalian mandi ternyata. Melihat sang suami hanya mengenakan handuk membuat Anisa jengah. Ia segera bergantian ke kamar mandi.


Lima menit, 10 menit, Anisa belum keluar juga.


Cklek!


Anisa juga mandi ternyata. Untung masih ada jam untuk sholat tahajud.


“Mas sholat sendiri,” Ujar Anisa.


“Udzur?” Tanya Farhan. Anisa mengangguk dengan cengiran khasnya.


Hufft... akhirnya salat sendiri deh. Teringat dengan makanan yang dianggurin semalam Anisa mengecek ke dapur. Ternyata Farhan telah menyimpannya di dalam kulkas.


Anisa memilih untuk memanasinya. Mubadzir jika dibiarkan saja. Setelah memanasi makanan, Anisa memilih untuk kembali ke kamar. Berniat untuk merapikan baju yang dikenakannya dan Farhan semalam.


“Nanti aja dek, Mas mau ngomong dulu,” Farhan menahan tangan Anisa. Menuntun agar duduk di pinggir ranjang.


Digenggamnya kedua tangan Anisa. Dingin dan gemetar. Itulah yang dirasakan Anisa. Ia hanya memandangi Farhan yang juga memandangnya. Tentu saja ia menunggu penjelasan Farhan.


“Mas gak tahu harus meminta maaf seperti apa agar dimaafkan,” Lirihnya. Anisa masih setia dengan kebisuannya.


Farhan menjelaskan semua yang ia ingat kepada Anisa. Ekspresi yang ditunjukkan Anisa hanya mempeng-mempeng ajah. Ekspresi yang menyebalkan. Hahaha.


Kalian tahu mempeng-mempeng ajah gak sih? Maksudnya itu ekspresi yang datar gitu lho gaeeesss!


“Jawab dong Yaang,” Rengek Farhan.


“Jawab apa? Harus nunjukin ekspresi apa?” Tanya Anisa. Hembusan napas kasar yang ditunjukkan Farhan.


“Adek sakit banget sebenarnya Mas, dari sore sampai hampir tengah malam,” Lirih Anisa.


Tak tahan melihat kesedihan Anisa, Farhan segera memeluknya dengan erat.


“Maaf, maaf, maaf,” Lirih Farhan. Hanya itu yang dapat dicapkannya. Tak ada yang lain. Perlahan Anisa membalas pelukan Farhan. Acara pelukan pun terselesaikan sebab adzan subuh telah berkumandang.


“Udah ah, Mas salat dulu aja,” Ujar Anisa dengan menyeka air matanya dibantu Farhan.


Demi apa! Farhan juga menangis ternyata.


“Jangan nangis.. Mas lucu kalau nangis,” Lirih Anisa. Farhan mengusapnya dengan kasar. Tak berarti apa-apa menurutnya air mata itu. Yang lebih menyakitkan adalah air mata sang istri.


“Mas salat dulu,” Ujar Farhan.


Anisa memilih untuk lalaran sembari menunggu Farhan. Suasana subuh begitu menenangkan. Dittemani dengan suara ayam jago dimana-mana. Karena memang universitas ini berada di dekat pemukiman warga. Lukisan fajar sidiq membentang langit gelap itu. Menambah kesyahduan suasana hati.


Anisa duduk disebuah kursi balkon sembari menikmati suasana pagi. Terdengar para warga yang berbondong-bondong berjalan. Sesekali menyapa tetangganya yang kebetulan berpapasan. Suasana pedesaan yang masih kental. Terlihat mereka ada yang membawa peralatan sawah, kebun, hingga para ibu-ibu yang membawa tas anyaman khas bawaan ke pasar. Tak hanya itu, angkringan sarapan pagi sudah mulai berjejer ditiap gang untuk menjajakan makanan handalan mereka.


“Sayang?” Panggil Farhan.


“Iya Mas,” Jawab Anisa.


“Sini Mas simak,” Ujar Farhan.


Lalaran Al-Quran dengan menikmati cahaya fajar hingga mentari pagi menyinarkan cahaya handalannya. Sungguh indah. Meskipun sinar mentari itu menerpa wajah elok Anisa dan Farhan, tak mengalihkan pandangan mereka dari sinar tak kalah elok itu. Seolah tengah beradi pandang antara Farhan, Anisa, dan sang mentari.


“Masyaallah,” Gumam Anisa.


Farhan meletakkan Al-Qur’an di atas meja kemudian mendekatt pada sang istri. Dirangkulnya dengan penuh kasih sayang.


“Sarapan dulu yuk Mas,” Ujar Anisa setelah menyiapkan makanan.


“Siap komandan!” Jawab Farhan dengan mengangkat tangannya hormat.


Diikutinya sang kekasih menuju meja makan.


“Maaf Adek gak masak, makanan kemarin masih utuh,” Lirih Anisa sembari meletakkan makanan yang masih ada di kulkas. Ini kulkas yang khusus penghangat makanan yaak.


“Iya, gak papa Yaang. Gara-gara Mas juga adek gak makan malam,” Ujar Farhan. Anisa tersenyum simpul.


“Mau yang mana?” Tanya Anisa.


“Mau semuanya! Tapi sepiring berdua,” Jawab Farhan.


“Oke!” pagi ini diwarnai dengan kondisi hati yang cukup baik antara dua sejoli itu. Kejadian semalam bukan murni kesalahan Farhan. Anisa mencoba memahami keadaan semalam. Ia harus percaya! Toh kata para ilmuan percaya itu kunci utama dalam sebuah hubungan. Boro-boro kata ilmuan. Lhu-lhu gak pernah tuh lihat artikel para ilmuan yang menyatakan hal itu! Bukan hanya kata ilmuan! Tapi kata ibu-ibu komplek sebelah!


Selepas sarapan Farhan memilih untuk mengecek data-data di laptopnya. Tentu saja diruang kerjanya. Terpisah dengan Anisa yang kini hendak membereskan baju semalam.


Aneh! Kenapa ada bau parfum cewek? Ini bukan bau parfumnya. Pikir Anisa. Parfum Anisa lebih lembut dari bau ini.


“Ah! Mungkin juga gara-gara makan malam dengan rekannya semalam,” Gumam Anisa memasukkan kemeja Farhan ke bak.


Deg! Mata Anisa tertuju pada noda merah dibagian bahu Farhan. Ini bekas apa! Untung saja belum masuk pada genangan busa itu. Anisa mengambil kembali kemeja Farhan. Dengan wajah merah padam ia menghampiri Farhan yang tengah fokus pada laptop kerjanya.


“Ini noda apa Mas!” Ujar Anisa tiba-tiba.


“Noda?” Tanya Farhan bingung.


“Oooh ituu, itt.” Ucapan Farhan terpotong.


“Kenapa ada lipstik di bahu kamu!” Tegas Anisa.


“Tunggu-tunggu, tenang ya sayang. Ittu,” Dan terpotong kembali.


Anisa meninggalkan Farhan dengan perasaan dongkol sedongkol-dongkolnya. Segera ia memasuki kamar mandi. Ia ingin sendiri kali ini. Jangan ditanya lagi apa yang dilakukan Anisa. So pasti ia menangis.


Farhan menunggu Anisa keluar dari kamar mandi dengan perasaan cemas. Bagaimana ia bisa menjelaskan hal itu jika sang istri saja enggan berbicara. Sensitif bahasanya.


Cklek!


Sorotan mata Anisa begitu tajam pada Farhan. Hendak mendekati saja sudah dicegah oleh Anisa. Anisa tang mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menggnakan isyarat supaya Farhan menjauhinya.


Farhan menurutinya. Ia hanya duduk di pinggiran ranjang memandangi sang istri yang tengah memakai jilbab. Sepertinya ia akan pergi ke kelasnya lebih awal. Disambarnya tas jinjing di atas meja dan berlalu meninggalkan Farhan.


Huufft. Hembusan napas berat yang keluar dari bibirnya. Farhan memilih untuk mandi. Sembari memikirkan cara untuk membujuk sang istttri. Baru saja baikan masak sudah bertengkar lagi? batal deh menjadi pagi yang harmonis.


.


.


.


.


“Lho harus bantuin gua jelasin ke bini gua!” Tegas Farhan di hadapan Cipto.


Kini mereka tengah berada di ruangan Farhan. Tentu saja Farhan yang mendesak Cipto agar ke ruangannya.


“Jelasin apa? Toh kejadiannya ada di ruangan elu,” Jawab Cipto.


“Lho jelasin kejadian yang ada di ruangan Elu. Gua yakin, Anisa saat ini kembali meragukan penjelasan Gua. Setelah dia percaya, baru deh gua jelasin masalah noda merah itu,” Ujar Farhan.


“Ya ya ya! Serah Lu dah! Gua ngikut. Atur waktunya. Gua mau ngurus laporan-laporan dulu,” Jawab Cipto dan berlalu meninggalkan Farhan.


Bahkan Farhan sampai datang telat menuju kelasnya gara-gara berbicara dengan Cipto terlebih dahulu. Masa bodoh kalau ada yang bilang ia tidak profesional terhadap pekerjaanya. Anisa lebih penting dari segalanya!


Bersambung.....