Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Pembimbing Rasa Teman


Selepas sholat zuhur, Anisa masih melakukan bimbingan untuk kedua mahasiswanya. Tampaknya mereka lebih santai kali ini. Kedua mahasiswa itu sudah tidak canggung lagi pada Anisa. Sesekali mereka bercanda untuk merileksasikan pikiran.


Farhan belum selesai dengan rapatnya. Itu juga menjadi alasan mengapa kedua mahasiswa itu belum pulang.


"Kalian sudah capek belum?" Tanya Anisa.


"Emm, lumayan sih Mbak, tapi kami gak sumpek kok. Asik bimbingan sama Mbak Anis," Ujar Salah satu dari mereka.


Anisa memaksa agar mereka tak memanggil Ibu, ia rasa mereka tak jauh berbeda perihal umur.


"Udah aja ya, istirahat dulu. Kasihan sama otak kalian," Jawab Anisa. Akhirnya kedua mahasiswa itu setuju. Mereka merapikan bawaan mereka agar meja kembali rapi.


Anisa beranjak menuju kulkas mini milik suaminya. Diambilnya beberapa cemilan, karena yang dibawa mahasiswanya tadi sudah kandas.


"Kalian jangan pulang dulu ya," Pinta Anisa setelah meletakkan cemilan di meja.


"Siap Mbak, tenang ajah. Kami nungguin Pak Rektor kok,"Jawab mereka.


Tok! Tok! Tok!


Anisa beranjak kembali untuk membuka pintu.


"Permisi Mbak, ini pesanan makanan dari Pak Rektor," Ujar tanu itu.


"Oh iya, makasih ya," Jawab Anisa.


Ia membawa nampan yang cukup besar itu di meja tempat para mahasiswanya duduk. Jangan ditanya bagaimana ekspresi mereka. Melongo! Mereka melongo melihat makanan yang tidak pas jika dibilang sedikit. Mana enak-enak lagi!


"Pak Rektor sudah selesai ya mbak rapatnya?" Tanya Ningsih.


"Belum, katanya sih jam tiga-an selesainya. Kalian ada kesibukan lain?" Tanya Anisa, takut jika sangat merepotkan kedua mahasiswinya.


"Ndak kok Mbak! Lagi free, hehehe" Jawab Wanda.


"Kalian kan belum makan siang, Lha, Pak Rektor pesankan kita makanan. Biar gak repot-repot cari lagi," Anisa mengambil sendok dan air.


"Kami ngrepotin Mbak," Ujar Wanda dengan Lirih.


"Mana ada ngrepotin? Justru saya yang mengganggu waktu kalian buat temenin saya. Saya takut mengganggu kalian, tapi jika membiarkan kalian pulang, Pak Rektor pasti heboh nanti," Jelas Anisa.


"Pak Rektor ternyata sosweet banget ya Mbak? Gak nyangka kami," Puji mereka pada suami wanita di hadapannya. Anisa hanya mengulum senyuman.


"Kita makan ya, jangan sungkan. Anggap saja saya teman jika di luar perkuliahan," Ujar Anisa.


Mereka menghabiskan makanan itu hingga tuntas. Sudah tak ada canggung sama sekali kali ini. Bahkan mereka tiduran di sofa sambil menonton tv.


"Ruangan Pak Rektor besar banget Mbak, ada dapur mininya juga pula," Ningsih dan Wanda masih saja terkagum-kagum dengan interior ruangan Farhan. Mereka sempat masuk di dapur mini yang sangat rapi dan indah di sebuah ruangan itu.


"Iya, sengaja saya minta buatkan dapur mini. Hampir setiap pagi sampai sore dia selalu di kampus.Bahkan di hari libur. Dia tidak akan membiarkan saya lepas sendiri. Jadi, kalau saya bosan di rumah dan ikut ke sini tidak akan bosan, saya bisa memasak di dapur itu," Jelas Anisa.


"Hmmm, coocweet! Pengen masak sama Mbak deh!" Celetuk Ningsih.


"Boleh, kapan-kapan ya," Jawab Anisa.


.


.


.


Para mahasiswa itu bergegas merapikan penampilannya. Rasa canggung itu muncul ketika sang Rektor datang. Tak sopan jika mereka tiduran bahkan bercanda bagaikan teman sang Ibu Rektor.


"Wa'alaikumussalam," Jawab mereka.


Anisa menghampiri Farhan dan mencium tangannya.


Cup!


Farhan mengecup kening Anisa.


Hal itu tak luput dari pandangan dua mahasiswa itu.


"Terima kasih ya, sudah menemani istri saya," Ujar Farhan dengan duduk di sisi Anisa.


"I-iya Pak, terima kasih juga atas sajiannya," Jawab Wanda dengan gagu. Sedangkan Ningsih hanya tersenyum dan mengangguk setuju atas jawaban sang teman.


"Kalian kenapa canggung begitu? Saya lihat, tadi kalian bisa santai berinteraksi dengan istri saya," Mereka tampak melongo. Dari mana Rektor mereka melihat? Perasaan baru saja masuk?


Anisa memukul lengan Farhan memberi isyarat. Farhan mengambil gawainya dan mempelihatkan CCTV di ruangannya.


Blussh!


Malu, itulaahhh yang mereka rasakan.


"Tidak apa, bukannya saya tidak percaya dengan kalian. Tapi saya hanya memastikan kalian bertiga nyaman. Sudah, itu saja" Farhan menjelaskan


"Kalian bersikap biasa saja, saya senang dengan sikap bar-bar kalian, Istri saya jadi tidak bosan. Hahaha." Sambungnya.


Tuliluut!


Gawai Anisa berbunyi.


"Assalamu'alaikumn,"Anisa menjawab telepon itu.


"Apa! Iya-iya, Anisa dan Mas Faridz segera ke sana. Share lok yas? Ya! ".


"Kenapa yaank?" Tanya Farhan.


"Kak Aiys mau lahiran Mas," Jawab Anisa dengan panik.


"Ayo kita ke sana sekarang. Kalian, terima kasih ya sudah membantu saya hari ini. Maaf jika harus kami tinggal " Ujar Farhan.


"Iya Pak, Sama-Sama... Kami juga sangat berterima kasih atas kesempatan ini. Kami senang bisa dekat dengan Mbak Anisa". Jawab mereka.


Setelah saling berpamitan, mereka melanjutkan rencana masing-masing. Anisa dengan kecemasannya mengajak Farhan agar buru-buru. Dan Farhan mencoba menenangkan. Kedua mahasiswi Anisa sudah berlalu entah kemana.


Bersambung....