Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Lhu-Lhu Come back


Mentari pagi sudah bersinar di ufuk timur. Menyorotkan sinarnya hingga tembus di celah-celah jendela kamar Anisa. Tapi sang empu masih saja enggan untuk beranjak. Sejak setelah subuh tadi kepalanya pusing tak ketulungan. Padahal sebelumnya Anisa tampak sehat bugar jasmani rohani. Mungkin karena kemarin sempat kehujanan saat dari gedung A ke gedung B kampus.


Farhan sudah siap dengan setelan kerjanya. Disentuhnya dahi sang istri. Sedikit hangat. Tadi sudah ia berikan obat resep dari dokter khusus Anisa. Tapi, ia masih tak tega meninggalkan sang istri.


Bunda menghampiri Farhan yang duduk di sisi ranjang. Bahkan Farhan tak menyadari kapan sang Bunda masuk.


"Tetap mau ke kampus ta?" tanya Bunda menepuk lembut pundak Farhan.


"Nggak tahu Bun, tapi nanti ada rapat kerjasama dengan Universitas Indonesia," jawab Farhan bimbang.


Anisa tampak beringsut memeluk lengan Farhan. Farhan tampak memandangi Bunda meminta solusi.


"Makanya jangan diajak hujan-hujanan," imbuh Bunda.


"Biar Ayah saja yang ke kampus," ujar Ayah yang sudah siap dengan kemeja dan jas formalnya.


Farhan merenges melihat kebaikan sang Ayah. Ia bisa menemani Anisa di rumah.


.


.


.


Sedari tadi Anisa belum makan. Masih pusing katanya. Tapi tak sepusing satu jam yang lalu.


"Kok nggak ke kampus Mas?" tanya Anisa dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Ayah yang gantiin, nggak tega mau ninggalin bumil yang lagi sakit," jawab Farhan.


Anisa mendusel pada pelukan Farhan. Malas hendak bangun. Hangat! Sangat nyaman.


"Belum makan lho Yank, makan dulu yuk!" ajak Farhan.


"Atau mau Mas bawakan ke kamar?" tanya Farhan lagi.


"Nggak, mau ke ruang tv aja. Tapi mandi dulu ya," jawab Anisa.


"Oke, biar Mas bantu siapkan air hangat," ujar Farhan beranjak ke kamar mandi.


.


.


.


"Ambil sendiri sana lhoo!" ujar Farhan pada adiknya.


"Ya Allah, pelitnyeeee abangku ini," ledek Husna.


"Judulnya apa Kak?" tanya Husna pada Anisa.


"Nggak tahu, lupa apa tadi," jawab Anisa.


"Bosen kak, pengen jalan-jalan," lirih Husna menyender pada Anisa.


"Kak Anisa lagi demam, nggak usah macam-macam," jawab Farhan.


Sontak Husna mengerucutkan bibirnya, merasa sebal.


"Gimana kalau kita babymoon sekaligus ajak yang lain liburan?" tanya Anisa mengedipkan matanya gemas.


"Adek udah enakan kok Mas," sambungnya lagi.


"Nanti Mas atur dulu ya, Mas tanyakan dokter Eva, dan coba kosongin hari," jawab Farhan.


"Giliran tuan putri yang minta, langsung dikabulin," celetuk Husna. Anisa tersenyum melihat kecemburuan sosial itu.


"Ajak Wardah sekalian Mas, sama Mas Eza," timpal Anisa.


"Oke! Nanti Mas hubungin Eza." jawab Farhan.


Husna berbinar seketika mendengar nama Eza disebut. Tapi ia ingat dengan foto yang ia temukan di sosial media Eza, ia ingin menyelediki siapa wanita itu. Meskipun ia mengira jika itu Kak Wardah, tapi ia ingin memastikannya lagi. Begitu penasaran rasanya jika belum terjawab kebenarannya.


Ia tampaknya sudah mempersiapkan hatinya jika itu benar-benar sahabat dari kakaknya. Memang akan sakit jika kita terus meyelidiki urusan hati yang membuat kita pinisirin. Tapi ia juga tak puas jika tak mengetahui sampai akar-akarnya.


...Bersambung.... ...


Maaf ya gaess, Lhu-Lhu belum bisa menamatkan atau melahirkan si kembar.... Lhu-Lhu masih menyelaraskan dengan alur di novel Wardah. Tenang kok! Sebentar lagi debay kembar bakalan lahir. Kita tunggu saja bagaimana aktifitas Abi Farhan dan Bia Anisa meramut atau merawat debay kembar mereka.


Selain itu, Lhu-Lhu juga masih sibuk di dunia nyata. Sehingga kurang maksimal memikirkan alurnya.....


Mohon maaf yaaa....


Salam peluk untuk pembaca online kuuuu.....