
Masih berlatar di kampus nih. Farhan bersiap akan mengajar di kelasnya. Dilihatnya Anisa masih bersantai memainkan jarinya di laptop. Bukannya sekarang jam mereka sama?
"Kamu gak ke kelas dek?". Tanya Farhan menghampiri Anisa.
"Eh! Ngagetin aja dah. Ke kelas kok, tapi pada minta ganti jam. Ya udah deh, jadinya nanti". Jawab Anisa.
"Kenapa minta ganti?". Tanya Farhan.
"Banyak yang rapat HMJ katanya, ya udah aku nurut ajah. Lagian aku juga masih ada kerjaan nyiapin media buat mahasiswa BIPA. Hampir satu bulan gak ketemu mereka". Jawab Anisa.
"Ya udah, Mas ke kelas dulu". Pamit Farhan. Anisa mencium tangan Farhan.
"Uh! Cocwit banget sih Nis, aku jadi pengen manja-manjaan sama suami". Ujar Mbak Tias yang duduk tak jauh dari Anisa. Anisa hanya tersenyum membalas tanggapan Mbak Tias.
"Assalamualaikum, permisi! Selamat pagi". Sapa Bu Riska salah satu karyawan administrasi Universitas.
"Wa'alaikumussalam". Jawab para dosen yang ada di ruangan.
"Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar, saya disini akan menyampaikan perihal Ziarah Wali rutinan Universitas. Insyaallah akan dilaksanakan satu bulan lagi. Saya disini akan menunjuk 4 dosen sebagai bagian panitia. Saya menunjuk atas saran Pak direktur. Kepada Pak Ilyas, Pak Hasan, Bu Azizah, dan Bu Zahro dipersilahkan mengikuti rapat nanti sore. Kemudian, untuk Mbak Anisa. Alias bu Rektor, hehehe, sudah otomatis masuk dalam daftar Ziarah. Karena sudah satu paket dengan pak Rektor". Jelas Bu Riska panjang lebar.
Jangan lupakan raut wajah Anisa. Ia sudah salah tingkah disebut satu paket dengan suaminya. Apalagi melihat rekan dosen yang lain sudah memusatkan pandangan padanya dengan senyum yang ditahan.
"Awalnya saya mengusulkan agar Mbak Anisa jadi panitia, tapi Pak Direktur tidak mengizinkan. Beliau khawatir jika menantunya terlalu sibuk dan nantinya kelelahan. Baik hanya itu yang saya sampaikan, saya permisi dan Wassalamu'alaikum". Tutup Bu Riska meninggalkan ruangan.
"Hiya hiya hiya, satu paket sama pak Rektor". Ledek Mbak Tias.
"Mbaak, jangan gitu. Malu ah". Jawab Anisa kembali memusatkan kefokusannya pada dokumen yang diketiknya.
Karena merasa bosan di ruangan, Anisa memutuskan untuk jalan-jalan di perpustakaan. Kali saja ada buku yang menarik perhatiannya. Anisa berjalan dari gedungnya ke gedung perpustakaan. Anggap saja ini sebagai olah raga, karena pekarangan kampus memang luas.
Anisa memasuki perpustakaan dan memberikan kartu anggota kepada petugas. Peraturan di Universitas ini memang harus menggunakan kartu anggota agar dapat menikmati fasilitas perpustakaan yang ada.
Sudah menjadi kebiasaan Anisa sejak sekolah, pasti ia akan menghabiskan waktu di perpustakaan. Sudah lama rasanya ia tak berkunjung ke perpustakaan.
Disusurinya rak demi rak disibaknya buku demi buku. Sesekali di ambil dan dilihatnya detail buku itu.
"Nah! Pas nih buat mahasiswa BIPA". Gumam Anisa mengambil satu buku dan beranjak ke bangku yang sudah disediakan disana.
Mulailah ia membaca buku itu sesekali mencatatnya di notebooknya.
Farhan POV
Lagi ngapain yaa istriku? Kok aku pengen cepet-cepet selesai ini jam. Sabar Haan, 10 menit lagi berakhir kelas ini. Aku jadi gak fokus lihatin mahasiswa presentasi. Harusnya aku harus profesional. Anisa di chat gak dibalas pula.
"Pak? Pak? Pak Farhan?". Panggil seorang mahasiswa kepadaku. Kaget aku dibuatnya.
"Astaghfirullaah! Iyaa, bagaimana?". Jawabku.
"Sudah terjawab semua pertanyaan teman-teman, apakah bapak akan menambahkan penjelasan lagi?". Tanyanya.
Kubuka-buka sebentar makalah dari mereka. Pembahasannya sudah pas. Hanya saja susunan makalahnya kurang tepat.
"Pembahasan kalian sudah baik. Tolong diperbaiki penulisan artikelnya bagian pengutipan buku, penulisannya, daftar rujukannya juga diperhatikan. Sepertinya disini masih banyak plagiasi dalam hasil analisisnya, tolong diperbaiki ya. Empat hari lagi antarkan di meja saya, diruangan dosen FAI. Oke!". Jelasku.
"Siap pak!". Jawab mereka serentak.
"Baik, cukup sampai disini dulu pembelajaran kita. Semoga kalian selalu diberi keberkahan oleh Allah, saya akhiri Wassalamu'alaikum Wr. Wb". Tutupku dan berlalu dari kelas.
Beginilah aku. Selalu detail dalam penugasan mahasiswa. Tapi hari ini aku tidak begitu memperhatikan mereka. Jika biasanya aku mengomentari proses presentasi, kali ini tidak. Pikiranku masih tertuju pada Anisa. Lagi ngapain dia?
Kulangkahkan kaki dengan sedikit tergesa-gesa menuju kantor. Orang-orang menghindar dari hadapanku. Mungkin tahu jika aku sedang buru-buru. Sesekali mereka juga menyapaku. Mana gedungnya jauh banget pula.
CKLEK!
"Assalamualaikum". Sapaku ketika sampai di ruangan.
"Wa'alaikumussalam pak". Jawab mereka.
Lho! Mana dia? Kenapa kosong mejanya?
"Sepertinya tadi ke perpustakaan Mas Farhan". Ujar Mbak Tias sepertinya tahu jika aku mencari Anisa.
"Oalah, begitu ya Mbak. Saya menyusul sekalarang kalau gitu. Makasih mbak". Jawabku dan dibalas dengan senyuman.
Kulangkahkan kakiku menuju gedung perpustakaan. Kenapa jauh sekaliii! Aarghh! Istriku ini senangnya jalan-jalan banget.
"Ada yang bisa saya bantu prof?". Tanya petugas perpustakaan itu.
"Oh iya, istri saya ada di lantai berapa ya?". Tanyaku.
Kenapa tersenyum-senyum menanggapi pertanyaanku. Emangnya salah?
"Ada di lantai 3 prof". Jawabannya setelah melihat cctv pada teman sampingnya.
Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan ini. Manaa istriku tercinta? Nah! Itu dia. Tunggu! Dengan siapa dia? Kenapa mereka duduk berhadapan seperti ituu?
Cup!
"Assalamualaikum istriku". Sapaku setelah mendekatinya. Kulihat ia begitu kaget melihatku disampingnya.
"Wa'alaikumussalam mas, kok sudah disini?". Tanya Anisa.
"Mas gak boleh kesini? Dari tadi mas nyariin kamu lho". Jawabku masih berdiri disampingnya. Sesekali ku lihat lelaki di hadapan Anisa. Apa! Ternyata itu Haris! Beraninya dia masih mendekati istriku.
"Kita ke ruangan mas yuk". Ajak Anisa menggandeng tanganku. Sepertinya ia sudah tahu aku menatap tak bersahabat pada Haris.
"Adek balikin buku dulu yaa". Ujar Anisa.
Setelah mengembalikan buku kami kembali keruanganku. Ruanganku yang asli yaa, bukan ruangan di kantor Anisa itu.
Aku masih diam dengan Anisa yang menggandengkan tangannya padaku. Ia terlihat menunduk. Mungkin malu kami pacaran ditempat umum. Apalagi ini area pendidikan. Demi meredam amarahku ia rela menahan malunya. Hahahha, kenapa aku jadi kekanakan?
Klik!
Dikuncinya ruanganku agar tak ada yang mengganggu kami nantinya. Aku berdiri benyandar di meja kerjakku yang cukup besar.
"Mas marah sama Adek?". Tanyanya.
"Nggak". Jawabku lirih.
"Maas". Rengeknya mendekatiku.
"Maaas, jangan diem aja dong". Sambungnya.
Anisa mendekatiku dan memelukku.
"Kita tadi tuh gak ngapa-ngapain maas, Anisa gk respon kedia kok. Anisa gak balas omongan dia kok. Beneraaan, Anisa malah gak tertarik dengan Pembahasan dia. Anisa tadi fokus baca buku maas, dianya Anisa suruh pergi gak mau. Nanti kalau Anisa paksa dia pergi malah jadi heboh di perpustakaan. Awalnya aku mau pergi, tapi masnya udah duluan datang. Malah salah paham deh". Jelas Anisa.
Kubalas pelukannya dengan erat. Kutuntun ke 🛋 dengan posisi Anisa dipangkuanku. Dibenamkannya muka Anisa didadaku. Awalnya aku hanya ingin menguji bagaimana sikap Anisa jika aku pura-pura merajuk. Ternyata lucu sekali. Hahaha, aku cemburu dengan posisi mereka tadi. Tapi, aku masih bisa mengontrol.
"Mas gak marah, cuma pengen dengerin penjelasan istri Mas ajah" Jawabku.
"Anisa gak suka Mas diem aja". Lirih Anisa.
"Lho! Kok malah nangis sih? Mas gak maraah, beneran. Jangan nangis doong". Ujarku setelah merasakan tetesan air matanya di bajuku. Kueratkan pelukanku sesekali mengelus kepalanya.
"Jam ini kita ada kelas lho yang". Ujarku lembut.
Anisapun pindah duduk di sofa menghadapku.
"Ini gimana?". Tanyanya menunjuk kedua mata.
"Siapa suruh nangis". Jawabku.
Cup! Cup!
"Dah, gak kelihatan. Yuk ke kelas". Ajakku.
Ia mengangguk.
Kuambil beberapa perlengkapan mengajar di mejaku. Anisa telah siap dan sudah mencuci mukanya.
"Yuk! Habis zuhur mas masih ada rapat, sayangku mau pulang duluan atau nunggu mas?". Tanyaku dengan berjalan menuju lift.
"Mau nunggu aja, nanti aku diruangan mas ini". Jawabnya.
"Okee, mas rapatnya di lantai ini juga kok, disebelah ruangan Ayah". Ujarku.
"Lho! Disini ada ruangan lagi? Kirain cuma ruangannya mas aja". Jawab Anisa.
"Hahaha, kamu kurang mengelilingi kampus". Jawabku.
Kami berpisah di depan ruang kelas Anisa. Ruang kelasku terhalang dua kelas dari sini. Harapanku semoga aku bisa lebih fokus mengajar, tidak seperti tadi. Kasihan mahasiswaku tak mendapatkan ilmu yang maksimal.
Bersambung....
**Mohon maaf kemarin Lhu-lhu tidak up. Lhu-lhu ketiduran 🙈🙈
Biasanya Lhu-lhu up waktu sebelum tidur.
Lhu-lhu tidak bisa memastikan kapan up. Sebab kegiatan Lhu-lhu juga tidak menentu.
Lhu-lhu harus mengerjakan beberapa tugas online yang itu pasti dituntut deadlinenya. Lhu-lhu akan up jika sudah luang waktunya, mohon maaf tidak bisa memberikan kepastian jadwal up**...