Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
Talking Pillow


Anisa dan Farhan kini tengah menikmati martabak di balkon kamar mereka. Anisa tampak menyenderkan kepalanya pada pundak Farhan. Nyaman, sangat nyaman sekali.


Farhan juga membuatkan susu untuk Anisa. Ya! Setiap hari, Farhan akan membuatkan susu ibu hamil untuk Anisa. Ia sudah paham betul kapan saja Anisa perlu minum susu.


Merebahkan kepala pada kaki memang sangat nyaman. Seperti saat ini, Farhan sudah berbaring dengan menghadap pada perut Anisa. Dielusnya dan diciumi berkali-kali.


"Anak-anak Abi sehat-sehat di sini yaaa... Jangan susahin Bia," Ujar Farhan.


Anisa mengelus lembut rambut Farhan dengan senyuman yang mengembang. Di saat seperti ini, tak jarang ia memikirkan Wardah. Ia selalu berdoa, semoga sahabatnya itu lekas mendapatkan jodoh yang terbaik.


"Kak?" Panggil Husna yang ternyata baru bangun. Tampak ia tengah mengucek matanya.


"Molor aja terus! Lihat tuh bantalnya banyak iler," Goda Farhan pura-pura marah.


"Mana ada? Husna nggak pernah ngiler yaaa! Sory!" Balas Husna. Ia mendekati kakaknya dan mencomot makanan di meja itu.


"Nanti kak Anisa bo-" Ujaran Husna terpotong.


"Nggak! Nggak boleh! Kamu kalau pulang gak usah nyulik-nyulik milik kakak dong dek! Nggak usah ngajak perang!" Potong Farhan dengan kesal.


"Hehehe! Iya-iya, nggak deh... Serem ah! Kalau udah ngambek beneran." Jawab Husna yang kini duduk di sisi lain Anisa.


Farhan kembali merebahkan kepalanya di kaki Anisa. Ia tadi sempat duduk karena cekcok dengan adiknya. Sedangkan Husna menyender pada pundak Anisa. Benar-benar kedua kakak adik ini, sama saja resenya.


"Mau adek masakin nggak Mas? Belum makan siangkan?" Tanya Anisa dengan masih mengelus lembut rambut Farhan.


"Nggak usah Yang, nanti aja kita masak bareng yaa?" Ajak Farhan.


"Iyaa," Jawab Anisa.


"Aku ikut!" Sambung Husna.


"Ngintil aja sih kamu!" Gerutu Farhan.


.


.


.


"Kapan kunjungan dari Thailand ke universitas kita Mas?" Tanya Anisa pada Farhan sebelum mereka tidur.


"Emm, kalau jadi sih minggu depan." Jawab Farhan dengan menarik Anisa menenggelamkan dalam pelukannya.


"Siapa aja yang datang?" Tanya Anisa.


"Pimpinannya sama rombongan... Tumben kamu tanya-tanya soal ginian,"Heran Farhan.


"Ayana juga berarti," Ketus Anisa.


"Alah Ya Allah, kamu jealousy ya? Hahaha, aku nanti bakalan ngajak kamu sayangku, jadi bisa sama Mas seharian," Ujar Farhan.


Anisa semakin mengeratkan pelukannya. Tak dapat di pungkiri. Ia memang sedikit khawatir dengan kehadiran orang itu. Mengingat beberapa waktu lalu ia melihat gelagat wanita itu mendekati Farhan. Untung saja waktu itu Anisa tengah video call.


"Kunjungannya setelah 4 bulanan kan Mas?" Tanya Anisa.


"Iya sayang, rencananya Ayah akan memberikan tiket refreshing untuk pihak Thailand. Nanti kita ikut juga, sekalian babymoon." Jawab Farhan.


"Nggak mau ah! Masak babymoon barengan sama kerjaan!" Protes Anisa.


"Haiisshh, tenang saja istriku yang cantiknya tak ada duanya... Ayah yang akan turun tangan, kita berdua bersenang-senang. Ayah sudah menyiapkan hotel yang lebih istimewa. Tentu saja tidak dengan tamu Ayah," Jelas Farhan.


Rasa sebal Anisa kini tergantikan dengan senyuman yang mengembang. Ayah memang ter-the best. Sepertinya Ayah tahu kekhawatiran sang menantu.


" Assalamu'alakum, selamat malam anak-anak Abi. Istirahat ya, jangan curigaan dengan Abi. Abi akan selalu setia dengan Bia," Ujar Farhan di depan perut Anisa. Anisa terkekeh melihat tingkah suaminya. Cup!


Tak tertinggal kecupan pada baby dan Bianya. Setelah dirasa Anisa tenang, tak ada beban pikiran, barulah Farhan mengajak Anisa tidur. Memeluknya dan mengelus lembut perut Anisa.


...Bersambung... ...