
Malam ini Umi tengah sibuk mempersiapkan hidangan makan malam. Bahkan kali ini makanan yang dihidangkan dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.
"Banyak banget sih mi? Nanti yang habiskan siapa?". Ujar Anisa yang juga membantu Uminya.
"Malam ini kan calon menantunya Umi mau datang, kamu siap-siap sana dek. Dandan yang cantik". Ujar Umi.
"Bisa-bisanya aku bantuin Umi dengan keheranan tanpa bertanya dari tadi. Huufft, kenapa coba aku pakai lupa kalau malam ini waktunya". Batin Anisa.
"Siap-siap sayaang". Ujar Umi.
"Iya mi". Anisa meninggalkan dapur dan bergegas ke kamarnya.
"Kak Anis?". Panggil Faiz.
"Hmm. Ada apa?". Jawab Anisa.
"Kok lemes banget sih. Mau ketemu calon suami tuh harus ceria". Ujar Faiz.
"Bisa diem gak?". Anisa mulai marah.
"Widih! Galak bener dah. Ya udah lah. Aku mau siap-siap juga. Ketemu calon kakak ipar". Goda Faiz.
"Faaiiizz". Geram Anisa. Faiz berlari ke kamarnya meninggalkan Anisa.
"Kenapa sih neng?". Tanya Abi. Anisa masuk ke kamarnya dan diikuti Abi. Mereka duduk disofa menghadap tv.
"Kemarin salah satu dosen di Universitas ada yang terang-terangan mau mengkhitbah Anisa bi". Ujar Anisa.
"Iyaa, Abi tahu kamu sedang dalam mode kebingungan. Kamu gak harus memutuskan sekarang neng. Kamu boleh minta waktu". Ujar Abi dengan mengelus kepala anaknya.
"Apakah Anisa bisa memutuskannya sendiri?". Tanya Anisa.
"Kamu punya Allah. Kamu punya Abi, Umi, kak Ical,Pak Kyai dan Bu Nyai". Jawab Abi.
Anisa memeluk Abinya, ia mulai tahu apa yang harus dilakukan.
"Kamu siap-siap, Abi juga mau siap-siap. Dandan jangan menor-menor. Anak abi udah cantik seperti ini". Ujar Abi. Anisa tersenyum dan mengangguk.
Setelah Abi pergi, Anisa memulai ritual mandinya dan bersiap-siap sekaligus sholat. Ketika Anisa sibuk dengan pemikirannya tiba-tiba Umi mengetok pintu.
TOK! TOK! TOK!
"Sayaang". Panggil Umi.
Anisa membuka pintunya.
"Masyaallaah, anak Umi cantik sekali". Puji Umi.
"Umii, Anisa takut". Jawab Anisa.
"Tidak apa-apa. Bismillahirahmanirrahim, Anak Umi pasti bisa. Ayo, kita kebawah". Ujar Umi.
Anisa menggandeng tangan Umi menuruni tangga. Hingga sampai ruang tamu Anisa mematung melihat tamu pada malam hari ini.
"Bunda, Ayah". Gumam Anisa.
Bunda tersenyum pada Anisa. Ia tahu, pasti Anisa begitu kaget jika ternyata....
Umi mengajak Anisa duduk diantaranya dan Abi. Di sana sudah ada Kak Ical. Sedangkan Faiz mengintip dari ruang tv bersama mbok Yem.
"Baik, mungkin kita bisa mulai". Ujar Faisal yang tak sabar.
"Bismillahirahmanirrahim. Nak Anisa, mungkin Abi sudah memberitahukan perihal perjodohan. Ayah tahu, kamu kaget dengan kedatangan kami. Dugaan kamu benar. Kami berniat menjodohkan kamu, Alya Anisa Azzahra dengan anak kami Muhammad Farhan Al-Faridz". Ungkap Pak Afif.
Anisa menggenggam tangan Uminya erat-erat. Sebelah tangannya Umi mengelus tangan Anisa untuk memberikan ketenangan.
"Perjodohan ini merupakan rencana kami jauh-jauh hari nak. Tak ada unsur paksaan. Kalian yang berhak memutuskannya. Tidak usah terburu-buru, tapi juga jangan terlalu lama untuk memutuskannya. Sudah sejak lama Abi dan Ayah ingin membicarakan ini. Alhamdulillah baru terlaksana saat ini". Sambung Abi.
"Ayah dan Abi berteman sudah sangat lama,begitu pula dengan Umi dan Bunda. Kenapa waktu awal bertemu di pesantren seolah-olah seperti orang tak kenal? Anisa ingin menanyakan ini, tapi tak berani," lirih Anisa.
"Hahaha, itu sengaja sayang. Agar menjadi kejutan! Tapi malah membuat kamu kebingungan memilih, waktu kamu keluar dari ruangan itu kami ngobrol-ngobrol sebenarnya. Hahaha" Ujar Umi.
"Bunda sama Umi sudah menyetujui hal ini, sekarang tinggal menunggu keputusan kalian berdua". Ujar Bunda kemudian.
"Ical juga udah setuju". Sambar Faisal. Abi menyentil kening Faisal.
"Farhan atau Anisa ada yang mau mengungkapkan sesuatu?". Tanya Ayah.
"Farhan... Farhan, setuju". Jawab Farhan.
"Alhamdulillah". Jawab para orang tua, Faisal, Fais. Bahkan Mbok Yem turut senang.
"Anisaa, Anisa, Anisa minta waktu dulu. Tidak lama Ayah, Abi, dua minggu saja?". Jawab Anisa dengan menunduk dan meremas jari Umi.
"Tidak apa-apa Anisa. Ini memang terlalu mengejutkan untuk kamu, kami akan menunggu kabar baiknya". Ujar Ayah.
"Kalau begitu lebih baik kita makan malam terlebih dahulu". Ajak Abi.
"Emm, Anisa boleh minta waktu sebentar dengan Mas Faridz?". Ujar Anisa.
"Boleh-boleh. Kalian ngobrol saja dulu. Kami ke meja makan terlebih dahulu". Ujar Ayah. Mereka meninggalkan Anisa dan Farhan sendiri.
"Mau ngobrol disini atau dimana?". Tanya Farhan.
"Kita ke teras saja mas". Jawab Anisa. Mereka duduk di ayunan besi samping teras depan.
"Kenapa Mas menerima perjodohan ini?". Tanya Anisa to the poin.
"Saya hanya mengikuti nasehat orang tua. Lagi pula untuk menerima seseorang kita hanya perlu melihat dari penampilan, agama, keluarga, dan akhlaknya? Saya rasa saya sudah menemukan kesesuaian itu pada dirimu". Jawab Farhan.
"Maaf mas, jika harus menunggu keputusanku". Lirih Anisa.
"Tidak apa-apa, saya maklum. Ini terlalu mendadak". Jawab Farhan.
"Mas, sebenarnya ada dua orang lagi yang memintaku dipinang". Ujar Anisa.
"Saya tahu. Cak Ibil kan? Tapi, satu lagi siapa?". Tanya Farhan.
"Pak Haris". Jawab Anisa.
"Pasti kamu sangat bimbang. Tapi saya percaya kamu bisa mengatasi hal ini. Saya ikhlas jika kamu tidak memilih saya". Ujar Farhan menunduk. Ia sadar jika saingannya cukup berat. Baik itu Pak Haris ataupun Cak Ibil.
"Huufft. Saya memang bimbang. Bagaimana bisa orang seperti saya ditunggu oleh kalian yang sungguh luar biasa. Saya merasa tidak pantas". Lirih Anisa.
"Jangan terlalu merendah. Tak ada yang sempurna di dunia ini kecuali sang pencipta. Saya juga merasa minder awal tahu kalau Cak Ibil meminta kamu. Tapi, saya percaya jika semua sudah diatur Allah". Ujar Farhan.
"Kak Anisa?". Panggil Husna.
"Lho! Ada kamu juga dek? Sini". Jawab Anisa dengan mengisyaratkan Husna duduk disampingnya.
Husna mengikuti perintah Anisa.
"Aku udah lama lho gak ketemu kakak". Ujar Husna dengan memeluk Anisa.
"Iyaa, kamu mau nginep disini malam ini?". Ajak Anisa.
"Boleh?". Tanya Husna.
"Boleh dong. Nanti biar kakak yang izin sama Bunda". Jawab Anisa. Husna tersenyum.
"Oh iya, Umi minta kak Anisa dan Kak Farhan ke ruang makan". Ujar Husna.
"Ya sudah, ayo kita ke sana. Ayo mas". Ajak Anisa.
Mereka makan malam bersama. Setelah makan malam mereka melaksanakan sholat isya' berjamaah.
Kini mereka tengah berbincang-bincang diruang keluarga.
"Bun, Husna boleh ndak nginep disini?". Ujar Anisa.
"Boleh dong. Husna beneran mau nginep?". Sambar Umi. Husna tersenyum manis kepada Umi dan Abi.
"Sudah. Kamu tidur disini saja. Gak usah minta izin Bundamu. Pasti sudah diizinkan". Sambung Abi.
"Terserah kamu Husnaa. Besok Kak Farhan biar jemput kamu". Ujar Bunda.
"Gak usah dijemput Bun, Husna biarin ikut aku studytour sama mahasiswa aja". Ujar Anisa.
"Boleh ya Buun?". Rengek Husna.
"Iyaa boleh. Asalkan jangan merepotkan Kak Anisa". Pesan Bunda. Husna mengangguk.
Kini Anisa dan Husna telah berada di kamar. Husna sudah terlelap setelah beberapa waktu lalu berbincang-bincang dengan Anisa. Anisa yang awalnya murojaah, kini mengakhirinya. Anisa mulai memejamkan matanya.
Jika hari-hari biasanya di sepertiga malam Anisa hanya sholat tahajud dan hajad, kini ia melaksanakan sholat istikhoro. Meminta petunjuk dari Allah. Kepada siapa ia harus memusatkan pilihannya. Ia harus benar-benar berhati-hati dalam memutuskan hal ini. Untuk menunggu azan subuh, ia memutuskan untuk murojaah Al-Qur'an.
Ia lihat Husna yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum. "Aku ingin kembali pada anak seusiamu Husna. Tak perlu memikirkan masalah percintaan. Hanya perlu memikirkan ilmu ilmu dan ilmu". Gumam Anisa.
Alhamdulillah, akhirnya suara azan berkumandang. Anisa membangunkan Husna dan mengajaknya sholat jamaah. Kemudian murojaah bersama.
Bersambung....