
Alih-alih hanya ingin menidurkan suami, eh malah ikutan tertidur. Televisi masih menyala dengan terangnya. Lampu utama juga belum diganti dengan lampu tidur.
CKLEK!
Seseorang memasuki kamar pasutri itu. Kepala mereka tergeleng melihat dua orang yang saling berpelukan itu.
"Untung kita masuk Yah, coba kalah gak? Bulan ini kita bayar listriknya mahal," Celetuk Bunda.
Ayah terkikik mendengar tuturan istrinya. Dimatikannya televisi dan mengganti lampu utama dengan lampu tidur.
"Yuk! Tidur yuk!" Ajak Ayah.
"Tunggu Yah! Bunda mau fotoin mereka dulu. Laporan buat Uminya Anisa," Bunda mengambil beberapa potretan kedua sejoli yang sudah pulas tertidur.Ayah hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.
"Nanti Ayah mau tidur kayak itulah Bun," Celetuk Ayah.
"Ingat umur," Jawab Bunda.
Ayah kembali terkikik mendengar jawaban istrinya. Setelah puas mengambil gambar, barulah Bunda menggandeng Aya untuk meninggalkan kamar anaknya.
.
.
.
Pagi ini Anisa sudah berada di Universitas untuk menjaga bilik pendaftaran mahasiswa baru. Meski sedang dalam kondisi pandemi, Universitas tetap membuka lebar gerbang untuk pendaftaran mahasiswa secara langsung.
Tapi jangan salah, setiap manusia yang akan memasuki Universitas harus menjalani proses swab antigen terlebih dahulu. Jadi, dijamin akan aman seluruhnya.
Alhamdulillah, lobi untuk pendaftaran ini tak ramai. Mungkin mereka enggan untuk swab terlebih dahulu. Makanya memilih pendaftaran online. Hahaha.
"Assalamu'alaikum Mbak Anisa!" Sapa Dewi dan Arumi menghampiri Anisa.
"Waalaikumussalam... Kalian kok disini?" Tanya Anisa.
"Kami bawa kabar luar biasa!" Ujar Arumi dan di balas anggukan dengan antusias oleh Dewi.
"Kenapa?" Tanya Anisa penasaran.
"Mbak, kami.... Kami.... Kami minggu depan sidaang!" Seru mereka.
Anisa tersenyum, kemudian keluar dari bilik duduknya. Merentangkan tangannya. Tentu saja Arumi dan Dewi langsung berhambur memeluk dosen pembimbing keduanya itu.
"Mbak, terima kasih udah sabar bimbing kami sampai di titik ini," Lirih Dewi yang telah terbawa perasaan. Titik bening meluncur dari mata indahnya.
"Eh! Tunggu dulu! Masih ada revisi-revisi dokumen pendukung kelulusan nantinya," Ujar Anisa. Bahkan mereka sudah tak peduli jika menjadi pusat perhatian.
"Setidaknya kami bisa lulus bentar lagi Mbak," Jawab Dewi sembari mengelap ingusnya.
"Iya-iya... Oh iya! Anas dan yang lainnya gimana?" Tanya Anisa.
"Besok mau ke rumah Mbak katanya. Setor revisian yang kemarin," Jawab Arumi.
"Ya sudah! Kalian kembali ke kos, istirahat, siapkan untuk sidang besok. Malu dilihatin orang-orang tuh." Ujar Anisa.
"Hehehe, iya Mbak. Kami pamit yaa? Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," Anisa kembali ke kubikelnya bersama teman tugasnya hari ini.
.
.
.
Jam istirahat makan siang Anisa memilih naik ke lantai 10 ruangan sang suami. Lift kali ini tampak sangat ramai. Mungkin karena jam makan siang. Banyak orang lalu lalang keluar masuk lift. Anisa memilih untuk memakai lift khusus.
Di dalam lift Anisa seorang diri. Karena yang memakai lift ini memang tak sembarang orang.
Setelah pintu lift tertutup Anisa menyenderkan kepalanya disisi lift. Ntah kenapa kepalanya tiba-tiba nyut-nyutan. Pegangan di sisi lift ia keratkan untuk menompang tubuhnya yang mulai lemas. Tak kuat berdiri, Anisa memilih untuk duduk bersender. Seharusnya ia memilih lift umum agar ada yang membantunya. Diliriknya tombol lift masih menunjukkan lantai tiga. Lama sekali perjalanan liftnyaaa.
Pintu lift terbuka, sudah ada Farhan yang bergegas membopong Anisa.
"Mas..." Panggil Anisa lirih selirih-lirihnya.
"Syuuutt, tenang ya... Kita ke rumah sakit," Ujar Farhan hendak menutup pintu lift kembali.
"Nggak Mas, adek mau istirahat aja... Gak mau ke rumah sakit," Lirih Anisa sembari menyenderkan kepalanya pada dada bidang Farhan.
Keluar dari lift Farhan berlari agar segera sampai di parkiran. Jangan ditanya bagaimana pandangan orang-orang di sekitar. Pandangan tertuju pada sesosok makhluk tampan nan gagah yang tengah berlari menggendong bidadari-nya.
Bersambung....