
Kini mobil Farhan sudah berada di salah satu cafe yang di share lock oleh Anisa tadi. Selera mak-mak jaman now ternyata tinggi-tinggi sekarang. Hanya arisan saja memilih cafe untuk tempatnya.
Farhan memasuki cafe yang cukup ramai itu. Padahal sudah diberlakukan sosial distancing, tapi masih saja banyak yang kumpul-kumpul. Mata Farhan menelusuri seluruh penjuru cafe, mencari Anisa tentu saja.
Tertangkap juga sosok yang dicarinya. Tampak wajah yang bosan dengan melihat pada ibu-ibu tengah bercanda ria satu sama lain. Bunda juga sudah hanyut dalam suasana. Tapi, tangan Bunda masih saja menggenggam jemari Anisa. Sesekali ia juga mengajak Anisa berbicara.
Bukan Anisa jika ia tak pintar menyembunyikan kejenuhannya. Tapi Farhan tentu saja paham. Hendak menutupi seperti apapun, ia pasti tahu.
"Assalamu'alaikum," Sapa Farhan mendekati meja para ibu-ibu itu.
"Wa'alaikumussalam," Jawab mereka. Betapa sumringah Anisa ketika sosok yang ditunggunya sudah datang.
"Lho! Kok disini sayang? Sini duduk dulu," Tanya Bunda yang memang tak tahu jika tadi sang menantu menelepon Farhan.
"Iya Bun, mau ngajak Anisa duduk di sebelah sana aja... Ayuk yaang," Jawab Farhan sembari menggandeng tangan Anisa. Farhan mengajak Anisa duduk di kursi yang agak jauh dari tempat Bunda. Farhan merinding melihat tatapan mak-mak itu.
"Uuuhhhh, cakep banget anak kamu. Padahal anakku juga suka lho sama Farhan. Coba aja belum nikah, udah tak lamarin," Ujar salah satu teman Bunda.
"Gak usah repot-repot, menantuku ini yang terbaik... Aku bahagia banget saat Farhan mau menikah dengan Anisa," Jawab Bunda dengan bangganya. Sontak wajah ibu-ibu tadi sedikit kesal mendapatkan jawaban seperti itu.
"Oh iya, arisannya k sudah selesai, saya pamit undur diri dulu ya... Mau gabung sama anak menantu. Assalamu'alaikum," Pamit Bunda.
"Wa'alaikumsalam," Jawab mereka.
.
.
.
"Bunda mau dong dipesankan juga," Celetuk Bunda setelah sampai di meja Anisa dan Farhan.
"Kok udah selesai pada Bun?" Tanya Farhan.
Gagal deh mau mesra-mesraan sama sang istri. Farhan dengan segera memberikan buku menu pada Bunda untuk memesan makanan. Ternyata Bunda juga tak makan banyak waktu bersama teman-temannya. Bunda juga tahu jika Anisa tak nyaman menjadi bahan perbincangan ibu-ibu itu. Bunda ingin pamit undur diri tak enak rasanya. Ia menunggu waktu yang tepat hingga datanglah Farhan.
"Besok Bunda gak akan ngajak kamu lagi sayang, Bunda kasihan kalau sayangnya Bunda gak nyaman," Ujar Bunda sambil mengelus jemari Anisa si sampingnya,
"Gak papa Bunda, Anisa paham kok... Mungkin saat ini gara-gara Anisa baru ikut, makanya masih canggung. Bisa jadi, kalau Anisa udah seperti Bunda juga suka kumpul-kumpul kayak Bunda tadi," Jawab Anisa.
"Huussh, Bunda aslinya suka kalau kumpul-kumpul teman lama, tapi kalau udah jelek-jelekin orang, Bunda juga gak suka," Lirih Bunda.
"Udah Bun, Anisa-nya gak papa kok. Kita makan dulu yaaa biar kuat menghadapi kenyataan," Celetuk Farhan yang ternyata makanan mereka sudah datang.
"Kamu ini, ada-ada saja," Jawab Bunda.
.
.
.
Sore ini Anisa sudah ada di taman belakang bersama dokter Rani. Beberapa waktu lalu, dokter Rani menghubungi Anisa agar bisa berkomunikasi santai di rumah.
Benar saja yang dikatakan dokter itu kemarin, Anisa dapat memahami penjelasannya. Meskipun awalnya ia tampak menolak dan kekeh dalam keputusannya, sedikit demi sedikit mulai luluh. Untung saja Mbah Uti juga ikut memberikan nasehat.
"Tapi Mbah Uti bantuin Anisa baikan sama Wardah yaa?" Pinta Anisa memohon pada neneknya itu.
"Iyaa, tenang saja... Mbah Uti akan menghubungi Wardah segera," Jawab Mbah Uti.
Helaan napas lega keluar dari bibir dokter cantik itu. Meskipun sudah hampir berkepala 4,ia masih terlihat sangat cantik.
...Bersambung.... ...