Dosen & Rektor

Dosen & Rektor
.. ..


Sampai di rumah hari sudah gelap. Tapi, tampaknya ramai sekali dari ruang depan.


"Assalamu'alaikum," Sapa Bunda di ikuti Anisa dan Farhan.


"Wa'alaikumussalam," Jawab serentak manusia tampaknya dari ruang makan.


"Cucunya Mbah sudah pulang... Ayi sayang, kita makan dulu. Mbah Uti sudah masakin kamu makanan kesukaan kamu,"Ujar Mbah Uti sembari menuntun Anisa.


Anisa tampak menolak tapi percuma. Mbah Uti terus menuntunnya. Wajah orang-orang yang sudah mengerti akan Anisa tampak tegang kali ini. Mbah Kakung yang belum tahu pun menghampiri istrinya dan menuntun Anisa dari sisi lainnya.


"Mbah, lebih baik Anisanya istirahat dulu... Tadi Anisa tampak lemas sekali," Ujar Abi lembut.


"Iya Mbah, tadi Anisa-nya sudah makan di luar," Sambung Bunda.


"Makan sedikit saja..." Jawab Mbah Uti. Mereka semakin mendekati meja.


Anisa pun mulai menutupi hidungnya. Tak kuat menahan rasa mualnya, Anisa menepis Mbah Kakung dan Mbah Uti bergegas ke kamar mandi. Farhan dengan sigap segera menghampiri Anisa.


Yang lain pun menghembuskan napas beratnya. Kekhawatiran mereka benar terjadi. Tadi Umi sudah menceritakan kondisi Anisa pada kedua pasang Mbah-Mbah itu. Tapi sepertinya memang mereka butuh bukti real. Wkwkwk.


Farhan membopong Anisa menuju lantai atas. Setiap mual, rasanya memang sangat lemas sekali. Anisa memang belum meminum obat dari dokter Rani. Wajar saja jika ia masih pusing efek mual pagi hingga siang di tambah dengan malam ini.


"Mbah, kita makan dulu yaa... Anisa-nya biar istirahat dulu dengan Farhan. Nanti saya temani ke kamar mereka," Ujar Bunda menuntun Mbah Kakung dan Mbah Uti.


Tampak wajah kecewa plus rasa bersalah dari wajah keduanya. Mbah Uti sengaja tadi membuat soup tradisional pereda mual untuk ibu hamil. Juga sangat berkhasiat untuk para ibu hamil. Tapi apa daya jika sang cucu malah tak bisa memakan masakan keluarganya sendiri.


"Kita wudhu, ganti baju, sholat, habis itu istirahat yaaa," Ujar Farhan lembut pada istrinya.


"Mbah Kakung dan Mbah Uti gimana Mas?" Tanya Anisa.


"Syuut, tenang.. Umi dan yang lain pasti akan jelasin nanti," Jawab Farhan menenangkan. Jujur saja Anisa merasa tak enak dan bersalah pada kedua orang tua Abi-nya itu.


"Minum obatnya dulu," Ujar Farhan meracikkan untuk Anisa.


Setelah sholat, Anisa dan Farhan mulai merebahkan diri mereka di tempat tidur. Anisa yang menyandarkan kepalanya pada lengan Farhan.


"Mas tadi nyuci sendiri ya?" Tanya Anisa. Ia tadi sempat mendengar Bunda bercerita dengan Umi.


"Iya, mas gak mau kamu capek. Udah ya, kita berdoa dan tidur sekarang..." Ujar Farhan sembari memeluk Anisa.


Anisa tertegun melihat sang suami dengan cepatnya tertidur. Secapek itukah? Apakah ia begitu menyusahkan orang-orang rumah? Perlahan tangan lembutnya menyusuri wajah tampan itu.


"Maafin adek ya Mas, udah ngrepotin kalian semua," Lirihnya.


Anisa yang masih menahan pusing memilih untuk memejamkan mata dan tertidur.


.


.


.


Cklek!


"Kok nggak di kunci to?" Tanya Mbah Uti.


"Biasa Bu, kalau lagi *na-*na baru di kunci, hehehe," Jawab Umi mengikuti Mbah Uti dan Mbah Kakung memasuki kamar Anisa.


"Pantas saja perutnya sudah besar. Wong dikasihnya dua sama gusti Allah," Ujar Mbah Uti duduk di sisi tempat tidur sembari memandangi kedua cucunya yang tengah memejamkan mata dan berpelukan itu.


"Alhamdulillah, doanya Ibuk terkabul too," Ujar Umi tersenyum. Abi menyusul mereka juga. Dirangkulnya Umi supaya lebih mendekat.


"Iya, alhamdulillah..." Jawab Mbah Uti. Di genggamnya tangan Mbah Kakung.


"Doa kita dikabul Pak," Lirih Mbah Uti.


Mbah Kakung hanya tersenyum dan mengangguk. Terukir jelas kerutan yang semakin banyak itu menghiasi wajah gagah Mbah Kakung dan Mbah Uti.


Bersambung.....


......Mohon maaf para pembaca yang budiman... Lhu-Lhu masih ada kesibukan Ujian Tengah Semester. Jadi belum bisa up.... ......


...Mohon maaf yang sebesar-besarnya.... ...


...Untuk novel Wardah, Lhu-Lhu juga belum bisa melanjutkan. Mohon maaf 🙏🙏🙏🙏...