Rahasia

Rahasia
Epi. 78 PERTANYAAN YANG ANEH


" Mentang-mentang sekretaris, jam kerja malah kelayapan " suara sumbang berhasil menghentikan langkah mereka. Dan berbalik menuju sumber suara.


" Hei. Jangan sembarangan bicara yah. Kamu mau dipecat sama Kakak ku " ucap Nad yang menggebu.


" Udah Nad. Biarin aja. Ayo " ujar Tira, lalu memegang tangan Nad untuk menjauh dari wanita tersebut. Nad, masih dalam pendiriannya, matanya tetap tertuju pada wanita berambut pirang tersebut.


" Jadi kamu di sogok ini, sama dia ? " menunjuk minuman yang dipegang Nad. Dan tatapan sinis pada Tira.


" Udah Nad. Biarin aja " Tira tak mau memperpanjang keributan kecil tersebut. Memang salahnya, jika ada yang berfikir kurang baik. Karena di jam sibuk seperti ini, Ia terlihat santai berbincang dengan Nad.


***


" Itu siapa sih namanya ? " ujar Nad masih jengkel dengan kejadian tadi. Dan duduk disebuah kursi tepat didepan meja Tira.


" Udah, ga usah dipikirin " jawab Tira, yang kini mata dan jemari lentiknya kompak fokus mengerjakan laporan yang diminta oleh Pa Arya


" Aku bakal bilangin Kak Satya " melipat ke dua tangannya di depan dada.


Tira hanya tersenyum dan sesekali menggelengkan kepala. Ia cukup terhibur melihat ekspresi Nad didepannya.


" Kak, Kakak tuh ga boleh diem aja kaya tadi. Kalo kakak dihina, Kakak diem aja. Kakak akan terus ditindas. Jangan mau Kak kaya gitu "


" Jadi Kakak harus apa ? " menoleh sedikit menatap Nad, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.


" Ajak gelut ke' . Jambak- jambakan kaya geng Nero. Terus Kakak dudukin tuh orang. Ga mungkin juga dia bisa ngelawan. Kakak kan gend ... " ucapan Nad terhenti. Ia tersadar, bahwa tak seharusnya mengatakan hal tersebut dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan


" Maaf " sesalnya


" Aku ga maksud bilang gitu. Maksud aku tuh Kakak harus ngelawan " ucapnya kini berapi-api


" Hmmm. Kamu tahu pribahasa, jika kita menanam padi, maka rumput pun juga akan tumbuh. Dan ketika kita menanam rumput, maka hanya rumput yang akan tumbuh dan tak akan ada yang lainnya " ujar Tira


" Ngga " dengan tambahan gelengan kepala.


" Jadi, meskipun kita berbuat baik, maka tak semua orang akan menerima kebaikan kita. Tapi ketika kita berbuat jahat, maka semua orang akan juga jahat kepada kita. Dan kita akan jauh dari kata baik. Kira-kira begitu artinya "


" Aku ga paham " menumpu dagunya dengan dua tangan yang berada dimeja Tira.


" Yaudah, kalo ga paham. Nanti belajar lagi aja sama guru kamu "


***


Waktu sudah menunjukan hampir jam lima sore. Nad masih belum beranjak dari meja Tira. Sesekali Ia membunuh kebosanan yang melanda dengan bermain ponsel. Atau akan mengajak berbicara Tira, jika Tira terlihat senggang.


" Kak. boleh aku tanya sesuatu ? "


" Tumben pake tanya segala. Biasanya langsung nanya aja "


" Hmmm, gini " Nad, membenarkan posisi duduknya.


" Tapi Kakak jangan marah yah " dan di angguki oleh Tira.


" Kalo di dunia ini hanya tersisa dua orang laki-laki di dunia. Kakak pilih mana dan apa alasannya ? " ucap Nad dengan sungguh sungguh


" Prianya siapa dulu ? Kalo laki-lakinya sudah beristri, yah jelas lah Kakak ga mau. Terus kalo prianya sudah aki - aki Kakak juga ga mau. ihhhh " Tira langsung menggoyangkan bahunya. Geli sendiri, membayangkan lontaran kalimat pengandaian dari ucapannya tersebut.


" Yah bukan aki - aki bau tanah juga kali Kak. Lagian kalo udah bau tanah mah, mestinya insyaf, bukan mikirin nikah " Nad tertawa sendiri dengan kalimatnya


" Oh iyah, aku belum nyebutin namanya yah " memukul keningnya sendiri.


" Ok. Yang pertama Mas Arya dan yang ke dua Kak Satya. Kakak pilih mana ? " tanya Nad dengan wajah yang serius.


" Jujur ya Kak. Ga boleh bohong " ultimatumnya.


" Hmmmmmm "


Belum sempat pertanyaan tersebut dijawab, seorang pria dengan pakaian formal yang selalu terlihat tampan dan punya daya tarik disetiap lirikan matanya menghampiri meja mereka.


" Nad, ayo "


" Eh Kak. Tunggu sebentar " Nad merapihkan ponsel dan kemasan minumannya.


" Duluan yah " ucap Pa Satya


" Iya Pa. Hati - hati "


***


" Alhamdulillah sehat "


" Baik Mah, Iya Tira ingat "


" Doain Tira terus ya Mah "


" Tira belum bisa janji, tapi kalau sudah ada waktu dan kesempatan, Tira juga pulang Mah. Tira juga rindu Mamah "


" Iya, selalu Mah. Mama jangan khawatir "


" Semuanya baik-baik aja "


" Iya Tira janji Mah. Tira kan ga suka bohong "


" Masa Mamah ga percaya sama Tira "


" Alhamdulillah semua lancar, semuanya baik-baik aja "


" Pagi ga sarapan. Pas siang makan soto di kantin. Tadi Tira makan nasi padang "


Tira berbaring di ranjangnya. Setelah melepas rindu dengan keluarga tercinta dibantu oleh alat komunikasi yang semakin canggih mengikuti zaman. Begitulah kesehariannya, selalu dihubungi atau menghubunginya dikala malam.


Tira menatap langit-langit kamarnya. Karena tak tahu apa yang harus Ia lakukan, dan teringat pada sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Nad. Bahkan Ia masih bisa membayangkan mimik wajah Nad ketika melontarkan pertanyaan aneh tersebut.


" *Kalo di dunia ini hanya tersisa dua orang laki-laki di dunia. Kakak pilih mana dan apa alasannya ? " ucap Nad dengan sungguh sungguh


" Ok. Yang pertama Mas Arya dan yang ke dua Kak Satya. Kakak pilih mana ? " tanya Nad dengan wajah yang serius.


" Jujur ya Kak. Ga boleh bohong " ultimatumnya*.


Tira mengubah posisi badannya. Ia memposisikan badannya ke arah kiri. Lalh mengambil sebuah foto yang terpajang di atas nakas, persis disisi ranjangnya.


" Kamu tahu kan, Nad yang aku ceritain. Dia seperti biasa, selalu berisik, energik dan bicara tanpa beban. Tapi sejujurnya aku suka sama anak itu " Tira mengelus bingkai foto, lalu meletakkan di atas dada.


Tira menceritakan kesehariannya dikantor, selalu seperti itu. Jika ada orang lain melihatnya seperti ini. Bisa saja orang berfikir bahwa ia sudah kehilangan akal waras nya. Berbicara sendiri sambil mengelus sebuah foto yang berbingkai warna putih dan emas.


" Jadi, menurut kamu aku pilih mana ? "


" Ya ya ya, aku udah tau ko' jawabannya seperti apa. Tapi jujur, aku juga bingung kalo di suruh jawab alasannya apa ? "


" Yah, meskipun itu cuma pertanyaan biasa tapi kenapa aku jadi kepikiran buat menjelaskan secara jujur yah. Hmmm. Pertanyaan aneh, tapi aku lebih aneh sih, sampai mikirin itu segala "


***


kringg ...


Sebuah panggilan berbunyi ditengah malam yang sunyi sepi, dan berhasil menggagalkan kantuk yang melanda menuju mimpi.


" Saya lagi dirumah Om. Lagi mau menuju alam mimpi "


" Terakhir kapan yah ... Saya lupa Om " jawabnya dengan suara khas orang mengantuk sambil menggaruk kepalanya dan mencoba mengingat sesuatu


" Apa ? "


" Ka kabur, kabur gimana Om ? "


" Ahhhh ... Gitaaaaaa "


______________________________________________


Bersambung ...