
Suasana riuh riang, canda tawa terdengar dari mereka yang menghabiskan waktu istirahat. Tapi berbeda dengan beberapa orang disana. Tira, Arsyad, Irsyan , Abdullah dan beberapa HO Dept. masih bergabung dalam meeting panjang.
" Terimakasih semuanya. Selamat Siang " Abdullah, orang pertama meninggalkan ruang rapat tersebut dan diikuti beberapa orang lain disana.
" Gimana meeting kemarin " tanya Irsyan
" Cancel Bang " nafasnya berat dan tersandar pada kursi yang digunakannya.
" Makan dulu aja Ra " sarannya pada wanita disisinya
" Hmmm. Nanti aja deh " tolaknya
" Trus alesannya apa ? "
" Ngga tau Bang " mengusap wajahnya gusar
" Udah dua kali loh, cancel meeting. Pantesan mood Abi jelek banget hari ini " keluhnya
***
Tira masih menyelesaikan pekerjaannya, meskipun waktu pulang sudah 3 jam berlalu. Masih sibuk dengan data revisi dimejanya.
Arsyad datang keruangan dengan membawa sebuah bungkusan dan diletakkannya dimeja Tira.
" Makan dulu "
" Iya " masih sibuk dengan papan keyboardnya
" Aku suapin yah " mengambil bungkusan yang berisi makanan, membukanya dan memotong kecil-kecil makanan tersebut.
" Ngga ngga usah. Aku bisa makan sendiri " tolaknya dengan tangan kanan melambai tanda tak setuju
" Aaa " Arsyad tetap menyuapi Tira meskipun diawali dengan penolakan. Hap, sudah mapir separuh makanan tersebut masuk kedalam mulut Tira.
Tak ada aba-aba. Atau mungkin keduanya masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mata dan tangan Tira masih kompak mengerjakan tugas dan mulutnya masih mengunyah makanan. Dan Arsyad masih menyuapi dan memperhatikan pekerjaan Tira.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Seseorang masuk tanpa permisi. Pemandangan kini tertuju pada seseorang yang membuka pintu. Bukan wajah keterkejutan yang dilihat. Tatapan ejekan seperti mencemooh.
" Apa yang Bapa lakukan "
" Saya sedang menyuapi Tira " menunjukkan box makanan yang Ia pegang. Dan nama yang disebut tak berkutik. Tak tahu apa yang harus Ia lakukan
" Ini kantor Pa " nadanya datar namun terdengar sangat menjengkelkan
" Saya tahu " jawabnya santai lalu kembali menyuapi Tira. Tira tetap melahap makanan tersebut. Dan sesekali curi pandang dengan seorang yang didepannya dan Arsyad
" Saya rasa hal tersebut tidak pantas dilakukan "
" Yang saya lakukan tidak mengganggu orang lain "
" Tapi perlakuan Bapa bisa membuat prasangka tidak baik "
" Prasangka tidak baik ? Apa maksud ibu ? " mata tajam mereka beradu. Dan masih sama mempertahankan pendapat masing - masing.
" Maksud saya. Bisa saja terjadi kecemburuan sosial "
" Kecemburuan sosial bagaimana yang dimaksud ? " masih menampilkan senyum yang dipaksakan
" Atas perlakuan Bapa. Bagaimana jika seluruh karyawan tahu. Bahwa Bapa ada hubungan sesuatu dengan Zatira " jelasnya dengan nada tekanan
" Tidak masalah " ujar Arsyad masih dengan santai. Mendengar hal terdebut Tira mencubit paha Arsyad dan dengan tatapan permohonan.
Please berhenti, jangan dilanjut lagi. Begitulah mungkin kata yang ingin diucap. Namun, tak berani disampaikan.
" Apa Bapa punya hubungan dengan Zatira ? Oh, maaf saya rasa itu pertanyaan kurang etis. Maaf menggangu " dan berbalik ingin menutup pintu
" Yah. Saya rasa ibu juga sudah tahu. Dan saya tak masalah jika seluruh orang disini pun tahu " ujarnya sebelum wanita tersebut berhasil keluar dari ruangan tersebut.
" Syad "
" Ga boleh gitu "
" Apa nya yang ga boleh "
" Ya tetap aja ga sopan "
" Lagian suka benget sih jadi pengganggu orang " melipatkan tangan di dada.
" Mungkin dia keget. Ada kejadian yang ga bisa aja. Lagian bener juga kata Bu Monika. Ini kan kantor. Ga seharusnya dilakuin disini "
" Jam kerja tuh cuma sampe jam 5. Dan sekarang udah jam 8 malam. Berarti udah bukan jam kantor dong " selanya
" Tapi ini kan masih dikantor " lalu memasukkan sendok yang berisi makanan yang sebelumnya diambil dari tangan Arsyad.
" Iyah tau. Tapi kita kan ga macam - macam " berdiri dari kursi yang digunakan lalu masuk kedalam ruangannya.
Tita hanya menggelang kepala. Ia tahu Arsyad orang yang baik. Bahkan meskipun Arsyad marah Ia tak pernah mengeluarkan emosi yang membeludak. Semua masih bisa dikontrol. Dan Tira tahu, sebenarnya Arsyad tak benar-benar terganggu jika Bu Monika tahu tentang hubungannya dengan Tira. Karena alasan pekerjaan dan ditambah meeting yang cukup panjang serta meyakinkan Abdullah untuk me-reschedule meeting dengan seorang investor, membuat stok kesabaraannya sebagai manusia biasa berkurang, membuat emosinya sedikit terledak meski ditutupi dengan bahasa yang sopan.
Tira membereskan meja kerjanya dan segera mematikaan komputer. Berjalan menuju ruangan Arsyad.
" Syad " Tira berdiri didepan pintu
" Aku udah selesai. Aku mau pulang. Kamu mau pulang jam berapa ? "
" Bentar lagi " masih sibuk dengan komputernya.
" Ok. aku duluan yah " ucap Tira dan bergegas menjauhi ruangan Arsyad.
Pukul 9 malam. Beberapa ruangan terlihat gelap. Artinya seluruh karyawan diruangan tersebut sudah pulang. Dan masih ada beberapa yang masih setia dengan layar komputernya.
" Saya duluan " ucap Tira pada karyawan lain yang masih sibuk
" Hati - hati " balas mereka yang melihat Tira
21.10 menit waktu yang ditunjukkan pada mesin finger print. Tira membenarkan posisi tasnya. Ia memencet tombol lift, lalu melihat layar ponselnya. Membuka media sosial untuk mengusir sedikit penat dan lelahnya. Seseorang berdiri disampingnya lalu menggandeng tangan kanannya sebelum menggeser foto pada layar media sosialnya.
" Eh, kirain masih lama " ucapnya dengan senyum.
" Cape banget " terlihat gurat keletihan
" Gandengan kaya truk aja " selasar seorang wanita dibelakang mereka.
" Truk aja gandengan, masa kita ngga " ucapnya tak mau mengalah. Dan masih belum mau melepaskan genggaman tersebut, meskipun sudah Tira surah berusaha melepaskannya.
Udah diem aja. Mungkin itu gelengan kepala Arsyad yang bisa diterjemahkan.
Rasa canggung terlihat dari suasana mereka berdua. Hanya dua wanita itu saja. Berbeda dengan Arsyad yang masih santai menggenggam tangan Tira.
Mereka keluar dari lift yang menuju basement. Arsyad berjalan bersama Tira. Mengantarkan Tira menuju parkiran motor. Yah, meskipun parkiran motor terlihat dengan penerangan yang cukup tapi Arsyad memilih mengantarkan Tira.
" Lain kali, pacaran jangan dikantor " unek unek terlepas begitu saja, sambil menuju kendaraannya
" Lain kali, jangan gangguin orang pacaran " balas Arsyad tak mau kalah
" Aww " genggaman terlepas dan berhasil mendaratkan cubitan dipinggang Arsyad.
" Apaan sih kamu ? " mengusap perutnya yang sakit
" Kamu tuh yah. Masih aja diladenin "
" Abis rese banget. Ganggu banget jadi orang"
" Tapi tetep aja ga bole gitu "
" Iyah iyah. Ngga. Udahan, itu yang terakhir " janji Arsyad.
______________________________________________
Bersambung ...