Rahasia

Rahasia
Epi. 70 PAMIT


Hari terus bergulir, yang berlalu tak bisa terulang dan masa depan masih menjadi angan yang harus dilalui dimulai dari detik ini.


Tira , Irsyan dan Abdullah, memasuki sebuah ruang meeting yang didalam sudah ada dua pria muda dengan wajah yang amat menawan.


" Selamat pagi " sapaan untuk mengawali meeting pagi ini.


Tira mengambil alih untuk presentasi, dan sesekali dibantu oleh Abdullah dan Irsyan.


Investor tersebut sangat memperhatikan presentasi yang dilakukan. Memandangnya dengan kagum, sosok yang berdiri menjelaskan didepan sana. Wanita berambut panjang yang digerai, dengan blazer merah yang berada diluar kemeja hitam dan dipadukan dengan rok hitam dibawah lutut. Sapuan makeup tipis dengan pulasan bibir warna merah muda. Sepatu heels dengan tinggi 10 cm dan kontak lensa warna coklat terang sukses membuatnya terlihat seperti bintang kejora dimalam hari. Begitu indah, begitu sempurna diantara pria disana.


" Ada pertanyaan ? " tanyanya dengan serius yang disuguhi dengan senyuman.


" Baik, Jika tidak ada saya kembalikan ke Bapa Abdullah " melihat sekitarnya untuk memastikan.


***


Tira memasuki ruang kerja Irsyan dan sudah memastikan tidak ada orang lain diruangan tersebut.


" Siang Pa " Ucap Tira, melangkah mendekatkan diri pada Irsyan.


" Silahkan duduk " mempersilahkan wanita didepannya untuk duduk persis yang berada didepan meja kerjanya.


Tira duduk, lalu menarik nafas dengan kuat. Meski masih ada ragu, Ia harus melakukan hal tersebut. Tira menyerahkan amplop coklat yang dibawanya kepada Irsyan.


" Apa ini ? " Bertanya sambil membuka dan mengeluarkan isi amplop tersebut.


Irsyan membaca paragraf paling atas.


" Pengunduran diri. Kamu serius ? " Matanya menatap wanita didepannya yang masih saja menunduk.


Tira, Tira. Kamu pasti kuat. Kamu kuat, kamu mampu. Ini saatnya kamu harus bangkit.


Tira mengangkat wajahnya, menatap lelaki yang punya jabatan tinggi dikantornya tersebut.


" Iya. Pa. Saya mengajukan pengunduran diri " mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang. Sayangnya air mata tersebut, tetep lolos dan terbit diujung kedua matanya. Ia berusaha mengatur nafas dan ucapannya agar tangisan tak pecah disana.


" Kenapa ? " ___ " Ahhh, saya tahu. Maafin Arsyad yah Ra. Arsyad belum bisa mewujudkan semuanya " Irsyan mengucapkan dengan tulus


" Bukan salah siapa-siapa. Apalagi Arsyad. Arsyad ga salah " Tira mulai kehilangan kendalinya. Air mata benar-benar jatuh membasahi pipinya. Ia sangat terlihat cantik ketika meeting tadi, berbeda 180° dengan saat ini. Hilangnya senyum dan semangat diwajahnya.


" Jangan sedih lagi ya Ra. Kita ga bisa berbuat apa-apa. Tapi sebisa mungkin, saya bakal memenuhi janji Arsyad yang belum terwujud " Irsyan menepuk-nepuk punggung Tira. Memberi semangat kepada wanita yang terlihat lemat tersebut.


" Terimakasih " ucapnya dengan menyeka air mata


" Kamu udah dapat kerjaan baru ? " tanya Irsyan, dengan nada bersahabat. Bukan selayaknya atasan dan bawahan, tapi lebih seperti kakak dan adik.


" Belum Bang. Tira belum kepikiran untuk kerja ditempat lain " ___ " Tira mau lanjutin usaha ayah " ucapnya dengan tenang.


" Bukannya ada adik kamu yah ? Emang kau ngerti, masalah otomotif gitu ? "


" Rayan masih sekolah Bang. Lagian juga Rayan masih SMA. Kalo ngerti apa ngga, yah ngga ngerti. Tapi semua kan perlu belajar. Lama-lama nanti juga bisa " jawab Tira dengan penuh keyakinan.


" Apapun keputusan kamu. Kalau itu baik untuk kamu, Abang pasti dukung " Irsyan memberi semangat.


" Terimakasih yah Bang. Oyah Bang, apa aku masih bisa ketemu Kasih ? " ada rasa rindu di dada, sudah lama tidak bertemu gadis kecil yang manis itu.


" Tentu dong. Kan kamu Mommy nya Kasih " ucap Irsyan dengan selungan tawa.


" Terimakasih ya Bang. Tira mau lanjut kerja lagi " beranjak dari kursi, lalu menuju ruangannya


________________________________________


Sebulan telah berlalu, dari waktu pertama kali memberikan surat pengunduran diri tersebut. Jujur saja, rasanya begitu amat sedih. Sudah satu tahun setengah, bekerja dan memiliki keluarga baru diperusahaan ini. Langkahnya begitu berat meninggalkan tempat ini dengan semua kenangannya.


Ia melihat gedung tinggi dibalik kaca mobil. Melihatnya semakin mengecil, bertambah jarak karena mobil yang terus melaju.


Mulai hari esok, Tira mempunyai pekerjaan baru. Mengurus bengkel milik sang Ayah. Jika bukan karena kesehatan ayah, yang akhir-akhir menurun, Ia tak akan mengambil alih usaha kecil tersebut. Ia akan terus memilih menjadi wanita karir yang bekerja di gedung-gedung tinggi pencakar langit.


Sudah pukul 10 malam. Semua anggota keluarga sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Dan mungkin saja sudah menikmati indahnya mimpi dari sang pencipta langit dan bumi.


Tira duduk didepan meja riasnya. Ia mengambil buku pemberian Arsyad dan menumpahkan rasanya disana. Menulis dengan pulpen berkepa bear yang juga pemberian Arsyad. Mencurahkan hatinya yang amat gundah, bingung, kesal dan kecewa. Namun tak tau harus bagaimana. Lelehan air mata kembali mencuat, meluncur dengan indah tanpa hambatan. Isakan kecil tak bisa terhindarkan.


Aku tak tahu, apakah kamu juga rindu ?


Namun, yang harus kamu tahu, selalu ada nama mu di setiap sujud ku


Terimakasih atas waktu yang luar biasa


Kamu sudah bahagia ?


Pasti kamu bahagia, karena kamu salah satu orang baik yang mengisi Bumi ini


Dan aku juga pasti akan bahagia.


***


Pria berbadan tegap itu memandang langit-langit kamar yang ditempatinya malam ini. Entah angin dari mana, membuatnya merasa senang, bahkan tersenyum sendiri. Perasaan bahagia yang tak bisa dijelaskan dengan logika, berbeda seperti perhitungan matematika : phitagoras.


" Hmmmm. Cantik " kata yang terlontar dengan bangga dari mulutnya. Jarang sekali pujian Ia berikan pada lawan jenisnya. Bahkan pada wanita yang menjadi tunangannya kini.


" Apa dia udah punya pacar ? hhhmmm "


" Tapi wanita secantik itu, masa masih single sih "


" Sadar, sadar , sadar. Lu udah punya tunangan. Jangan lirik cewe lain lagi " tangannya mengusap wajahnya. Berusaha menyadari dari khayalannya semata.


" Tapi kalo jodoh, ngga apa-apa juga sih " ucapnya dengan penuh keyakinan diri.


Telefon berdering, membuyarkan lamunannya mengenai seorang wanita yang menghias imajinasinya sedari tadi.


Krigggg... Ia mengambil ponsel dari kantungnya. Ada rasa malas sebenarnya, melihat nama yang tertera disana.


" Anggita. Mau apa lagi dia " tak ada niatan untuk mengangkat panggilan tersebut. Sudah lebih dari sepuluh kali, panggilan terjadi. Dan tetap diabaikan begitu saja.


kringgg.... Ia meraih ponselnya lagi, melihat nama yang tertera adalah nama adiknya. Ia langsung mengangkat panggilan telfon tersebut dan mendekatkan ke telinganya.


" Halo " ucapnya membuka obrolan


" KAMU DIMANAAAAA ? " jawab dari seorang wanita yang berteriak cukup keras. Sampai Ia menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya. Dan melakukan mode loadspecker.


" Aku telfon ga diangkat. Giliran aku pakai no nya Nad, kamu langsung angkat. Bagus yah "


Nad, kurang ajar anak kecil itu.


Bisa-bisanya dia kasih pinjem hp ke Anggita. Awas aja, kamu ya Nad. Satya


Ka, jangan marah sama Nad yah ? Aku dipaksa sama Ka Gita. Swear ✌️. Nad


Nad sudah cukup ketakutan dengan ponselnya yang dipinjam Gita. Tunangan dari Kakaknya Satya. Sudah lebih dari sepuluh kali Gita coba menghubungi, namun semua diabaikan. Ia tahu dari story panggilan yang diperlihatkan Gita pada Nad. Dan Nad juga cukup paham, jika kakaknya sudah tidak mengangkat panggilan tersebut, berarti Ia sangat terganggu.


______________________________________________


Bersambung ...


Curhat dikit yah.


Kalo kata Dilan : Rindu itu berat Kau ga akan kuat. Biar aku saja.


Kalo Author : Menulis itu mudah, menjabarkan setiap rinciannya yang membawa emosi di setiap paragraf itu sulit. Kau tak akan kuat. Biar aku saja.


Kamu cukup menmani ku dikala sepi. Dia antara jutaan para pencemooh yang tak percaya. Aku tak meminta mu untuk membuat candi. Aku hanya meminta mu untuk tetap setia sampai nanti.


( eyakkk,. Bang, Adek rindu. Ajak adek naik kora-kora Bang. Ehh, lupa. Lagi social distancing yah di Jakarta 🙊)


Author mau kasih apresiasi untuk para author yang lain. Yang setiap harinya bisa update 2-3 episode. Yuhuuuu... Kalian luar biasa.....


Harus berbagi waktu antara dunia nya ta dan fiksi ... Guys... kalian hebat.


Yuk, semangati para author favorite kalian, dengan tombol like nya yah..


see you, di next episode