
Tin, Tin, Tin.. suara dari klakson mobil yang sengaja dibunyikan Arsyad didepan rumah. Penanda bahwa Ia sudah hadir dan siap menjemput si pemilik hatinya. Suara samar terdengar dari anak tangga. Semakin Ia melangkah, semakin jelas terdengar suaranya. Langkahnya terhenti dan pandangannya tertuju pada orang-orang diruang tamu rumahnya.
Ada pemandangan tak biasa. Ayah yang biasa sejak pagi hari sudah berada dibengkel, kini masih terduduk disofa dan disampingnya ada Mamah yang menemani. Dan ada dua orang tamu juga disana. Seorang pria berkumis tebal yang duduk dengan gusar, menenangkan istrinya yang masih belum berhenti mengeluarkan air mata.
" Yah, Mah. Tira berangkat " tampak acuh dengan dua tamu yang sengaja datang menemuinya. Meski tak ada yang berbicara tentang tamu tersebut, Ia sudah mengetahui siapa tamu tak diundang tersebut.
" Ra. Maafiin. Ra " Ibu Ayu namanya, wanita paruh baya yang biasanya terlihat cantik dan modis, kini tertutup dengan mata yang sembab dan suara serak parau dari tangisan yang tak henti.
" Tira mau berangkat " ucapnya sekali lagi. Namun, langkahnya terhenti ketika lengannya dipegang kuat oleh Ibu Ayu.
Ibu Ayu menangis sambil terus berbicara, namun tak jelas apa yang dibicarakan, karena tangisannya lebih kuat dari suara atau tenaganya sudah habis karena air mata sehingga bersuara pun tak bisa.
Pria berkumis tebal itu pun duduk berlutut. Bukan untuk memuji atau sengaja meminta belas kasih, tapi berusaha menenangkan istrinya yang sejak beberapa hari murung, lalu menangis setiap hari.
" Ra, sini duduk dulu " kata Ayah dengan tenangnya. Menepuk sisi sofa yang diduduki. Jika tidak ada Ayah, Tira pun enggan menemui dua orang tersebut. Ia tak benci ataupun marah pada dua orang itu, tapi dengan melihat mereka rasa benci, kesal, emosi, kecewa terhadap anak mereka bangkit kembali.
" Ada apa ? " ucapnya dengan cepat, namun enggan melihat kedua tamu tersebut.
Bu Ayu dibantu suaminya sudah berhasil menenangkan emosinya. Dan duduk kembali ke sofa.
" Ra. Maafin anak Tante Ra " ucapnya penuh iba. Mengusap pipinya berulangkali basah karena air mata.
" Maaf. Saya tahu Om sama Tante orang baik dan semua orang disini tahu itu. Tapi perbuatan anak Tante dan Om jauh dari kata baik " ucapnya dengan tegas dengan suara berubah agak serak. Karena berusaha menahan emosi kekesalan pada seorang yang dijadikan topik pembicaraan tersebut.
" Tante tahu anak Tante salah. Tapi, apa yang harus Tante lakuin, agar Tira mau maafin anak Tante " kali ini berbicara dengan tangan yang sudah tak mampu mengelap air mata yang jatuh dengan derasnya. Dan sang suami hanya berusaha menenangkan dengan mengusap punggung istrinya.
" Tante ga salah, jadi gausah melakukan apa-apa. Biar Ilham yang tanggung semuanya " bahkan menyebut namanya saja sudah tak sudi.
" Ra " Tante Ayu kini sudah berubah posisinya. Berlutut memeluk kaki Tira. Meminta keringanan atas hukuman anaknya. Itu usaha terakhirnya. Menjatuhkan bahkan menghilangkan harga dirinya yang selama ini jadi orang terpandang. Meringkuk berlutut demi anak yang di sayangnya.
" Tante ga perlu kaya gini Tan " mencoba membangunkan Ibu Ayu. Namun usahanya gagal. Bahkan usaha Pak Kumis itu pun juga tak membuahkan hasil.
" Ra, maafin anak Tante Ra. Maafin " ucapan itu diulang berkali-kali. Bibirnya tak henti meminta maaf untuk kesalahan anaknya.
Tira melihat dan ada rasa iba. Sesekali melihat Ayah dan Mamah yang masih berada disampingnya.
Tira beranjak dari tempatnya. Duduk berdiskusi dengan orangtuanya dimeja makan. Meninggalkan ke dua tamu yang masih masih setia meminta maaf.
***
" Yah. Mah gimana ? " tanya Tira
" Sejujurnya, Ayah mau orang itu tetap dihukum. Ayah ga mau kasih kesempatan sama orang jahat " ucap Ayah dengan tegas
" Mamah juga. Apa lagi kamu anak perempuan Mamah " ucap Mamah yang setuju dengan ungkapan Ayah
" Tapi, aku ga tega liat mereka kaya gitu. Padahal mereka orang terpandang, tapi mereka sampai berlutut menjatuhkan harga dirinya " ucap Tira
" Mah, Yah. Apa aku cabut aja laporannya ? " Jujur rasanya ada perasaan sakit, mengingat kejadian malam itu, tapi jauh lebih sakit melihat orang tua yang bahkan merendahkan dirinya untuk meminta maaf.
***
" Ra. Kamu lama amat sih " ucapnya didepan pintu. Ia melihat ada Mamah, Ayah dan dua tamu dengan wajah yang gelisah.
" Pa. Bu. Maaf, Arsyad kira cuma ada Tira " ucap Arsyad yang tak enak hati, lalu menyalami kedua orang tua Tira.
" Maaf yah Syad. Tira jadi lama karena diajak bicara sama Ibu sama Bapa. Sampe lupa ajak kamu masuk " ujar Mamah Tira.
" Mah, Yah. Tira berangkat dulu " ucap Tira menyalami orangtuanya.
" Assallamu alaikum " ucap Tira dan Arsyad berpamitan.
Waalaikum salam
***
" Lama banget sih kamu. Mana tadi ternyata ada Ayah sama Mamah kamu. Aku kan jadi ga enak " ucap Arsyad sambil melajukan kendaraannya lebih cepat.
" Syad. Jangan ngebut-ngebut dong. Nyawa ku cuma satu. Bukan kaya kucing, punya cadangan nyawa " bentaknya pada Arsyad.
" Udah siang banget nih. Udah jam berapa coba " menunjuk jam yang terlingkar ditangannya.
" Iya. Iya Maaf. Aku juga ga tau " tersadar dengan kesalahannya
" Tumben banget pagi-pagi ada tamu " selasar Arsyad yang semakin kencang memacu kendaraannya.
" Itu Orangtuanya si Ilham " ucap Tira sedikit hati-hati
" Apa ? Mau ngapain lagi sih ? " ekspresi Arsyad berubah seratus delapan puluh derajat. Yang hanya menunjukkan kekesalan karena kesiangan menuju kantor kini bertambah dengan wajah gusar, tak tenang dan ada sedikit emosi.
" Orang tuanya minta maaf. Intinya minta aku untuk cabut laporan untuk anaknya " ucap Tira
" Terus kamu mau ? " tanyanya dengan khawatir
" Iyah " Tira menganggukan kepalanya
" Kenapa ? " tanya Arsyad, menurunkan nada bicaranya.
" Aku kasihan lihat orangtuanya " Tira menceritakan apa yang dilakukan oleh orang tua Ilham pada dirinya. Ada rasa iba dan juga kasihan. Sehingga hatinya tergugah.
" Ya Ampun Ra. Harusnya biarin aja. Biar tahu rasa. Apa yang diperbuat, itu yang harus dituai. Dia salah, dia juga harus dihukum " ucap Arsyad yang tak percaya dengan pengakuan Tira
" Kalo dia keluar, terus nyelakain kamu lagi gimana ? Atau nyelakain orang-orang disekitar kamu gimana ? Misal orang tua kamu, Rayan, keluarga kamu, Aku atau Tira Tira yang lain gimana ? " tanya Arsyad yang mulai tersulut emosi
" Bukannya setiap orang pernah melakukan kesalahan ? Aku cuma mau kasih kesempatan kedua aja. Dan semoga Allah selalu melindungi kita dimana pun berada. Bukan kah seperti itu Bapak Arsyad Wahid ? " menggoda dengan menyentuh dagu Arsyad lalu tersenyum. Arsyad hanya menampilkan ekspresi wajah tak suka.
" Terserah " hanya kata itu yang terucap dari bibir Arsyad.
______________________________________________
Bersambung ...