
Beberapa wanita berada didepan cermin toilet perusahaan. Ada yang merapihkan penampilan setelah berkunjung ke bilik toilet. Ada pula yang menjadikan toilet sebagai tempat pelarian semetara dari tumpukan pekerjaan. Bahkan ada yang menjadikannya tempat bertukar keluh kesah diantar himpitan waktu yang seakan terus berkejaran.
" Lu tau sekretaris barunya Pa Satya ? " tanya seorang wanita yang sedang mencuci tangannya di wastafle
" hmmm, kenapa emang ? " jawab wanita disebelahnya yang sedang memulaskan perona bibir
" Lu tau kan, gimana penampilannya ? "
" Tau "
" Masa sih sekretaris begitu penampilannya. Gak ada pantes-pantesnya " ujar wanita tersebut
" Emang kudu gimana ? Kudu pake rok mini, pake baju belahan rendah, trus harus tebel pake make up ? "
" Yah ngga gitu juga. Yah minimal kaya gw gini lah " ujar wanita tersebut menyombongkan diri dengan bangganya.
" Mungkin selera Pa Satya udah berubah kali " ucap wanita yang kini memulas perona bibir dengan warna yang lebih gelap di dalam bibirnya.
" Yah kaliiii Pa Satya belok "
" Kalo belok, gw mau ngelurusinnya "
" Sebelum lu lurusin, gw duluan yang akan mendirikan tenda biru dan janur kuning. Hahahah "
Tak ada yang tahu, setelah dua wanita tersebut bercengkrama ria, sosok wanita yang dibicarakan ada didalam salah satu bilik toilet tersebut. Dan keluar, setelah memastikan dua wanita tersebut sudah keluar dari toilet.
Sebenarnya tak ada yang salah dari yang diucapkan dua wanita tersebut. Tapi tetap saja, sebagai manusia biasa Tira sedikit terganggu dengan kalimat tersebut.
" Yang dibutuhkan tuh hasil kerja, bukan penampilannya " ujarnya menggerutu sambil memperhatikan pantulan dirinya didepan cermin.
***
Bisik-bisik tetangga seperti lagu yang dinyanyikan pedangdut ternama Indonesia, Elvie Sukaesih. Namanya jadi bahan candaan bagi para karyawati yang tak suka dengan penampilan Tira.
Ada yang menyebutnya, gendut, bantet, galon A*ua, karung beras dan kata lainnya yang menggores hati. Bila dulu diawal-awal masuk hanya berbicara dibelakang, kini mereka berani mengutarakan hal tersebut langsung dari didepan mata.
" Hai gendut "
" Eh, ada galon a*ua "
" Udah gendut tuh diet, bukannya minum manis-manis "
" Mana ada, yang mau sama lu kalo penampilan lu kaya gini "
" Cantik sih, tapi berat kalo di bonceng "
" Dasar karung beras "
" Pa Satya mungkin lagi panas dingin, pas milih lu jadi sekretaris "
" Jangan harap, Pa Arya mau sama lu "
" lu ke dukun mana, pake susuk apa ? "
" Ah . Dasar munafik "
" Gentong air "
" lu tuh kaya angka sepuluh kalo jalan sama Pa Arya. Pa Arya yang angka satu dan lu yabg angka nol "
Begitulah, beberapa kalimat terang-terangan yang Tira terima. Menjijikan, tidak mencerminkan seorang yang bisa disebut terpelajar, jika lontaran kalimat yang mereka ucapkan hanya menyakiti hati.
Sebenarnya bisa saja mereka yang berucap dilaporkan ke pihak berwajib, atas dasar tindakan tak menyenangkan dan body shamming. Tapi tak Iahiraukan, karena Ia butuh kedamaian dalam kehidupan pekerjaanya.
Cemohan yang terlontar karena dirinya yang menjadi sekretaris bagi bos paling karismatik disana. Dikelilingi dua pria yang mempunya peran penting di perusahaan tersebut. Pa Arya yang menjabat sebagai Assiten Pa Satya. Sifatnya ramah, namun tak suka berbasa-basi. Dan Pa Satya yang terlihat berwibawa. Suatu kebanggaan bila bisa bertegur sapa bagi para pekerja disana. Khusunya bagi para karyawati yang mengidolakan pria tersebut.
Sebenarnya bukan karena masalah pribadi, tapi rasa iri yang menjalar dan merasuki karyawati yang sudah berdandan dan bergaya habis-habisan serta dikeliling barang-barang branded, namun sama sekali tak dilirik Pa Satya.
Dan julukan BOBA, menjadi paling iconic yang dilontarkan oleh gadis bernama Nad. Sebenarnya bukan maksud hati untuk menyinggung. Karena Tira sudah menjadi rekan duet per Boba an oleh Nad. Dari segala merk dagang boba sampai semua rasa yang disajikan, mereka pernah cicipi.
" Kak Boba " salam Nad dengan riang gembira menghampiri meja Tira
" Hai Nad. Tapi Pa Satya masih meeting " ucap Tira setelah Nad mendekat.
" Oh gitu. Kakak mau pesen boba ? " senyumnya terukir bagai bulan sabit.
" Yaudah kalo ga mau. Aku langsung pesen aja, salted caramel dua " ucap Nad tanpa persetujuan.
" Eh, jangan. Kamu aja pesen sendiri. Aku ga mau " tolaknya
" Kenapa sih Kak ? " tanya Nad dengan heran. Biasanya Tira selalu menjawab Ya, untuk boba dengan varian salted karamel.
Tira teringat dengan cemohan yang semakin membuatnya tak nyaman. Meskipun Ia sama sekali tak mendengarkan, tetap saja ada rasa yang mengganjal didada.
Mereka hanya iri
Mereka hanya iri
Mereka hanya iri
Kalimat tersebut yang menjadi penguat hati nya. Seumur hidupnya, belum pernah ada yang mengomentari fisiknya seperti ini. Apa karena berat badan yang sudah diangka 70 an kg ini atau Ia tak suka bersolek, atau karena penampilannya yang bisa dikatakan sangat biasa saja untuk ukuran seorang sekretaris. Atau lebih tepatnya, ketiga alasan tersebut berkolaborasi sehingga menciptakan kalimat sumbang yang bermekaran untuk dirinya ??
***
" Tira, siapkan laporan dari divisi finance. Buat schadule meeting dengan bagian marketing. Dan follow up ke bagian GA. Kenapa lift jadi sering rusak " ujar Pa Arya, yang melangkah masuk ke ruangan setelah Pa Satya.
" Baik Pa " jawab Tira dan langsung mencatat semua tugas yang diberikan.
tritttt...
Bunyi suara telefon dimeja kerjanya. Dengan sigap, Tira mengangkat telfon tersebut.
" Halo "
" Kak Bobaaaaa " teriak Nad dari seberang telefon, reflek Tira menjauhkan gagang telfonnya dari telinga. Teriakan Nad benar-benar mengganggu gendang telinganya.
" Kak. Kakak denger kan "
" Iya, iya. Kamu jangan teriak-teriak Nad "
" Kak, tolongiiiiinnnnnnn "
" Apa ? "
" Aku lupa bawa uang cash "
" Terus ? "
" Boba nya udah sampe, aku bayarnya gimana nih ? " ucapnya penuh iba.
" Yasudah, tunggu sebentar. Kakak kebawah sekarang "
" Terimakasih Kak " ucapnya dengan riang gembira dan penuh rasa syujur. Sambungan terputus.
Tira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kelakuan Nad. Anak ABG adik dari Bos nya tersebut.
Nad benar-benar cerewet. Dan lucunya lagi, Ia tidak memiliki rasa canggung terhadap Tira. Tira merasa harinya jauh lebih menyenangkan jika Nad datang ke kantor. Ada saja kelakuan lucu bahkan mengesalkan bagi dirinya.
Tapi melihat Nad yang cukup akrab dengan dirinya, Tira merasa memiliki seorang adik perempuan. Dan mungkin juga, karena rasa rindu terhadap Rayan, bisa sedikit diobati dengan tingkah Nad yang kadang kurang tepat bagi remaja perempuan seperti dirinya.
" Tunggu sebentar lagi ya Pa. Uangnya lagi di ambilin " ujar Nad yang tak enak hati pada driver ojek online yang mengantarkan minuman pesanannya
" Baik Kak. Saya tunggu "
***
" Kak, makasih yah. Nanti aku ganti "
" Iya sama-sama. Ga usah, anggap aja Kakak traktir kamu "
" Ngga bisa gitu dong Kak. Nanti aku minta ganti sama Kak Satya "
Mereka berdua berjalan menuju tempat Tira.
" Mentang-mentang sekretaris, jam kerja malah kelayapan " suara sumbang berhasil menghentikan langkah mereka. Dan berbalik menuju sumber suara.
______________________________________________
Bersambung ...