
Tira sudah ada didepan pintu kost yang akan Ia tinggali dengan bantuan abang ojek yang menjemput dari gedung tinggi tersebut.
" Terimakasih Mba " ucap tukang ojol menerima helm serta tambahan tips, lalu pergi.
Tira masih berdiri didepan rumah berpagar hijau tersebut, Ia berbalik badan ketika seorang wanita memanggilnya dari belakang.
" Nyari siapa Mba ? " tanya wanita tersebut.
" Saya cari ibu Susi, bu " jawab Tira
" Saya ibu Susi. Ini Mba Tira yah ? " tanya nya sambil melihat penampilan dari atas sampai kaki. Dan yang
Ko' beda yah, sama yang difoto. Ibu Susi.
Foto yang dimaksud ibu Susi adalah foto Tira yang diperlihatkan oleh Rina dari akun instagram Tira. Rina adalah keponakan dari Ibu Susi dan sekaligus akan menjadi ibu kost untuk Tira.
" Sini masuk Mba " ucap Ibu Susi, yang diikuti oleh Tira.
Ibu Susi menjelaskan peraturan yang berlaku. Maklum saja, semua yang kost disini adalah wanita. Dan karena naluri seorang ibu juga, Ibu Susi juga memberlakukan peraturan untuk anak kostnya. Mulai dari Jam malam, kegiatan mingguan, sampai urusan kebersihan.
" Ini kamarnya Mba Tira dan ini kuncinya " ucap Ibu Susi
***
Ia melihat sekelilingnya, tak ada yang special. Hanya ada se-set kasur, lemari dan sebuah meja kecil. Ia mengeluarkan pakaian yang dibawanya dari ransel yang digunakan. Hanya ada 2 set pakaian. Dan untuk perlengkapan lainnya, diam-diam Tira mengirimnya dengan ekspedisi khusus pengantar paket yang sudah dilakukan dua hari lalu. Artinya kemungkinan paketnya akan diterima hari ini.
Ia merebahkan dirinya di kasur yang ukurannya lebih kecil dari kasur miliknya dirumah. Ia terlelap dengan pulas, sampai terbawa dalam mimpi.
***
Kantuknya hilang, ketika berkali-kali getaran ponselnya mengganggu tidurnya. Ia melihat panggilan video dari Mamahnya dan mengangkatnya tanpa ragu.
" Mba dimana sih ? " tanya Mamah dengan khawatir
Tira menjelaskan kepergiannya. Mamah sudah nampak lebih tenang. Namun tetap saja ada rasa khawatir. Anak perempuannya tinggal di kota besar seorang diri. Dan ditambah pengalaman masa lalu, yang hampir saja diterima oleh Tira.
" Mah, jangan nangis dong. Tira kesini kerja. Tira juga bisa jaga diri " ucapnya merasa bersalah
" Mba. Kalo pun Rayan ga kuliah. Rayan bisa cari kerja Mba. Mba ga harus kerja di Jakarta kaya gini " ujar Rayan
" Yan. Sekarang cari pekerjaan itu susah. Apalagi untuk lulusan SMA. Bukannya Mba takabur. Tapi apa salahnya usaha. Mba usaha disini. Kamu juga usaha untuk belajar. Mungkin jerih payahnya bukan sekarang dinikmati, tapi nanti akan terasa. Mba ngga minta yang neko-neko sama kamu. Kamu belajar yang rajin, sekarang kamu yang Mba andalkan untuk jaga Mamah dan Ayah " tegas Tira
" Baik, komandan. Saya laksanakan " ucap Rayan, sambil memberi salam hormat seperti kemiliteran.
" Bagus. Ingat, jangan suka bolos sekolah lagi " ucap memberi nasihat.
" Tapi, Mba ga harus sampai ke Jakarta Mba " ucap Mamah.
" Mah, ini udah jadi tugas Tira. Tira anak pertama dan sudah semestinya Tira yang tanggung jawab untuk memenuhi semuanya "
" Tapi masih ada usaha Ayah. Kita masih bisa makan dari situ " ucap Mamah yang masih menangis tersedu-sedu.
" Tira tahu. Tira paham Mah. Kalau untuk makan kita masih bisa ambil dari usaha Ayah. Tapi untuk Rayan bayar kuliah dan obat Ayah ? Kita ngga bisa mengandalkan dari situ Mah " Tira terlihat tenang menjelaskan semuanya.
" Meski Tira perempuan, tapi Tira anak pertama. Sudah seharusnya bertanggung jawab " lanjutnya lagi.
" Mah, doa in Tira yah. Semoga semuanya baik-baik aja. Mamah jangan nangis lagi ya " pinta Tira
Sambungan terputus ketika, Mamah sudah mengeluarkan unek-unek kegelisahan hati.
Dilihatnya layar ponsel tersebut, ada beberapa panggilan tak terjawab dari no tak dikenal dan notifikasi bahwa sebuah pesan masuk.
" Selamat sore Ibu Zatira Amalia. Saya Aan dari GIANT CORP. Sebelumnya saya akan memberi tahu, bahwa Ibu lulus dari test psikotest. Dan dengan demikian, saya ingin mengundang interview besok, pukul 10 pagi. Apakah ibu bersedia untuk hadir ? "
Ini Pa Aan telfon sampai 5 kali. Terus ini , pesannya udah dikirim dari 3 jam lalu. Enak ga yah kalo bales sekarang ?
Udah, coba aja lah Ra.
" Selamat malam Pa Aan, saya ingin menginformasikan, bahwa saya akan hadir besok pagi.
Terimakasih atas informasinya " begitu keterangan balasan pesan dari Tira
***
Tira menuruni anak tangga menuju rumah pemilik kost. Ia ingin mengetuk pintu rumah tersebut.
" Ada apa mba ? " ucap wanita yang berada dibelakangnya.
" Oh Ibu Susi. Saya mau tanya sesuatu Bu " ucap Tira
" Tanya apa mba ? "
" Kalo minimarket atau warung kelontong dekat sini ada bu ? " tanya Tira.
" Kalo warung kelontong ada. Tapi tutup, ibu baru dari sana. Kalo minimarket ada, tapi agak jauh sedikit. Paling 10 menit dari sini kalo jalan kaki. Pertama keluar komplek dulu. Nanti nyebrang dua kali jalan raya. habis itu ... "
Ibu Susi menjelaskan letak minimarket tersebut.
Kalo harus keluar komplek, nyeberang dua jalan raya, lewati 1 jembatan besar ditambah 3 kali perempatan. Itu bukan agak jauh. Tapi jauh banget namanya. Mungkin orang dulu kuat jalan kaki, tapi untuk orang jaman now, 100 m aja udah pake motor karena magernya bu. Tira
" Paham Mba ? " tanya Ibu Susi yang sadar bahwa wajah Tira terlihat tidak bersemangat mendengar letak minimarket jika harus berjalan kaki.
" Saya ulang ya Mba,... " ujar Ibu Susi.
" Ngga usah Bu. Biar saya cek di ojek aja " tolak Tira
" Oh gitu. Kalo gitu saya masuk dulu ya Mba " ucap Bu Susi meninggalkan Tira yang berada didepan rumahnya.
" Makasih Bu " ucap Tira, lalu mengambil ponselnya yang berada didalam kantung celana.
Setelah itu, Ia membuka GPS untuk melihat keberadaan minimarket terdekat dari tempatnya sebelum memesan ojek online.
***
Jika mengikuti arahan Ibu Susi, bukan 10 menit dengan berjalan kaki, mungkin bisa sampai setengah jam lebih. Karena dengan kendaraan roda dua, sudah menghabiskan waktu 15 menit.
Tira masuk kedalam minimarket tersebut. Dan mengambil sebuah keranjang untuk tempatnya. Ia mencari lorong tempat berjajarnya kebutuhan untuk membersihkan diri. Ia memilih sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampoo, lotion serta kebutuhan wanita lainnya. Dan mengambil beberapa lembar uang berwarna biru dari mesin ATM yang tersedia disana.
Setelah selesai, Ia berbaris mengantri didepan kasir untuk membayar. Didepannya ada laki-laki bertubuh tinggi. Tidak terlihat wajahnya, namun aroma parfume yang digunakannya menyeruak sampai pada hidung mancung Tira.
Wanginya enak banget.
Aromanya bukan kaleng-kaleng.
Enak banget. Puji Tira dalam hati
" Pak " ucap Tira pada lelaki yang beberapa menit lalu. Namun, lelaki tersebut sepertinya tak mendengarkannya.
" Ada apa Mba ? " tanya Mba Kasir berseragam merah
" Ngga apa-apa Mba " ucap Tira, lalu mengambil sesuatu dari lantai tersebut.
______________________________________________
Bersambung ...