
" Syad " ucap Tira berusah melonggarkan tangan Arsyad yang melingkari di pinggang Tira. Mendorong dada Arsyad untuk sedikit menjauh. Semakin dicoba, semakin erat lingkaran tersebut. Bahkan posisinya sudah berubah. Dari berhadapan dengan tegak, sampai posisi badan atas Tira membusung kebelakang. Namun Arsyad masih terus menatapnya dan tak bergerak menjauhi. Bagai drama difilm korea.
" Apa ? Apa yang mau dijelasin ? " matanya enggan bergeser dari wanita yang ada dihadapannya dengan sangat dekat.
" Jangan kaya gini. Nanti ada yang liat " masih sangat risih dengan posisinya kini.
prekkkk... pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Mata dua sejoli tersebut menatap tamu yang masuk tanpa izin. Segera mereka merubah posisi. Tira berdiri disamping Arsyad, setelah lingkaran tangan Arsyad sudah dilepaskan.
" Arsyad " ucap seorang lelaki tua dengan suara yang memenuhi isi ruangan yang terasa sunyi seketika.
" Apa-apaan kalian ? " tanyanya dengan nada tinggi, penuh emosi, wajahnya merah padam. Laki-laki tersebut berjalan mendekat. Diikuti seirang pria yang jauh lebih muda dibelakang mereka. Pasangan tersebut hanya menunduk, menahan rasa malu. Wajah cerianya berganti dengan ekspresi kecemasan.
" Jelasin, apa yang kalian lakukan ? " Nada tingginya sudah tak ada. Namun masih jelas terlihat kemarahan. Dari Arsyad, yang mencuri pandangan. Lalu menundukkan pandangannya kembali.
" Jelasin sekarang ? " Pria tua tersebut, menjewer telinga Arsyad. Nampak jelas, pria yang didepannya sangat kesal. Namun berbeda dengan pria yang jauh lebih muda dari pria tersebut. Irsyan, hanya menggelengkan kepala dan sesekali tersenyum, tak bisa menahan tawanya dengan baik.
" Ampun Bi, ampun " pinta Arsyad yang merasakan kesakitan telinganya ditarik.
" Jelasin, apa yang kalian lakukan ? " tegasnya sekali lagi. Irsyan dengan senyum kebahagian mengabadikan moment lucu itu dengan ponselnya.
" Ampun Bi. Itu cuma salah paham " Arsyad mengusap daun telinganya yang memerah, setelah terlepas dari jeweran Abi yang menyakitkan.
" Kalian tuh yah " ____ " Haduuuhhhh Syad, kamu mau bikin Abi jantungan apa yah ? " berusaha mengendalikan emosinya dan bernafas dengan baik.
" Sukurin. Omelin aja Bi. Ingat, kalo berdua, yang ketiga itu setan " Isyan menambahi, lalu menghentikan mengambil gambar dan meletakkan ponselnya didalam saku baju.
" Jangan mentang-mentang kalian udah lamaran. Bentar lagi nikah. Tetap aja masih belum halal. Belum bisa peluk-pelukan " menatap Arsyad dengan tajam.
" Syan, telfon Ustad Syarif pemilik pesantren itu " perintahnya pada Irsyan.
" Untuk apa Bi " sudah mengeluarkan ponselnya dari kantong.
" Mau daftarin Arsyad ke pesantren. Biar belajar agama lagi. Belajar dari MI lagi. Biar tahu mana yang halal,mana yang haram. Yang bathil, mubah , wajib atau sunnah " tegasnya
( MI \= Madrasah Ibtidaiyah, setingkat dengan Sekolah Dasar )
" Bi, jangan Bi " tolak Arsyad yang tak percaya apa yang diucapkan oleh Abi nya itu. Jika Abi sudah memerintah dan berkata, akan sulit untuk menolaknya. Bahkan mengemukakan pendapat saja tak bisa. Abi mempunyai pendirian yang kuat dan tak mudah dibujuk rayu oleh siapa pun.
" Bi, kalo aku masuk pesantren, aku bakal gagal nikah dong " ucapnya penuh putus asa. Yah sebenarnya Abi tak sejahat itu, Arsyad hanya mencoba meredakan saja dengan apa yang Ia bisa.
" Biarin aja. Lagian bagus dong kalo kamu masuk pesantren. Belajar agama yang baik, sebelum jadi kepala keluarga yang baik. Pernikahan itu ada tanggung jawabnya. Kalo kamu aja masih ngga tahan diri, gimana kamu bisa jadi pemimpin di keluarga ? "
" Syad, Syad. Astaghfirullah " Abi mengusap wajahnya gusar
" Bi, jadi telfon Ustad Syarif ? " Irsyan sudah menunjukkan layar ponselnya.
" Bang, jangan Bang " Arsyad mengambil ponsel Irsyan, lalu memasukkan ponsel tersebut di kantung celana.
" Tira, jangan mau kamu sama laki-laki kaya gini. Kalo ada laki-laki yang ajak kamu ke hal yang tidak baik. Langsung tinggalin aja " ucap Abi, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Tira mengusap dadanya. Menghilangkan sedikit getir dan kegugupan yang dirasa.
" Ra, kamu kembali ke meja sekarang " ucap Irsyan, lalu diikuti oleh Tira tanpa menjawab.
" Syad, hmmm " mengusap pundak Arsyad.
" Bang, ngga gitu ceritanya. Maksud aku ... " Arsyad berusaha menjelaskan.
" Syad, siapa pun yang liat akan berasumsi sama kaya Abi "
" Tapi abang percaya kan ? Arsyad ga lakuin apa-apa sam Tira "
" Iyah, abang percaya " menepuk pundak adik laki-laki nya, lalu berjalan menuju luar pintu dan sedikit berbalik badan sebelum benar-benar keluar ruangan Arsyad.
" Syad, bawa laporannya sekarang. Bawa ke ruangan Abi " ucap Irsyan.
***
Tira keluar ruangan dan dilihatnya ada Nana yang sedang mengerjakan laporan. Ia jadi salah tingkah dan tersadar mengenai kejadian diruangan Arsyad.
Apa dia denger yah ?
Mana Abi tadi suaranya kencang banget lagi.
Pasti denger nih si Nana.
Tira duduk dikursinya, sesekali memperhatikan Nana yang masih sibuk.
" Kenapa, dari tadi lu ngeliatin gw kaya gitu terus sih ? " berbicara pada Tira, namun mata menatap layar komputer dan jari lentiknya menekan tombol pada keyboard.
" Ko lu tau sih ? " ucap Tira salah tingkah.
" Kleiatan dari sini " Nana merubah posisinya menghadap Tira dan menunjuk sudaut matanya.
" Ohhh " ___ " Btw, lu denger yang tadi ga ? "
" Hmmm. Denger apa yah ? " Nana melanjutkan pekerjaannya.
" Yang diruangan Pa Arsyad barusan " ucapnya agak sedikit ragu, namun ia harus tetap bertanya.
" Hmmmmm " gumam Nana
" Aduhhhh " Tira menepuk keningnya.
" Tapi yang lain denger juga ? " melihat rekan satu ruangannya masuk satu per satu dan duduk ditempatnya masing-masing.
" Bisa iya, bisa ngga " jawab Nana singkat.
" Bisa iya, bisa ngga. Gimana maksudnya ? "
" Hmmm. Nanti aja gw ceritanya. Mau kasih laporan dulu sama Pa Arsyad " ucapnya lalu segera mengirimkan email
" Nana, laporannya apa sudah dikirim ? " tanya Arsyad yang baru saja keluar ruangan dan berdiri didepan meja Nana
" Sudah Pa. Baru saja saya email "
Arsyad mengecek email dari laptop yang ada ditangannya. Memastikan email yang diterima dari Nana.
Sebelum pergi, Arsyad melihat Tira sekilas. Pandangan mata mereka bertemu. Lalu, Tira mengalihkan pandangannya ke layar komputer didepannya.
" Ok. Udah masuk emailnya. Makasih " ucap Arsyad lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
***
Sudah pukul 5 sore, pekerjaan yang menumpuk sudah sedikit berkurang. Tidak ada juga laporan yang urgent. Artinya Ia tak perlu pulang malam karena pekerjaan.
" Na, ayo cerita " Tira menarik tangan Nana yang sudah berdiri dari kursinya.
" Iya Ra, nanti gw cerita yah. Gw lagi buru-buru nih " ___ " Bye Ra " Nana meninggalkan Tira dengan tanda tanya yang masih menghantui kepalanya.
Ia melihat kearah rekannya yang sedang bersiap untuk pulang. Terlihat raut wajah lelah saja. Satu persatu rekannya meninggalkan ruangan.
Apa mereka ga denger yah ?
Kalo mereka denger, pasti udah jadi bahan guyonan satu kantor nih.
Tira berdiri dari kursinya, sambil berjalan Ia mengikat rambutnya jadi satu. Rambutnya yang terikat membuatnya nyaman ketika menggunakan helm saat berkendara.
Sebelum Ia keluar ruangan, ada seseorang yang menarik lengannya. Ia menatap orang tersebut dengan kebingungan.
" Mau apa ? " tanyanya dengan satu tangan yang masih memegang rambut. Tangan yang memegang rambut tersebut diturunkan oleh Arsyad. Lalu Ia mengambil pengikat rambut yang berada di pergelangan tangan Tira.
" Balik badan " ucapnya datar. Tira menurut, walau masih bingung dengan tingkah Arsyad untuk kedua kalinya pada hari ini. Rambutnya disentuh oleh Arsyad sampai kepala bagian belakang. Dengan rapih Ia mengikat rambut Tira.
" Udah selesai, pulang sana " mendorong pelan punggung Tira.
" Makasih " kata terucap tanpa berbalik badan pada pria dengan senyuman manis tersebut.
______________________________________________
Bersambung ...