
Telepon dari Rendi tadi membuat Amara tidak selera untuk makan, Bisa-bisanya Rendi mengatakan kalau dia Rindu pada Amara apapun yang Rendi katakan dan apapun yang akan dia lakukan tidak akan merubah hati Amara.
.
.
Setelah itu Amara memutuskan untuk membawa pulang semua pesanannya dan langsung pergi.
.
Malam hari ditengah perjalanan pulang Amara melihat ada pasar malam karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, Amara memutuskan turun dari mobil taksi untuk melihat-lihat dan ingin mencoba beberapa permainan di pasar malam itu.
.
.
Telepon Amara berbunyi...
"Halo mas... " Amara mengangkat telepon.
"Sayang kamu sedang dimana berisik sekali..?" kata Wisnu.
"Aku sedang di pasar malam sendirian tenang saja mas tidak jauh dari rumah... "
"Oh begitu ya sudah hati-hati mas baru selesai kerja mau istirahat.."
"Iya mas selamat istirahat..."
.
.
Setelah menutup telepon dari Wisnu, Amara melanjutkan jalan-jalan di pasar malam itu dan mencoba beberapa permainan.
.
.
Beberapa jam tak terasa sudah berlalu Amara merasa cape dan melihat ada pedagang permen kapas saat akan menuju kesana Amara tersandung.
"Aaaaaa....." teriak Amara.
Dengan sigap Rendi menangkap tubuh Amara yang ternyata setelah pulang dari kantor Rendi mencari tahu keberadaan Amara dan mengikutinya di pasar malam itu dari tadi.
"Rendi.....?" Amara terkejut dan langsung bangun sembari menyingkirkan pelukan Rendi dari tubuhnya.
"Untung saja aku tangkap kalau tidak kamu sudah jatuh Mara.. " kata Rendi
Di sisi lain ada Wisnu yang baru datang dan melihat kejadian itu.
"Sayang.....!" teriak Wisnu yang berada tidak terlalu jauh dari Amara dan Rendi.
"Mas Wisnu... kamu sudah pulang sayang.." Amara mengahampirinya.
"Kamu sedang apa dengan pak Rendi disini, Bukannya kata kamu tadi sendirian kepasar malamnya...?" Wisnu curiga.
"Aku dari tadi memang sendirian aku dengan Rendi maksudnya pak Rendi tidak sengaja bertemu dan pak Rendi hanya menolong aku yang hampir jatuh tadi... " Amara gugup.
"Mara benar maksudnya Amara benar pak Wisnu saya baru saja datang dan melihat Amara akan terjatuh dan menolongnya.." Rendi meyakinkan Wisnu walaupun sedikit gugup.
"Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dari tadi sore dan sengaja tidak memberi tahu kamu kalau aku pulang cepat untuk memberi kejutan untuk kamu, Waktu telepon tadi sebenarnya aku sudah berada dijalan.." jawab Wisnu.
"Oh begitu emmm ya sudah ayo kita beli permen kapas aku mau itu mas... " Amara mengajak Wisnu dan menutupi rasa gugupnya.
"Tapi pak Rendi bagaimana...?" kata Wisnu.
"Tidak apa-apa silahkan saya juga mau mencari barang titipan Ratih..." jawab Rendi
"Oh baiklah kalau begitu kami pergi dulu pak.. " kata Wisnu.
.
.
Setelah meninggalkan Rendi, Amara dan Wisnu pergi membeli permen kapas.
Saat kejadian Rendi menangkap tubuh Amara tadi Amara sangat terkejut dan gugup dia takut Wisnu salah paham melihat kejadian itu, Tapi untunglah Wisnu percaya kalau itu hanya kecelakaan kecil yang tidak disengaja.
.
.
.
Sembari duduk di sebuah bangku Amara memakan permen kapas bersama Wisnu
"Aku kira kamu baru besok pulangnya mas...!" kata Amara.
"Tadinya begitu,Tapi mas sudah tidak sabar ingin bertemu kamu karena Rindu.. " Wisnu menggoda Amara.
"Emmm aku juga Rindu sekali sama kamu mas... " Amara memeluk Wisnu sembari tersipu malu.
"Mas kira kamu tadi kesini dengan pak Rendi, Soalnya pas aku sampai disini kamu sedang dipeluk pak Rendi... " sembari cemberut.
"Sayang aku tadi sudah bilang itu hanya kecelakaan kecil yang tidak di sengaja tadi pak Rendi menolong aku yang akan terjatuh karena tersandung, Kamu masih tidak percaya...? "
"Iya iya aku percaya..."
"Kamu cemburu ya....? " Amara menggoda Wisnu.
"Pastilah aku cemburu..." jawab Wisnu
"Maaf ya sayang aku sudah bilang tadi tersandung kebetulan pak Rendi ada disana, Kamu jangan cemburu begitu ya... " Amara terus mengulang dan menjelaskan kejadian tadi untuk meyakinkan Wisnu.
.
.
.
.
.
Selamat membaca 😉