
Tubuh Rendi terasa lemas setelah mendengar jika anak yang di kandung Ratih tidak bisa di selamatkan, Dia memang tidak mencintai Ratih tapi, Hatinya terasa sakit dan begitu sedih mendengar informasi tadi.
.
.
.
Perlahan Rendi bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan rawat, Saat masuk Rendi melihat wajah Ratih yang berpaling sama sekali tidak melihat kearahnya, Jelas sekali terlihat jika Ratih sedih dan kecewa matanya tidak henti berlinang air mata yang di usap oleh Ratih yang terus berjatuhan di pipi.
.
.
Rendi mencoba menghampiri Ratih dan duduk di dekatnya.
"Bagaimana keadaan kamu..? Apa perlu sesuatu...?" tanya Rendi
"Kamu tidak perlu berpura-pura perhatian pada aku mas, Aku tahu kamu hanya kasihan melihat kondisi dan keadaan aku sekarang... " Ratih sembari membelakangi Rendi
"Aku tahu kamu pasti sedih karena kehilangan anak kita,Tapi...." suara Rendi tertahan karena Ratih memotong pembicaraannya
"Tapi apa mas...? Aku tahu kamu senang bukan karena anak kita sudah meninggal, Jadi kamu sekarang tidak punya alasan apa-apa lagi untuk tidak meninggalkan aku..." Ratih berbalik melihat ke arah Rendi
"Aku minta maaf jika memang aku sudah menyakiti kamu Ratih, Tapi aku benar-benar tidak bisa membohongi perasaan aku pada Amara yang aku simpan dari dulu..." jawab Rendi merasa bersalah
"Dari dulu....? Berarti kamu dan Amara memang sudah kenal sejak dulu lalu Aku dan mas Wisnu suami Amara tidak tahu akan hal itu, Kalian memang sangat hebat menyembunyikannya dari kami, Lalu apa saja yang sudah terjadi antara kalian di masa lalu...? apakah si Amara itu dulu adalah wanita panggilan untuk hasrat kamu mas, Atau...! " suara Ratih terpotong oleh Rendi
"Cukup Ratih...Amara bukanlah wanita seperti itu, Dia wanita terbaik, Dia adalah wanita terhormat dan aku mencintainya dengan tulus, Hanya saja aku terlambat menyadari perasaan itu... " Rendi hampir tidak bisa menahan emosinya pada Ratih
"Bahkan di saat aku masih terbaring sakit dan merasa sedih karena kehilangan calon anak kita kamu masih membela si Amara itu di depan aku mas...! Apa kurangnya aku mas..? tidak bisakah kamu melupakan dia dan perbaiki rumah tangga kita saja... " kata Ratih mencoba meluluhkan hati Rendi
"Sudahlah kamu tidak akan mengerti, Istirahat saja dulu supaya kamu cepat sembuh aku harus pergi dulu... " Rendi sembari meninggalkan Ratih
"Mas... Mas Rendi..." Ratih terus berteriak memanggil Rendi namun Rendi tidak mempedulikannya dan meninggalkan Ratih yang masih merasa lemas dan sakit.
.
.
Sementara itu Wisnu dan Amara sedang berbahagia menyambut anak mereka.
"Sayang aku sudah melihat anak kita, Dia cantik sama seperti ibunya... " kata Wisnu yang baru saja masuk langsung menghampiri Amara
"Bagaimana keadaan anak kita mas, Dia baik-baik saja bukan..?Soalnya dia lahir prematur aku sangat khawatir..." tanya Amara yang masih lemas
"Dia baik-baik saja dan sudah di tangani oleh dokter juga suster, Apa kamu perlu sesuatu...?" tanya Wisnu
"Syukurlah jika anak kita sehat dan selamat, Tidak mas aku belum perlu sesuatu tapi, Emmm bagaimana keadaan Ratih dan anaknya mas...?" Amara merasa khawatir
.
.
Karena melihat anaknya Wisnu jadi lupa masalah yang terjadi antara Amara dan Ratih tadi, Dia juga belum sempat menanyakan kabar Ratih dan anaknya pada Rendi.
"Sudahlah kamu istirahat saja dulu supaya cepat sehat jangan banyak pikiran dulu, Aku beli makan dulu sebentar ya...! " Wisnu berpamitan dan mencium kening Amara
.
.
.
Tidak lama setelah Wisnu keluar ruangan Rendi masuk ke dalam ruangan Amara.
"Kenapa mas, Apa ada yang terting....gal... " saat menengok ternyata yang datang adalah Rendi
"Aku baik-baik saja, Kenapa kamu ada di sini..? Seharuanya kamu bersama Ratih menemaninya, Ratih dan anaknya baik-baik saja bukan...?" kata Amara
"Ratih baik-baik saja, Tapi anak kami tidak bisa di selamatkan..." Rendi terlihat sedih
"Maafkan aku, Aku tidak tahu emmm aku turut berduka atas kepergian anak kalian, Lalu kenapa kamu kesini..? Kamu seharusnya menemani Ratih sekarang karena dia pasti sangat sedih.. " kata Amara
"Kami malah bertengkar dan Ratih masih terus membahas masalah yang belum selesai tadi... "
"Rendi kamu sudah dewasa, Kamu tidak bisa lari terus menerus di saat mempunyai masalah justru sekarang kamu harus menjadi orang untuk menguatkan Ratih dan juga menghiburnya... "
"Tapi aku khawatir dengan keadaan kamu...? " Rendi memegang tangan Amara
"Aku dan anak aku baik-baik saja jadi silahkan pergi temui Ratih dan selesaikan masalahnya.. " Amara langsung melepaskan tangan Rendi dari tangannya
"Aku sudah menjelaskan pada Ratih tapi, Dia tetap saja menyalahkan kamu... " kata Rendi terdengar emosi
"Jika aku yang berada di posisi Ratih, Aku juga mungkin akan melakukan hal yang sama, Kembalilah pada Ratih dan lupakan semua tentang kita di masalalu Rendi... "
"Kamu selalu mengatakan lupakan dan lupakan, Tidak tahu kah kamu selama ini aku sudah mencoba terus melupakan kamu dan semua tentang kita, Tapi aku tetap tidak bisa bayangan kamu malah semakin nyata penyesalan aku semakin membuat hati aku sakit, Sudahlah kamu dan juga Ratih sama saja tidak mengerti perasaan aku..." nada suara Rendi begitu tinggi dan meninggalkan Amara.
.
.
.
Rendi pikir dengan dia menemui Amara menceritakan kesedihannya Amara akan bersimpati dan perhatian padanya, Tapi ternyata tidak.
Rendi sangat sedih kehilangan anaknya di tambah lagi Amara yang terus saja semakin menjauh, Di pemakaman anaknya di saat semua orang sudah pulang Rendi milih untuk tetap di sana.
"Andaikan saja kamu tidak pergi nak, Mungkin kamu bisa mengerti dengan perasaan papah... " Rendi berbicara sembari menabur bunga di atas kuburan anaknya
"Walaupun papah tidak mencintai ibu kamu, Tapi papah sedih kamu pergi secepat ini maafkan papah karena tidak bisa menjaga kamu.." air mata Rendi terus mengalir di pipi lalu dia usap.
.
.
Kesedihan Rendi begitu terasa berat dia tidak tahu harus berbuat apa setelah ini tubuhnya terasa lemas, Perasaanya seperti di acak-acak tidak tahu apa yang di rasa.
"Saya turut berduka Rendi... " kata Wisnu yang baru sampai
"Terimakasih..." jawab singkat Rendi
"Setelah istri kita sehat saya kira kita berempat perlu bicara secara serius supaya tahu permasalahan sebenarnya dan bisa mencari jalan keluar masalah itu... " kata Wisnu
"Baik saya setuju..." Rendi berdiri dan meninggalkan Wisnu, Rendi yang biasanya banyak bicara kini benar-benar merasa malas untuk berdebat atau mengobrol dia hanya ingin sendiri dan menenangkan diri serta hati.
Wisnu juga paham dengan kesedihan Rendi dia datang ke pemakaman itu setelah tahu dari Amara jika anak Ratih dan Rendi tidak bisa di selamatkan.
.
.
.
.
.
selamat membaca 😉