Rahasia

Rahasia
EPI. 68 RUMAH SAKIT


Flashback On


Di jam seperti ini, biasanya sebagian penghuni rumah sudah menikmati malamnya. Tapi tidak untuk kali ini. Ada guratan kesedihan yang tercampur dengan kecemasan. Serta tangisan yang membuat suasana begitu menyedihkan.


Kring.... suara terdengar dari ponsel. Ada sebuah panggilan dari ponselnya. Ia mengambil ponsel tersebut, tertulis nama BIAWAK JUMBO disana. Ia ragu untuk mengangkatnya.


" Siapa Yan " Mamah mengusap air matanya.


" Mba Tira. Mah " ___ " Rayah angkat yah " meminta persetujuan sang ibunda. Lalu dijawab dengan anggukkan.


Ayah mengusap punggung Mamah, menyandarkan kepala istrinya disisi lengannya. Tak ada obrolan dari mereka. Hanya kalimat tasbih, yang terdengar dari kedua orang tuanya.


" Halo Mba "


" Yan, jemput Mba di Mall XXX yah. Nanti Mba tunggu di depan lobby utama aja. Yang didekat pintu keluar parkir mobil yah " instruksi Tira pada Rayan.


" Iya Mba " sambungan telfon tersebut terputus. Rayan sudah jelas dengan isntruksi Tira dengan sekali pengucapan.


" Mah, Rayan pergi dulu yah. Mamah sama Ayah mau ke rumah sakit sekarang ? " melihat Ayahnya sudah bangkit dan menggunakan jaket. Ibu nya menggunakan syal untuk menghangatkan diri.


" Iya " jawab Mamah


" Apa ngga besok pagi aja Mah ? " tanya Rayan


" Mamah ga tenang Yan. Mamah khawatir " ucap Mamah


" Mba mau diajak kerumah sakit apa kerumah dulu ? " tanya Rayan bingung


" Ke rumah aja Yan. Kasian Mba, belum istirahat " jawab Ayah, karena setelah pulang dari kantor Tira pergi untuk bertemu temannya.


" Nanti kalo tanya Mamah sama Ayah kemana ? Rayan jawab apa ? " tanya Rayan


" Bilang aja kerumah budeh. Besok pagi aja kasih taunya. Kamu ganti baju dulu. Baju kamu yang ini ada noda darahnya " tunjuk Mamah pada kaus lengan pendek yang dikenakan Rayan.


" Ayah bawa mobil aja. Nanti Rayan jemput mba pake motor " ucap Rayan. Rayan mengambil kunci motor yang dipegang Ayah dan memberikan kunci mobil.


" Kamu hati-hati yah. Jangan ngebut-ngebut. Kalo Mba ngga tanya, jangan dikasih tau dulu yah. Biar Mba istirahat dulu " ucap Mamah mengingatkan kembali


" Iyah Mah " Ayah dan Mamah pergi ke rumah sakit dan Rayan menjemput Tira, setelah sebelumnya mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Rayan mengambil mengenakan jaket yang Ia gunakan tadi dan tas kecil untuk menaruh ponsel dan dompetnya.


Rayan masih mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Sebenarnya Ia masih belum bisa menguasai dirinya dengan baik. Kakinya masih bergetar. Melihat darah mengalir dari pria yang tergeletak dipinggir jalan. Dijalan yang cukup sunyi dan jauh dari pemukiman.


Sesekali Ia mengusap keningnya yang mengucur keringat. Ia melaju dengan kecepatan sedang. Ia harus berhati-hati. Ia harus menjemput Kakaknya yang sudah menunggu dipinggir jalan. Bahaya, itu kata yang terlintas pertama kali dibenaknya. Bahaya jika sendiri dipinggir jalan. Jika ada lelaki tak bertanggung jawab disana. Ia tak mau, jika terjadi hal yang tak diinginkan seperti waktu itu. Ia sangat menyesal dengan membiarkan Kakaknya ke minimarket sendiri dan berakhir dengan ... Ahhh memori buruk terus menghantuinya. Mengikutinya bagai bayangan yang tak pernah pergi.


Ia mendekat ke lokasi yang diinstruksikan sang Kakak. Mall yang begitu ramai, kini sangat terlihat sepi di jam malam seperti ini. Syukurlah, tenang rasanya, sang Kakak masih ditemani sahabatnya.


" Udah diem. Ada Rayan tuh " Rara melihat Rayan sudah hampir mendekat.


" Mba kenapa ? " tanya Rayan cukup shock dengan mimik wajah sang Kakak.


" Lagi mikirin Arsyad " jawab Rara dengan cepat.


" Udah Ra. Istirahat. Jangan pikir macam-macam. Banyak-banyak berdoa biar tenang. Biar semuanya baik-baik aja. Semua akan berjalan dengan lancar " saran Rara


" Iya Ra. Makasih ya Ra. Hati-hati yah " ucap Tira , lalu duduk dimotor yang dibawa Rayan. Tak lupa helm untuk keselamatan.


Mendengar ucapan Rara, hati Rayan berdesir hebat. Bingung, Ia ingin mengatakan tapi juga ada sebersit ragu dihatinya.


flashback off


" Mba helmnya udah dipake ? " melihat Tira dari kaca spionnya.


" Udah, yuk " tepukan isyarat dibahu Rayan.


Rayan memperhatikan mimik wajah Tira dari kaca spionnya.


" Mba, kenapa nangis ? " tanya Rayan untuk mengetahui alasannya. Apakah Tira sudah mengetahui hal yang ingin dibicarakannya atau ada hal lain.


" Arsyad, Yan " ucap Tira dengan isakan dan jemari lentiknya menghapus air mata yang membasahi pipi.


" Udah Mba diem. Mba tuh kalo nangis tuh jelak banget. Apalagi suaranya sember, kaya galon kosong. Jelek banget, bikin telinga sakit " guyon Rayan. Sebenarnya mau bagaimana pun Tira, Ia terlihat cukup cantik. Hanya sedikit kadar kecantikan nya sedikit turun dengan wajah sembab seperti itu.


" Ihhh. Jangan ngeledek deh " tangisannya pun berhenti. Ia sudah terlihat tenang.


" Mba ngantuk yah. Sini peluk Rayan aja. Anggap aja Rayan itu Mas Arsyad " ucap Rayan melihat Tira menguap.


" Dih. PeDe sekali kamu. Siapa juga yang mau tidur "___ " hoammm " matanya tak dapat menyembunyikan kelelahannya. Ia tertidur dengan tangan memeluk pinggang Rayan dan pipi sebelah kanan yang tersandar dibahu Rayan.


Ya Allah semoga semuanya baik-baik saja. Mba, yang sabar yah. Rayan bingung harus cerita dari mana. Tapi Mba juga harus tahu. cemas Rayan.


Sejujurnya ada rasa kasihan terhadap Kakaknya tersebut. Ada yang ingin disampaikan, tapi ragu dengan keadaan. Motornya melaju menuju rumah, semakin dekat Ia memelankan gerak motornya. Tinggal satu gang lagi mereka sampai dirumah. Namun, Rayan berbalik arah menuju tempat lain.


" Ko' belum sampe-sampe Yan " Tira kembali membuka matanya dan melihat sekelilingnya, Ia melihat sisi jalan yang sunyi dan hanya ada beberapa kendaraan saja yang melintas.


" Bentar lagi Mba. Mba tidur aja. Nanti Rayan bangunin kalo sudah sampai " ucap Rayan.


Tira kembali tertidur dibahu lebar sang adik. Rayan menghentikan laju motornya disebuah lahan parkir khusus kendaraan beroda dua. Sedikit sekali kendaraan yang terparkir dijam malam seperti ini.


" Mba bangun. Udah sampe " Rayan melepaskan pelukan tangan kakaknya.


" Ini dimana Yan " mengusap wajahnya yang mengantuk untuk mendapatkan kesadaran.


" Dimana Yan " Tira bangkit dari posisinya, berjalan gontai karena lelah dan mengantuk.


Rayan menggenggam tangan kakaknya dan berjalan menuju lobby utama.


" Rumah sakit ? Siapa yang sakit Yan ? " Tira membaca sebuah nama yang berada dibelakang meja resepsionis tersebut. Rayan tak mejawab dan berjalan menuju satu ruangan.


" Mamah sakit ? Atau Ayah yang sakit ? Jawab Yan, Jawab " Tira menggoyangkan tangannya yang digenggam Rayan. Rayan masih diam membisu.


" Siapa yang sakit Yan " tanya nya dengan wajah yang terlihat bingung.


______________________________________________


Bersambung ...


Heyho readers, maaf yah udah beberapa hari ini aku tak update. Dan Alhamdulillah hari ini aku bisa update 3 episode yeeyyyy 🎉


Berhubung hari ini aku WFH dan ada ide untuk nulis, aku jadi bisa update sebanyak ini. Heheh.


Semoga kita semua sehat dan bisa kembali menjalani aktifitas dengan normal kembali.


Jangan lupa untuk like, koment, kritik dan sarannya yah.


Terimakasih 💙