
Kamu tahu, apa yang sering diucapkan Bang Napi : Ingat, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah.. Waspadalah!
Karena tak waspada dan ( ketidak sengajaan ) mengikuti ajakan seorang teman, Ia menghadapi sebuah masalah besar. Laki-laki di hadapnnya sudah berubah menjadi monster yang menakutkan. Menarik tangan dan rambutnya, menampar pipi, bahkan menggodanya dengan kalimat merendahkan. Seakan wanita panggilan yang bersiap menghibur laki-laki yang kesepian dengan kemolekan tubuh yang dimiliki.
Tira menendang sekuat tenaga ke arah sensitif pria tersebut. Ia berhasil bangkit ketika pria tersebut terjatuh, meringis kesakitan.
" Tolong, tolong " teriaknya berkali-kali. Untung saja pintu gerbang tersebut tak terkunci. Jalan sunyi, lampu penerangan yang minim dan tak ada orang yang Ia lihat.
Bajunya sudah robek disana sini, sudut bibirnya mengeluarkan darah, rambutnya teracak. Tampilannya sudah tak terlihat seperti wanita dengan paras cantik. Ia merasa lelah, duduk dipinggir jalan, dibawah tiang lampu yang cukup terang. Ia tak bisa menghubungi siapapun. Dompet dan ponselnya tertinggal karena terjatuh dirumah Ilham.
" Mau kemana sayang " pria gila tersebut datang dengan senyum penuh nafsu. Menarik, menampar, menjambak dilakukannnya lagi. Penyiksaan belum berakhir. Ia memperluas robekan dari lengan baju Tira. Robekan tersebut melebar sampai leher. Bahkan tanktop tali satu yang dipakai pun terlihat. Ia semakin beringas, bagai singa kelaparan menemukan calon santapan.
" Tolong.. Tolong .. " teriak Tira tak sekuat yang tadi. Tenaganya sudah habis, benar-benar habis.
Ya Allah, tolong hamba mu.
Tolong hamba ya Allah.
Bruk ... sebuah pukulan keras diterima oleh pria gila tersebut. Perkelahian terjadi. Bukan dengan Tira. Melainkan Ilham dan Arsyad. Entah dari mana Arsyad datang. Ia berkelahi dengan Ilham. Yah. Ilham benar-benar seperti monster, tenaganya masih ada. Masih bisa menangkis, menepis dari pukulan Arsyad dan sesekali perlawanan.
Ya Allah, bantu Arsyad.
Arsyad bawa aku pergi Syad.
Tira tergeletak tak berdaya, hanya bisa berdoa dan melihat perkelahian hebat dua pria tersebut.
" Apa-apaan kalian " dua orang security yang menggunakan motor berhenti didekap dua pria yang sedang berkelahi.
" Saya mau diperkosa Pa " ucap Tira, menunjuk Ilham yang jatuh tersungkur. Salah satu security membantu Tira untuk duduk. Dan satu lagi, melerai pertengkaran tersebut. Mungkin jika tidak datang security tersebut, Arsyad akan benar-benar menghabisi pria didepannya tersebut.
" Kamu ngga apa-apa Ra" mengusap tetesan darah dari bibir Tira.
" Aku takut Syad. Aku mau pulang " memeluk Arsyad dan tangisan terpecah.
Arsyad melonggarkan pelukan Tira.
" Mau kemana " ucap Tira bingung. Arsyad tersenyum dan melepaskan hoodynya.
" Pakai Ini yah " ucap Arsyad. Tira mengangguk. Arsyad membatu Tira mengenakan hoody tersebut.
Disaat melihat kelengahan, Ilham berlari menjauh dari tempat tersebut. Tergesa-gesa kembali kerumahnya. Lebih tepatnya bukan masuk rumah. Ia kabur dengan menggunakan mobil yang masih terparkir dipinggir jalan.
" Udah biarin aja. Aku mau pulang " ucap Tira. Arsyad hanya tersenyum tak berkata. Hanya ada rasa kasihan dan marah dihatinya.
" Mba, mau saya bantu buat lapor polisi " ucap salah satu security tersebut.
" Iya Pa. Saya mau orang itu dipenjara " ucap Arsyad dengan tegas.
" Mba tau, rumah orang itu dimana ? " tanya security lagi.
" Tau Pa. Saya juga mau kesana dulu. Dompet sama hp saya jatuh disana " ucap Tira.
" Ayo Mba, mari kita antar " ucap security.
Tira dan Arsyad melapor kejadian tersebut ke polisi bersama dua saksi security. Tira menceritakan kronologi yang menimpanya. Dengan isakan tangisan disela-sela ucapannya. Arsyad sesekali menghapus air mata tersebut. Megenggam tangan wanita yang bersedih. Tira menunjukkan luka yang didapatnya. Dan membuka hoody yang dikenakannya. Betapa kejamnya perlakuan manusia bejat itu.
***
" Assalamualaikum " ucap Arsyad sesampai didepan rumah Tira.
" Waalaikum salam " Mamah membuka pintu
" Ya Allah Mba, ada apa ? Ko kaya gini " penampilan Tira sangat menyedihkan. Meskipun baju robeknya tertutup oleh hoody Arsyad. Namun luka memar dan bibir yang luka tak dapat ditutupi.
Tira menangis terisak.
" Yah. Ayah " teriak Mamah dengan khawatir. Pria baya tersebut sama kagetnya dengan istrinya. Tira masih menangis tanpa mengucapkan kata apapun.
" Sini duduk dulu. Ada apa Mba ? Kenapa Syad ? " bergantian melihat Tira, lalu Arsyad. Mereka berempat duduk di ruang tamu.
" Biar Arsyad aja yang cerita. Tira biar istirahat aja " ucap Arsyad. Ia tahu bahwa Tira tak akan mungkin bisa bercerita dengan baik. Bukan hanya masih shock tapi juga sangat lelah.
" Kamu ke kamar aja. Langsung istirahat aja yah " ucap Mamah khawatir.
Tira beranjak dari kursinya. Lalu tersenyum pada Arsyad. Arsyad juga membalas senyuman tersebut. Arsyad menarik nafas panjang dan menghembuskannya berlahan. Ada dua wajah ke khawatiran didepannya. Ayah dan Mamah Tira yang sejak tadi menunggu cerita. Meski akan terdengar sangat menyakitkan untuk kedua orang tersebut, Ia tetap harus berkata dengan jujur.
" Astaghfirullah " tangisan pecah dari Mamah, tangisan yang begitu menyedihkan dari wanita tersebut. Mamah menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. Ayah mengelus pundak Mamah.
Arsyad juga merasakan hal yang sama. Sakit sekali melihat Tira dengan kondisi saat ini. Wanita yang dijaganya selama ini, hampir saja menjadi mangsa dari keganasan nafsu pria tak bertanggung jawab seperti Ilham.
" Syad. Terimakasih yah. Kamu sudah jaga anak Bapa sama Ibu " ucap Ayah dengan sedih, namun ada kebanggan dengan pria yang akan menjadi calon menantunya itu.
" Maaf Pa. Kalo aja Arsyad bisa langsung temuin Tira tadi, mungkin kejadiannya ga seperti ini " sesal Arsyad
" Kamu ngga salah. Justru kamu hebat. Bapa bangga sama kamu. Ngga salah kalo kamu jadi calon menantu bapa " puji Ayah. Arsyad hanya tersenyum. Kali ini Ia mendengar sendiri pujian yang dilontarkan Ayah Tira. Arsyad bagai oase ditengah padang pasir yang luas.
" Syad, makasih yah. Ngga bisa bayangin, kalo ngga ada kamu " ucap Mamah yang sudah bisa mengendalikan perasaannya.
" Sama-sama Bu. Itu juga udah jadi tugas Arsyad, Bu "
" Syad. Bapa percaya sama kamu. Tolong jaga Tira baik-baik yah. Cuma kamu harapan Bapa sama Ibu " Arsyad tersenyum getir. Sebenarnya ada perasaan senang, tapi tak dipungkiri juga rasa sedihnya melihat Tira diperlakukan seperti yang Ia lihat tadi.
" Yah. Mamah takut, kalo itu penjahatnya belum tertangkap " ucap Mamah gemetar
" InsyaAllah, polisi bisa segera menangkapnya " Ayah mengelus pundak Mamah.
Semoga cepat tertangkap.
Kalo bisa, masuk sel seumur hidup. Arsyad
______________________________________________
Bersambung ...