Rahasia

Rahasia
Epi. 58 SALAH PAHAM


Berkutat dengan setumpuk pekerjaan tak membuatnya lelah. Masih banyak cadangan energi yang tak kasat mata. Walau hanya sebuah senyuman, tapi membuat dunianya terasa lebih bermakna.


" Ayo, Ra. Istirahat dulu " ajak Nana yang sudah beranjak dari kursi kebesarannya.


" Ayo " mereka berdua keluar ruangan. Seperti biasa, antrian lift mengular panjang di waktu siang.


" Eh, ada Zatira cantik. Mau makan yah ? Sini abang temenin "


Huhhuhhh.. sorak para pendengar


" Syuuuttt. Jangan pada sirik kenapa sih " mendekatkan satu jari telunjuknya didepan mulut. Untuk membungkam para heaters yang iri terhadapnya.


" Saya makan siang sama Nana " ucapnya sopan, meski terganggu dengan tingkah lawan bicaranya itu.


" Jadi kamu nolak abang ? " tanyanya dengan muka memelas


" Ngga nolak juga. Tapi .... " ucapannya terhenti melihat sosok pria yang berdiri didepan meja resepsionis, yang ikut mengantri seperti dirinya.


" Tapi apa ? Udah yuk. Kita cepet masuk lift " pria tersebut menggenggam pergelangantangan Tira, memasuki lift yang baru saja terbuka tanpa berbasa-basi.


" Ngapain lu pegang-pegang Tira ? " ucap Nana dengan judesnya, Ia tak suka dan sudah mengetahui bahwa Tira sangat terganggu dengan manusia super PeDe seperti Angga.


" Kenapa lu yang sewot ? Lu cemburu " ujarnya penuh semangat


" Husss. jangan berisik " ucap Tira yang sadar setelah beberapa orang didepannya berbalik badan yang memperhatikan tingkah laku mereka bertiga.


***


Seperti biasanya, kantin penuh dijam makan siang ini. Tira dan Nana sudah berada ditempat duduk dengan masing-masing pilihan menu makan mereka.


" Eh gw gabung sini yah " ucap Angga yang sudah duduk disamping Nana


" Ih ngapain sih kesini " ucap Nana yang risih dengan tingkah Angga


" lu ga liat apa, udah pada penuh. Disini doang yang kosong " menunjuk sekelilingnya.


" Tapi awas loh yah, jangan sampe bikin berisik " ucap Nana yang semakin sebal


" Ok. Sayang " ____ " Eh Ra, maafin aku, aku ga maksud ngegoda Nana ko "


Nana membulatkan matanya. Sedangkan Tira hanya menggelengkan kepalanya.


" Saya duduk sini yah " sebuah suara yang sangat femiliar terdengar ditelinga. Seorang pria muda dengan dua lesung pipi yang duduk disisi Tira. Pria yang berkemeja lengan panjang yang sedikit digulung pada ujung lengan bajunya. Dan yang paling menyenangkan adalah, wangi parfume Arsyad yang meneduhkan. Hahahah lebay, namanya juga jatuh cinta.


" Silahkan Pa " ucap Tira pada Arsyad.


" Kamu makan apa ? " tanya Arsyad yang hanya melihat sebuah mangkuk yang berisi kuah warna kuning


" Soto ayam Pa. Bapa mau coba ? " tawar Tira.


" Ngga. Terimakasih "___ " Kamu ngga pakai nasi ? Emang cukup apa cuma soto ayam doang ? "


" Cukup Pa " jawabnya. Duh bagaimana semakin tak sayang, bahkan hal kecil pun Arsyad selalu memperhatikannya.


" Nih. Biar kenyang " Arsyad memasukan nasi putihnya beberapa sendok kedalam soto yang dinikmati Tira


" Pa, ngga udah pa "


" Jangan diet " ucapnya dengan santai lalu menikmati makan siangnya. Tak peduli pada dua orang yang berada didepannya itu.


" Eh iya. Makasih Pa " yah, meskipun ada rasa cinta, tetap saja menyebalkan jika Arsyad memintanya untuk tidak pernah diet. Sedangkan, ia sudah sering mengatakan Ia tak pernah diet. Dan bentuk tubuhnya karena Ia rajin berolah raga dan lebih mengkonsumsi makanan yang sehat.


***


" Maaf, saya sedang banyak pekerjaan " tolak Tira masih dengan sopan, berusaha menghindari Angga.


" Ra, serius. Aku butuh waktu sebentar aja. Please Ra " sekali lagi, Angga meraih tangan Tira yang berhasil menghentikan langkahnya.


" Aduhhhh. Kalo mau pacaran jangan disini dong " ucap Shifa yang baru saja melihat kedua orang tersebut.


" Oyah. Selamat yah Zatira. Sebentar lagi akan jadi nyonya Angga. Hahha " ledeknya pada Tira, lalu berjalan menuju sebuah ruangan.


"Thanks ya Fa, atas dukungannya " ucap Angga dengan bangga. Seakan didukung oleh Shifa. Padahal wanita yang didepannya sangat enggan memiliki hubungan dengan pria bernama Angga atau pria-pria lain diluar sana. Hanya sebuah nama ARSYAD WAHID yang sudah memenuhi palung jiwa dihatinya.


" Terus mau ngomong apa ? " ucap Tira, masih berusaha sabar menghadapi Angga.


Semenjak kejadian waktu itu, Tira menjadi bahan tranding topik. Dan selalu diberitakan bahwa punya hubungan khusus dengan Angga. Ia tak merisaukan awalnya. Meski akhir-akhir ini, Ia merasa risih dengan berita tersebut. Yang Ia bisa lakukan adalah selalu menghindar dari Angga.


" Aku mau tanya kejelasan hubungan kita Ra ? " ucapnya seperti memohon belas kasih


" Bukankah semuanya sudah jelas. Dan tidak ada yang perlu diperjelas lagi. Saya kira, itu hanya salah paham aja "


" Jadi kamu ngga punya perasaan sama aku ? Jadi, maksud kamu terima bunga pemberian aku..... " ucapnya dengan menundukkan kepala


" Kan mas Angga yang minta aku untuk terima bunga itu. Jadi aku ambil aja " sejujurnya ada rasa kasihan melihat seorang pria yang begitu ceria tertunduk lesu setelah mendengarkan sebuah kejujuran.


" Jadi ini, alasan kamu tolak aku " menggenggam tangan Tira dan menunjuk cincin yang melingkar dijari manis Tira


" Kamu sudah dilamar ? " tanyanya dengan wajah sendu menatap sang pujaan hati


" Iyah, aku sudah dilamar. Maaf yah " melepas tangannya dari genggaman Angga


" Siapa pria beruntung itu Ra ? Apa aku kenal dengan orang itu ?" ___ " Apa aku pantas tanya itu sama kamu. Toh percuma aku kenal sama orang yang beruntung itu. Aku juga gak akan bisa geser namanya di hati kamu. Siapa juga yang mau sama aku ? " ucap Angga yang masih sangat kecewa


" Jangan berkecil hati. Mungkin jodoh kamu ada disekitar sini. Cuma belum terlihat aja. Mas Angga harus percaya diri " Tira menyemangati


" Makasih ya Ra. Semoga kamu bahagia " ucap Angga dengan tulus meski hati terasa sakit. Ia menepuk kedua bahu Tira.


" Zatira. Dokumen yang akan ditandatangani Pa Irsyan, dimana ? " ucap seorang yang berdiri tak jauh darinya. Karena fokus meladeni Angga, Tira tak tahu, sejak kapam Arsyad sudah berada disana.


Haduhhh.. mampussss gw


" Iyah Pa " berlari mengejar Arsyad yang sudah terlebih dahulu berjalan keruangannya.


***


" Gimana rasanya " menggenggam tangan Tira, mengelus jari yang dilingkari oleh sebuah cincin.


" Maksudnya gimana ? Aku ngga ngerti "


" Disayang sayang kaya gini. Dipegang lengan kamu, ditepuk pundak kamu " Arsyad memperaktekan apa yang dilihatnya. Apa yang dilakukan pada Angga pada Tira.


" Ngga ko'. Kamu salah paham aja " mengingkirkan lengan kekar Arsyad pada pundak Tira.


" Kenapa Ra ? " Arsyad mendekatkan wajahnya pada wajah Tira. Dan kini hanya berjarak sangat dekat. Hanya sekitar 10 cm dari ujung hidung Arsyad ke ujung hidung mancung Tira.


" Apa sih Syad " Tira berusahan membalikkan badannya dan mengalihkan pandangannya. Detak jantungnya terasa begitu cepat. Bahkan rasanya sampai sulit bernafas.


" Mau kemana " secepat itu Arsyad membalik tubuh Tira. Berhadapan seperti posisi semula. Dan kini jaraknya semakin dekat. Mungkin hanya nyamuk yang sedang diet yang bisa terbang diantara hidung Arsyad dan hidung Tira.


" Syad. Jangan kaya gini. Aku takut " meski gugup, Tira memberanikan diri untuk bersuara. Berbicara dengan memejamkan mata. Meski Ia suka menatap Arsyad, tapi kali ini jaraknya terlalu dekat dan sangat dekat.


______________________________________________


Bersambung ...