Rahasia

Rahasia
Epi. 67 UJIAN


Di Mall XXX disebuah cafe yang hits saat ini. Tira dan temannya menyambut Steffy dengan penuh suka cita. Mereka kompak mengenakan pakaian dengan satu tone warna. Hijau toska seperti kesukaan Steffy. Mereka memberi surprise pada Steffy berupa acara bridal shower tersebut. Mereka semua larut dalam kebahagiaan dan acara pun berjalan sesuai rencana.


" Ka Stef, selamat yah. Sebentar lagi berubah status, dari single jadi istri " seru Tiffany.


" Terimakasih yah guys. Udah buat acara ini. Aku seneng banget. Aku bener-bener ga nyangka " mengusap air matanya yang terlahir karena suasana yang haru.


" Iya Ka. Jangan nangis lagi dong " Rara memeluk Steffy.


Mereka semua duduk diarea yang sudah direserfasi dan ditata sedemikian rupa indahnya.


" Gimana Ka rasanya sebentar lagi nikah ?" tanya Nana


" Ga percaya banget. Bahkan sampe sekarang juga masih belum percaya. Apa iya, apa ngga " sahut Steffy


" Tira, sebentar lagi juga nikah Ka " ujar Nana


" Yang bener Ra. Aku ko' ngga tau yah ? Selamat juga yah cantik " ucap Steffy menyelamati wanita yang duduk didepannya.


" Iya Ka. Terimakasih " jawab Tira


" Emang kamu kapan Ra ? " sambil menikmati desert yang ada didepannya.


" InsyaAllah bulan depan Ka. Kaka datang yah " jawab Tira dengan senangnya.


" Wah sebentar lagi yah. Aku mau banget, tapi aku ngga janji. Karena habis nikah aku harus ikut suami di Jakarta " ucap Steffy yang aga sedikit memelas.


" Iya Ka ngga apa-apa " Tira memahami alasan Steffy, meski sangat berharap bahwa perempuan cantik tersebut dapat datang diacara pernikahannya.


" Udah siap semua ? Ko' kamu kelihatannya santai aja. Aku aja masih was-was loh. Ga tenang banget. Bener yah kata orang. Kalo mau nikah banyak ujiannya " Steffy memijit pelipisnya.


" Udah 70 persen Ka. Kalo ujian, Alhamdulillah sampai saat ini baik-baik aja " Tira memceritakan proses pernikahan yang Ia siapkan bersama Arsyad.


" Ihh seneng baget dengernya. Aku mah, banyak yang minta ini minta itu. Padahal aku maunya sederhana aja. Aku maunya nikah dirumah aja. Eh harus ikutin ini, udah dirubah ini, aku disalahin. Yang ini kurang ini, yang ini kurang itu. Bener-bener deh, pusing banget ngejalaninnya. Untung jadi " ucap Steffy


" Emang ada yang ga jadi ? " tanya Nana dengan keponya


" Banyak. Banyak banget. Bahkan yang paling parah ada yang batal nikah. Terus pasangan nya milih bubar dari pada lanjut nikah. Itu yang aku denger langsung dari EO ku " cerita Steffy dengan semangat.


" Kasian banget yah mereka " Tira teringat dengan pernikahannya. Ia bersyukur, bahwa Arsyad dan keluarganya tidak bayak menuntut. Atau memberi saran yang membuatnya pusing tujuh keliling. Hanya menyerahkan Catering pada Mamah dan Umi.


" Kamu beruntung baget Ra " ucap wanita tersebut.


Mereka mengobrol dengan serunya. Sesekali tertawa mengingat kejadian dulu yang mereka pernah lakuin bersama. Nana, Rara dan Tifanny sudah lulus dari LION STUDIO juga, mengikuti jejak Tira setelah mereka diwisuda. Nana bekerja disebuah BANK yang cukup terkenal di Indonesia. Rara, melanjutkan usaha orang tuanya. Dan Tifanny baru dua bulan ini memilih menjadi pengajar. Menjadi guru SD yang selama ini bahkan tak pernah ada dibenaknya.


Waktu sudah menunjukkan hampir sepuluh malam. Pengunjungnya pun sudah mulai terlihat sepi. Dan para pelayan sibuk membereskan meja dan kursi yang sudah ditinggalkan para pengunjung. Mengepel lantai, membereskan nampan, mengelap meja dan merapikan yang terlihat berantakan.


" Udah malem, pulang yuk " ajak seorang temannya


" Yuk. Tapi foto lagi yah " ajak Rara


Mereka mengambil posisi dan bergaya sesuai dengan arahan. Pelayan disana terkenal cukup ramah dan baik. Bahkan memberi arahan sekiranya kurang tepat.


" Mba yang ini, sedikit ke kiri Mba. Mba yang dibelakang lebih tinggi lagi Mba " ucap seorang pelayan memberi arah.


" Mas, tinggi saya udah maksimal. Udah ngga bisa lebih tinggi lagi" ucap Nana


Benar saja, hasil foto yang diarahkan pelayan tersebut cukup bagus. Semua masuk dalam satu frame. Tidak ada yang tidak cantik.


Tira mengambil ponselnya untuk menghubungi Rayan. Setelah membuka aplikasi Whatsappnya, kontak teratas dan penanda terakhir kali Ia hubungi adalah Arsyad.


" Syad, aku udah mau pulang nih. Aku lagi minta jemput sama Rayan " Tira memndangi foto profile tersebut. Ia mengusap foto tersebut.


" Ra, lu pulang sama siapa ? " tanya Rara


" Sama Rayan " ucap Tira lalu menghubungi no Rayan.


" Ngga mau bareng gw aja ? " ajak Rara


" Ngga usah. Ini gw lagi telfon Rayan " mendekatkan ponselnya pada telinga.


" Yan, jemput Mba di Mall XXX yah. Nanti Mba tunggu di depan lobby utama aja. Yang didekat pintu keluar parkir mobil yah " instruksi Tira pada Rayan.


Mereka berjalan keluar caffe tersebut. Tira mengikuti Rara sampai parkiran. Rara mengantar Tira sampai tempat janjian bersama adiknya.


" Udah Ra. lu balik sana. Bentar lagi Rayan juga sampe " ucap Tira tak enak hati.


" Tenang aja sih. Kalo Rayan udah dateng. Gw juga langsung pulang " Rara mengetahui kejadian waktu itu. Sehingga Ia tak berani jika Tira menunggu adiknya sendiri di pinggir jalan.


" Ko Rayan lama banget yah ? " diliriknya jam yang melingkar ditangannya. Sudah hampir 30 menit menunggu Rayan, Ia tak juga kunjung datang. Biasanya waktu yang diperlukan kurang dari 30 menit karena jarak rumah dan mall tersebut tidak terlalu jauh dan juga hiruk pikuk kendaraan dijam seperti ini juga cukup lenggang.


Tira mengambil ponselnya, lalu melihat pesan di whatsappnya. Ia membuka pesannya pada Arsyad terakhir kali. Hanya tercentang dua biru tak ada balasan. Biasanya akan ada balasan meskipun hanya satu dua patah kata.


Hati - hati, biasanya seperti itu. Hatinya mulai tak tenang, tiba-tiba perasaan gelisah melanda. Bahkan air matanya meluncur hebat tanpa Ia bisa bendung.


" Ra, kenapa nangis ? " Rara panik, mengusap air mata Tira.


" WA gw ga dibales sama Arsyad Ra " ucap Tira masih sesunggukkan.


" Emang kalian lagi marahan ?. Udah Ra jangan nangis yah " bujuk Rara


" Ngga. Dia aja anterin gw ke sini tadi. Tapi ko' pesan gw dibaca tapi ga dibalas sih " ucap Tira dengan kecewa.


" Udah diem. Ada Rayan tuh " Rara melihat Rayan sudah hampir mendekat.


" Mba kenapa ? " tanya Rayan cukup shock dengan mimik wajah sang Kakak.


" Lagi mikirin Arsyad " jawab Rara dengan cepat.


" Udah Ra. Istirahat. Jangan pikir macam-macam. Banyak-banyak berdoa biar tenang. Biar semuanya baik-baik aja. Semua akan berjalan dengan lancar " saran Rara


" Iya Ra. Makasih ya Ra. Hati-hati yah " ucap Tira , lalu duduk dimotor yang dibawa Rayan. Tak lupa helm untuk keselamatan.


Mendengar ucapan Rara, hati Rayan berdesir hebat. Bingung, Ia ingin mengatakan tapi juga ada sebersit ragu dihatinya.


Apa mba udah tau yah ? Rayan.


______________________________________________


Bersambung ...