
Hari-hari berlanjut seperti biasanya. Senin sampai Jumat adalah hari paling sibuk untuk pekerja kantoran. Dari pagi sampai sore hari. Begitulah seterusnya tanpa henti.
" Siang Pa. Ada tamu dari GIANT CORP " begitulah keterangan dari resepsionis.
" Ok. Bawa ke ruang meeting langsung yah "
" Baik Pa " Laras mengantarkan keruangan meeting sesuai instruksi dari Irsyan.
***
" Terimakasih selamat pagi " ucap Arsyad menutup meeting pagi itu dan beberapa orang keluar dari ruang meeting tersebut.
Arsyad dan Tira masih membereskan berkas ruangan meeting tersebut.
Tok Tok Tok, pintu ruang meeting diketuk sebelum seorang wanita memberanikan membuka pintu.
" Maaf Pa. Ini ada tamu Pa Abdullah. Apa sudah bisa masuk keruangan meeting "
" Yah silahkan " jawab Arsyad, masih membereskan dokumen.
" Selamat Pagi Pa Arsyad " ucap salah satu laki-laki tersebut setelah dipersilahkan masuk .
" Selamat pagi Pa. Silahkan duduk " Arsyad mempersilahkan kedua orang tersebut untuk menempati kursi yang tersedia disana.
" Apa kabar Pa " Arsyad memberikan salam dan jabat tangan kepada dua tamu yang diterimanya.
" Ra, tolong ini bawa keruangan saya. Trus ambil dokumen di map biru. Bawa kesini yah " pinta Arsyad dengan sopan.
" Baik Pa " ucapan disertai dengan anggukkan.
Tira bergegas keruangan Arsyad, meletakkan dokumen yang diserahkan serta mengambil dokumen yang dijelaskan Arsyad. Dan segera kembali keruangan Arsyad.
Tok Tok Tok. pintu diketuk dan segera masuk keruang meeting.
Semua menengok ke sumber suara termasuk dua tamu laki-laki tersebut.
" Maaf Pa. Ini dokumen yang Bapa tanyakan " menyerahkan dokumen tersebut
" Terimakasih yah " ucapan dengan penuh senyum.
" Permisi " ucap Tira sebelum meninggalkan ruang meeting yang sudah ada Irsyan dan Abdullah disana
Tira pamit undur diri dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Terimakasih Pa Abdullah, atas kesempatannya. Semoga kita bisa menjalin kerja sama " ucap Pria tersebut.
" Saya yang seharusnya berterimakasih. Tapi ada satu hal yang ini saya koreksi " ucapnya dengan santai.
" Apa itu Pa ? " tanya nya dengan serius
" Time is money. Begitulah para pengusaha berkata. Jadi saya harap Bapa bisa menghargai waktu dari client Bapa " ucapnya dengan jelas.
Yah, dua kali meeting berakhir dengan kegagalan. Investor tersebut tak datang dengan alasan yang kurang jelas. Membuatnya cukup geram. Mungkin kalau bukan bujukan dari Arsyad dan Irsyan, Abdullah akan membatalkan pembahasan tentang kerjasama kedua perusahaan tersebut.
" Mohon maaf untuk hal tersebut " sebuah senyuman terukir.
***
Sudah jam 5 sore waktunya untuk pulang. Para karyawan segera berhamburan melepaskan diri dari pekerjaannya. Tira memasuki ruangan Arsyad. Tak ada yang curiga, karena hal tersudah biasa. Mungkin karyawan lain berfikir bahwa masih ada yang akan dibahas mengenai pekerjaan. Tapi, tidak untuk kali ini. Tira menarik kursi didepan meja Arsyad.
" Tadi siapa ? "
" Kamu ga pulang ? "
" Ih jawab dulu " ujar Tira
" Jawab dulu pertanyaan aku " ucap Arsyad dan mencubit pipi Tira dengan gemas. Dan Tira menikmatinya
" Ini mau pulang. Udah aku jawab. Sekarang jawab pertanyaan aku " masih dengan antusiasnya.
" Oh itu. Itu investor yang pernah aku ceritain "
" Yang kamu sampe batal meeting itu yah "
" Iyah "
" Masih muda yah "
" Hmm.. Masih muda banget. Tapi jabatannya udah tinggi. Kenapa kamu suka ? "
" Eh ngga, biar pun masih muda, kaya , punya jabatan tinggi, pinter , ganteng pula. Aku ga naksir " ucap Tira dengan kedua tangan menopang dagu.
" Yakin ??? " goda Arsyad
" Yakin, kecuali..... "
" Kecuali apa ? "
" Kamu ninggalin aku " ucapnya jelas dan membuat Arsyad beralih menatapnya.
" Ke goda ? Sama yang mana dulu nih ?" ujarnya menantang.
Dua tamu yang datang adalah pria muda dengan kisaran usia 30 tahun. Mengenakan setelan jas rapih. Tampan, Tinggi, pintar itulah kesan pertama kami bagi siapa saja melihat mereka berdua. Satu orang mengenakan kemeja didalam jas berwarna biru dan satunya kengenakan kemeja berwarna abu-abu muda.
" Hmmmm.. yang kemeja biru ? " Aryad menatap Tira
" No. Kamu salah. Hahahah "
" Jadi kamu suka sama yang kemeja abu-abu ? " ucap Arsyad disertai gelangan kepala.
" No !!! aku tak suka. Mungkin dia yang akan suka sama aku. Hahahha " ucap Tira percaya diri.
***
" Lu liat perempuan yang tadi ga ? "
" Perempuan yang mana ? "
" Yang dikantor Pa Abdullah " ucapnya dengan santai
" Yang mana yah ? Nggak inget tuh " matanya memandang jalan yang kian padat dengan kendaraan
" Yang diruang meeting "
" Oh itu. Kenapa emang ? "
" Cantik yah " ucapnya dengan kagum
" Iyah. Ehh. Kenapa ? Naksir ? "
" Hmmm. Ngga "
" Naksir juga gapapa "
" Tadi itu cowonya bukan sih ? " masih teringat jelas senyuman Arsyad yang menyambut Tira
" Cowo yang mana lagi sih ? "
" Itulah diruang meeting. Emang tadi lu ga perhatiin " sebal, karena partner yang diajaknya bicaranya tak terlalu menggubris
" Kalo gw bisa dapetin gimana yah hahahh "
" Selama jalur kuning belum melengkung, itu sah aja. Tapi sebaiknya tetap harus menggunakan cara yang baik "
" Menurut lu, dia bakal naksir gw ga ? "
" Ngga tau lah " dengan menaikan dua bahunya.
***
Tira diantar pulang oleh Arsyad. Karena hari ini Ia kekantor dengan menggunakan ojek online. Ia tak menolak dan tak ragu. Meski ada sedikit kekhawatiran jika ada yang melihatnya dengan Arsyad.
Untunglah mereka keluar sudah dalam keadaan cukup sepi. Mungkin karena esok ada tanggal merah yang bersebelahan dengan weekend, para karyawan yang bekerja di gedung itupun bergegas kembali kerumah atau mengerjakan hal yang mereka sukai.
Arsyad sudah ada dibelakang kemudinya dan Tira duduk disampingnya.
" Ra, kamu beneran ? "
" Maksudnya ? " tak mengerti dengan obrolan yang dibuka Arsyad
" Yang tadi. Yang kita bahas "
" Oh Itu, cuma ucapan aja " Tira mengingat pembicaraan dengan Arsyad mengenai dua tamu tampan.
" Ucapan itu doa loh " ujar Arsyad
" Iya, aku tahu. Aku cuma becanda "
" Kamu yakin ga suka sama dia ? "
" Ngga. Lagian aku sukanya kan kamu " senyum terhias dengan indah
" Yakin ? Kamu ga akan pilih dia. Andai suatu saat dia suka sama kamu "
" Kalo masalah jodoh aku gatau. Tapi kalo aku ditanya saat ini, aku pilih kamu. Dan aku ga bakalan cari yang lain. Kecuali kamu tinggalin aku "
" Tapi aku pilihnya yang kemeja abu-abu yah. hahahah " canda Tira
" Hmm. Selera kamu bagus juga yah " Arsyad menganggukan kepalanya
" Selera ? Tentu dong. Makanya aku pilih kamu hahahah " pujian sederhana mengguncang hati Arsyad
______________________________________________
Bersambung ...