
" Aku tadi nyanyi sebuah lagu. Lagu itu untuk kamu " ucapnya dengan santai.
huh, gemuruh tepuk tangan bersahutan
" Kamu tahu, lagu apa yang aku nyanyiin tadi ?"
Wahhh gawat, apa yang harus gw lakuin ?
Apa gw tarik tangan Tira aja yah ? Atau gw toyor aja palanya tuh Angga.
Aduh Pa Arsyad, ayo gerak dong. Pacar mu sedang digoda.
Tak sadar Nana menggigit jari-jarinya. Melihat adegan paling menyedihkan dimuka bumi ini. Sangat menyedihkan bila Angga ditolak, tapi lebih menyakitkan apa yang dirasakan oleh Bos nya.
Tira mensejajarkan posisinya lalu mengambil bunga mawar yang diberikan oleh Angga. Gemuruh tepuk tangan semakin meriah. Nana menatap tak percaya, meskipun tak tahu apa yang dibicarakan Tira dengan Angga. Yah pasti ada yang dibicarakan, karena microphone yang dipegang Angga sengaja diletakkan Tira dilantai.
Tira berjalan kearahnya dengan menggenggam bunga mawar pemberian Angga, meletakkannnya didepan meja.
Rona kebingungan terlihat jelas di wajah cantik Tira. Ia ingin sekali bertanya pada Tira. Namun niatnya diurungkan melihat Tira berdiri dari kursinya. Dan Tira berjalan mengikuti Arsyad.
Huh. Ra, jelasin sana sama Pa Bos.
Gw orang paling ga rela, kalo ngeliat kalian pisah karena si kutu kunyuk itu.
Mengingat perlakuan Angga sungguh mengesalkan. Tak habis pikir berapa banyak lapisan kepercayaan diri seorang Angga. Tampang biasa aja, tapi merasa paling cool sedunia. Ihh, jijik meski hanya membayangkannya saja. Bahkan bulu kuduknya berdiri, sekilas teringat adegan Angga tadi.
Sudah hampir satu jam Tira tak kembali. Nana berinisiatif mencari Tira. Mengalungkan tas yang digunakan Tira. Berjalan ketoilet yang tak jauh dari ballroom tersebut.
" Ra, Tira. Apa kamu didalem ? " Nana mengetuk satu-satu bilik toilet tersebut.
Tak ada jawaban, walaupun bunyi air menerjang closet dengan jelas. Pasti bukan Tira, jika Tira ada didalamnya pasti Ia akan menjawab.
Sebuah pesan masuk diponselnya.
" Na dimana ? Sesi pembagian doorprize bentar lagi dimulai. Ayo cepatan " jelas pesan yang dikirimkan Mita.
Nana kembali kedalam ballroom, duduk kembali ditempat semula. Tawa riang semakin terdengar, tak kala pembagian doorprize menyebut nama yang memiliki keberuntungan malam ini. Nana termenung, masih memikirkan keberadaan Tira. Ia melihat kiri dan kanannya.
Pa Arsyad aja udah didalem. Gumannya dalam hati.
Apa ? Pa Arsyad disini ? Terus Tira kemana ? Nana semakin gusar.
Nana berdiri dan ingin menghampiri Arsyad. Namun didahului oleh Irsyan yang berbicara sambil menepuk punggung Arsyad.
Nana melihat ada dua gelas yang dipegang Arsyad.
Ahh, ga mungkin kalo Pa Arsyad minum dua gelas. Mungkin satunya untuk Tira.
Nana berjalan dibelakang Arsyad. Berniat untuk mengikuti Arsyad dan memastikan bahwa Tira bersama Arsyad. Namun belum sampai pintu ballroom, namanya dipanggil.
" Selamat atas nama Nana berhak mendapatkan doorprize berupa ricecooker. Ayo yang namanya Nana naik keatas panggung. Kita hitung sampai 3 yah. Satu ... "
" Saya saya saya " ucapnya dengan antusias.
Namanya dipanggil, fokusnya terpecah dan langsung berbalik arah menuju panggung untuk menerima hadiah.
Nana kembali ketempat duduknya dan Tira masih juga belum kembali. Rasa khawatir kembali melanda. Ponsel didalam tas Tira berbunyi. Nana mengambilnya tapi tak berani mengangkatnya.
Arsyad Wahid 💙, nama yang tertera pada ponsel yang berdering tersebut. Yah ada emoji love birunya 😅
Ia ragu untuk mengangkat, bahkan panggilannya sudah tiga kali. Tapi masih tak berani untuk menjawab.
Tira kamu kemana sih Ra.
Ini Pa Arsyad telfon terus nih.
Dan kini ponselnya berbunyi. Pa Arsyad begitulah keterangan dari no ponsel yang menghubunginya. Dengan cepat tanpa ragu Ia mengangkat panggilan tersebut.
" Halo Pa "
" Na, ini gw Tira. Tolong liatin dimeja gw yang tadi. Hp sama tas gw tadi disana " instruksi Tira pada Nana.
" Ada Ra sama gw. Lu dimana Ra ? Lu ga apa apa kan ? Lu lagi sama Pa Arsyad kan ? Cerita sama gw Ra " ucapnya khawatir.
" Iya. iya. Nanti gw jelasin yah "
" Makasih ya Na " panggilan terputus.
Alhamdulillah, berarti Tira sama Pa Arsyad. Mengelus dadanya, yang sedari tadi sedang senam jantung.
______________________________________________
Nana belum bisa tertidur. Sudah jam 11 malam Tira belum kembali, bahkan belum mengabarinya lagi. Ia masih gusar, membenarkan badannya. Meski mengantuk tapi masih belum bisa tertidur. Mungkin karena memikirkan roommate nya malam ini yang belum kembali. Yah, semua karyawan PT ABADI GROUP dapat merasakan nyamannya kasur hotel setelah acara gala dinner tersebut. Masing-masing kamar berisi 2 sampai 3 karyawan. Tergantung ukuran kamar yang tersedia. Kali ini Nana dan Tira menjadi teman satu kamar.
Pintu kamarnya terketuk. Nana bergegas membuka pintu tersebut. Dan benar ternyata orang yang dibayangkannya berdiri didepan pintu.
" Ra , dari mana aja sih. Gw khawatir tau "
" Gw abis makan sama Pa Arsyad " mendengar kalimat tersebut, Nana mengeluarkan badannya dan ternyata ada Arsyad yang berdiri disamping Tira.
" Eh Bapa, kalo ngajak makan bilang-bilang dong. Saya kan jadi khawatir , Tira ga balik-balik dari tadi "
" Maaf yah. Kamu jadi direpotin " ucap Arsyad tak enak hati.
" Yaudah, kamu tidur sana. Udah malem " ucap Arsyad pada Tira.
" Iya sayang. Aku masuk yah. Kamu langsung balik ke kamar. Jangan kemana mana. Jangan main hp. langsung tidur yah "
Uhuk Uhuk . Nana batuk yang disengaja.
" Maaf yah Pa, bukannya saya ngusir. Tapi ini kamar anak gadis. Bapa ga boleh lama-lama disini. Udahan yah Pa, pamitannya " ucap Nana.
" Selamat Tidur yah " ucap Arsyad lalu pergi dan segera pintu kembali tertutup.
Nana segera mengintrograsi Tira dengan melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Heran rasanya jika melihat Arsyad dan Tira bisa tersenyum seperti tadi. Padahal kejadian di ballroom tadi bisa menyulut emosi Arsyad menurutnya.
Tira menjawab pertanyaan Nana satu persatu. Bahkan menceritakan bahwa Arsyad memintanya untuk menikah.
" Serius Ra ? " merasa tak percaya
" Iya Na, serius " terukir senyum yang indah
" Alhamdulillah. Selamat ya Ra. Semoga bisa cepat terlaksana. Dimudahkan dengan segala urusan dan jadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah "
" Aamiin. Makasih Na " memeluk Nana dengan bahagia
______________________________________________
Bersambung ...