Rahasia

Rahasia
EPI. 60 NIAT JAHAT


Masih teringat jelas bayangan kegelisahan dari kejadian dikantor. Tanpa sadar, Ia mengetuk - ngetuk alat makannya. Dentingan gesekan antara piring dan sendok yang digunakannya.


" Kenapa Mba, ko melamun sih ? " tanya Mamah memperhatikan sikap anak gadisnya.


" Ngga Mah, ngga apa-apa " jawabnya sambil melanjutkan makan malamnya.


" Awas mba, nanti ayam tetangga mati loh " ucap Rayan


" Ngga nyambung tau " sahut Tira


" Yehh, emang gitu mitosnya " ujar Rayan tak mau mengalah


***


" Yan, mau kemana ? tanya Tira melihat Rayan ke pekarangan rumah dan menyalahkan mesin motor


" Mau kerumah Arif, Mba " jawab Rayan sudah menaiki motor tersebut.


" Ikut dong " sahut Tira yang mendekatkan diri ke Rayan


" Mau ngapain sih pake ikut segala ? " sambil memperhatikan tampilan sang Kakak. Tira mengenakan daster dan rambut di ikat asal. Sama sekali tidak rapih, namun sangat tertolong dengan wajah yang cantik.


" Mau nebeng. Mau ke ke alpa " jawabnya


" Yaudah sini, nitip aja. Mau beli apa ? " Rayan menawari.


" Mau beli yoguart rasa mangga. Susu UHT, sama Stroberi " jawab Tira


" Banyak amat sih. Yaudah mana duitnya " membuka telapak tangannya lalu dihadapkan ke arah sang Kakak.


" Tunggu " Tira bergegas menuju kamarnya mengambil dompet, lalu kembali lagi ke pekarangan menemui Rayan.


" Nih " Tira menyerahkan kartu debitnya.


" Ngga ada uang cash apa ? " tanya Rayan.


" Ngga ada. Oyah sekalian ambil uang cash yah, dua ratus ribu. Tapi pilih pecahan yang lima puluh ribu, jangan yang seratus ribu " ucapnya


" Banyak amat sih permintaannya. Pin nya berapa ? " tanya Rayan


" 676869 " jawab Tira


" Mba aku belanjanya nanti yah. Pulang dari Arif baru ke alpa " ucapnya


" Yah. Keburu tutup dong. Beliin dulu lah. Baru ke Arif " nego Tira


" Ga bisa mba. Ini Arif aja udah nungguin dari tadi " tolak Rayan


" Yaudah, mba nebeng aja sampe Alpa " ucap Tira


" Nanti pulangnya gimana. Kalo jalan kaki kan lumayan ? " tanya Rayan


" Nanti naik ojol. Tunggu bentar, Mba ambil hp dulu "


***


Keranjang belanjanya sudah terisi oleh yoguart rasa mangga, susu UHT. Tapi tidak ada stroberi. Ia menggantinya dengan buah apel berkulit hijau. Membayarnya dengan kartu debit. Lalu melakukan transaksi pengambilan uang di mesin ATM yang berada di dalam mini market tersebut.


Tira membuka aplikasi ojol nya. Menulis alamat pick up dan tujuannya di halaman


Prokk, seseorang menepuk bahunya. Ia berpaling dari ponselnya dan melihat wajah yang menepuk punggungnya.


" Ilham "


" Sama siapa Ra ? " tanya nya dengan ramah, sambil memperhatikan sekeliling Tira


" Sendiri Ham. Lu mau belanja " tanya Tira


" Iyah. Pulang sama siapa ? Gw anter yah " ajak Ilham.


" Sendiri Ham. Ngga usah Ham. Gw naik ojol aja. Lagian deket ini ko " tawarnya tak enak hati.


" Emang udah dapet ? Kayanya dari tadi loading gitu " Ilham melirik ke arah ponsel Tira


" Iyah nih dari tadi ga bisa. Apa lagi masalah yah " sekali lagi mencoba menggunakan aplikasi ojol


" Tuh kan ga bisa. Tunggu sini aja yah. Nanti gw anter. Jangan kemana-mana " ucap Ilham lalu masuk ke dalam mini market.


Melihat ke kiri kanannya. Memastikan pendengarannya tidak salah.


" Ra, Ayo " Ilham sudah keluar mini market.


" Loh cepet amat. Ngga jadi belanja " ucap Tira yang mengikuti Ilham.


" Ngga. Ngantri banget tuh " sahutnya. Tira melihat antrian di kasir yang mengular. Mungkin karena akhir bulan, banyak orang yang membeli kebutuhannya dan ditambah lagi, kemungkinan gajian yang sudah diterima.


Tira melihat kanan kirinya. Sebelum naik ke mobil yang Ilham kendarai.


Tuh, kaya ada yang manggil. Siapa yah ?


Masa salah denger sampe dua kali.


" Ra, ayo masuk " ajak Ilham yang sudah berada dibalik kemudinya.


" Iya Ham " Tira masuk ke mobil dan duduk disebelah Ilham.


Mobil melaju, meninggalkan mini market tersebut.


" Ko lewat sini Ham. Jalannya bukan yang ini " Tira menunjuk jalan didepannya.


" Kan jembatannya lagi dibenerin. Jadi harus muter dulu "


" Yaudah kalo gitu gw turun diPOM depan aja. Yang samping toko sepatu " tawar Tira yang tak enak hati. Karena jembatan penghubung sedang diperbaiki maka kendaraan roda empat yang akan menuju komplek atau sekitaran komplek rumah Tira harus memutar arah cukup jauh.


" Ngga Ra. Biar gw anter aja. Lagian dari sana kan mesti jalan lagi " ucap Ilham dengan senyum mengembang.


Tira tak menambahkan lagi pernyataan dari Ilham. Ia masih memperhatikan jalan mobil yang semakin jauh dari arah rumahnya.


" Ko' kita berhenti disini ? " Ilham sudah turun dari mobil tanpa menjawab pertanyaan Tira. Ilham membuka pintu yang berada disisi Tira.


" Mau kemana Ham. Rumah gw bukan disini " ketika pergelangan tangannya di genggam erat oleh Ilham.


" Ke rumah gw dulu sebentar. Abis itu gw anter pulang " ucapnya setelah menutup pintu mobil. Namun tak berbalik arah. Ia terus berjalan semakin cepat, tanpa sadar genggamannya menyiksa wanita dibelakangnya.


" Ngga Ham. Gw pulang sendiri aja. Ini udah malem " mencoba melepaskan genggaman erat tersebut.


" Gw bilang ngga, yah ngga. Ko lu susah amat sih nurutnya " Ilham emosi dan tetap berusaha menarik tangan Tira mengikuti langkahnya sampai ke dalam rumah.


" Apa-apaan sih ? ko' lu marah sama gw. Gw juga ga minta anter pulang ko " jawab Tira tak mau juga mengalah. Ia berjalan sedikit berlari keluar dari rumah Ilham.


" Mau kemana lo ? " Ilham terlihat emosi, menarik paksa tangan Tira masuk ke dalam rumahnya.


" Apa - apaan sih ? Gw ngga suka yah " masih mencoba melepaskan tangan Ilham.


" Kalo lo ngga lepasin gw. Gw bakal teriak sekenceng-kencengnya. Biar orang-orang pada kesini " ancam Tira


" Bagus kalo gitu. Gw suka. Biar sekalian gw dinikahin sama lu " matanya menatap Tira dengan mata yang semakin merah.


" Siapa juga yang mau nikah sama lo " sahut Tira dengan emosi. Lalu berjalan keluar rumah tersebut.


Dengan derai air mata membasahi pipi. Ilham tak ingin kehilangan moment


tersebut. Ia menarik tangan Tira masuk kerumahnya. Kali ini jauh lebih kasar dan menyakitkan.


" Tolong .. Tolong " ucap Tira sekuat tenaga. Tak ada satu pun tanda tanda orang yang mendengar teriakannya.


" Udah lah Ra. Enjoy aja. Lu belum aja ngerasain. Kalo lu udah ngerasain lu bakal ingat terus " bisiknya pada telinga wanita cantik tersebut. Tira semakin ketakutan, wajahnya yang ceria sudah berubah pucat pasih.


" Tolong . Tolong. Lepasin gw Ham. Lepasin " jeritnya lirih meminta Ilham untuk berbelas kasih.


" Sayang, kita bakal seneng seneng ko' ga usah takut yah " ucap Ilham dengan senang. Wanita yang diidamkan nya selama ini sudah di depan mata. Mungkin dengan jalan kekerasaan yang Ia lakukan tersebut, dapat membuatnya bisa bersama dengan Tira. Merenggut kesuciannya dengan paksa. Lalu, dengan alasan untuk menutupi aib, Ia akan sangat rela menikah dengan wanita tersebut. Begitu pikiran kotor dari laki-laki penuh nafsu tersebut.


Kedua tangan Tira ditarik kebelakang. Diikat oleh tali yang entah dari mana Ilham sudah dapatkan. Mungkin juga sudah disiapkan sejak lama. Ilham meninggalkan Tira diruang tamu.


Melihat kesempatan tersebut, Tira bangkit dan menuju pintu. Sialnya, pintu tersebut terkunci. Meski kunci tergantung pada lubang, sangat sulit membuka pintu dengan posisinya seperti ini.


prekk, pintu segera terbuka. Ia berlari menuju pagar di pekarangan. Ia menangis dan menjerit meminta pertolongan. Ilham melihat Tira berusaha kabur. Ia nampak tenang. Dengan hanya menggunakan bokser pendek diatas lutut dan bertelanjang dada. Senyuman penuh kemenangan akan Ia dapatkan.


" Mau kemana sayang " menjambak rambut Tira, sampai pala Tira tertarik kebelakang. Ilham menarik Tira dengan paksa. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Ia mengindar dan melawan sampai jatuh berkali-kali. Ilham terus memaksa Tira. Bahkan tak segan tamparan keras mendarat dipipi Tira. Berkali-kali di lakukan. Bentuk telapak tangan berwarna merah menghias pipi cantiknya.


______________________________________________


Bersambung ...