Rahasia

Rahasia
EPI. 75 TAK ASING


Sesuai instruksi keterangan dari pesan tersebut, bahwa proses interview akan dilakukan pada pukul 10 pagi. Tira sudah berada ditempat tersebut 30 menit sebelum waktu yang dijanjikan.


Ia mengambil sebuah kertas yang terlindungi oleh plastik agak tebal. Melihatnya secara berulang, meyakinkan dirinya dari keraguan.


Namanya depannya sih sama. Tapi apa si pria kemeja abu-abu yah ?


Ia tak yakin, karena ada kemungkinan banyak nama yang sama di dunia ini. Dan Ia juga tak melihat jelas, wajah pria yang berada didepannya di minimarket tersebut.


Tira berdiri dan memberanikan diri bertanya pada seorang resepsionis yang stand by dibelakang meja.


" Mba, maaf boleh tanya. Apa ada yang namanya Bapak Satya Haris Wijaya ? "


" Hah ? " ekspresi keterkejutan yang di tampakan dari wajah resepsionis tersebut.


" Satya Haris Wijaya. Mba kenal ga ? " ucap Tira sedikit lebih keras.


" Siapa ? "


Masa ngga denger sih ?


Huh.


" Satya Haris Wijaya " ulangnya lagi lebih keras.


" Ada apa ? " Tira tersadar, bahwa yang menjawab bukan sang resepsionis dan dari suaranya terdengar sepertinya seorang pria. Dan suara tersebut persis berada dibelakangnya saat ini.


Tira refleks membalikan tubuhnya dan melihat sumber suara.


Wah bener, Si kemeja abu-abu.


Tira seakan terhipnotis dengan tampilan pria tersebut. Dan aroma parfume nya mampu menghipnotis Tira.


" Cari saya ? Ada apa ? " jawabnya datar


" Hello " pria tersebut melambaikan tangannya didepan wajah Tira. Tira tersadar dari lamunan sesaat yang berisi kekagumannya itu.


" Ini Pa " Tira menyerahkan sesuatu dan langsung diambil pria tersebut.


" Kenapa bisa di kamu ? " lagi-lagi jawabnya begitu datar, namun tak menghilangkan aura kharismatiknya.


" Saya menemukannya di minimarket. Dan saya coba panggil Bap ... " Tira mencoba menjelaskannya, namun terpotong dengan ucapan pria tersebut.


" Ok . Makasih " ucapnya, lalu masuk kedalam ruang tersebut.


" Sunny, coba kamu ke GA. Lift kenapa masih rusak. Ini sudah dua hari. Saya mau secepatnya selesai " tegas pria yang berada dibelakang Satya. Lalu tak lama masuk menyusul Satya.


Lift yang dimaksud tersebut, adalah lift khusus yang diperuntukan bagi para karyawan dengan jabatan tinggi diperusahaan itu.


" Baik Pa " ucap Sunny si resepsionis


***


Kringgg.. Sebuah panggilan yang memecah kesunyian disalah satu ruangan.


" Halo "


" Siang Pa. Saya mau informasikan. Bahwa saya sudah selesai interview. Apa Bapa akan interview juga hari ini ? Atau Bapa mau saya reschedule kan ? "


" Ada berapa kandidat hari ini ? "Arya melihat jam di pergelangannya. Sudah pukul 11 siang. Seraya bertanya kembali pada Aan.


" Ada satu Pa " jawab Aan


" Kenapa cuma satu. Apa yang lolos hanya satu ? "


" Sebenarnya semuanya lulus dalam psikotest Pa. Hanya saja, untuk kandidat lainnya belum bisa hadir hari ini. Dan yang menyanggupi datang hanya satu saja " jelas Aan


" Apa yang interview hari ini, perempuan dengan kemeja warna biru ? " tanya Arya


" Benar Pa. Tapi kenapa Bapa bisa tahu yah ? " tanya Aan bingung.


" Oh, tadi saya lihat didepan resepsionis " jelas Arya


" Jadi apa Bapa bisa interview hari ini ? " tanya Aan lagi.


" Ok. Tunggu sebentar "


" Terimakasih Pa " ucap Aan diakhir pembicaraan tersebut.


Huh. Sekretaris ?


Dont judge book by the cover Ya.


Arya bangkit dari singgah sananya.


" Mau kemana Ya ? " tanya Bosnya itu.


" Saya ingin interview salah satu kandidat untuk sekretaris Bapa " ucapnya, sebelum meninggalkan Bosnya.


" Ok " Bos nya kembali menuju ruangannya.


Dengan berat hati, Arya memasuki ruangan tersebut.


" Selamat siang " ucapnya


" Selamat siang Pa " balas Tira, meski agak sedikit gugup.


" Silahkan duduk. Ibu ? " ucap Arya


" Saya Zatira, Pa " Tira memperkenalkan dirinya.


Dari wajahnya, Arya merasa tak asing. Ia merasa pernah melihat wanita yang duduk didepannya tersebut.


Arya memberi pertanyaan layaknya proses interview seperti biasanya. Dan dijawab oleh Tira, meski agak sedikit gugup.


" Jadi, Ibu Zatira belum pernah punya pengalaman menjadi sekretaris ? " tanya Arya yang mendengar penjelasan dan pengalaman dari Tira.


" Belum Pa "


Pintu ruangan terketuk bersamaan dengan seorang pria masuk dalam ruangan tersebut.


" Pa Arya " lalu melihat wanita yang bersebrangan dengan Arya. Arya mengangguk. Gesture tubuh dari keduanya, yang dapat menjelaskan, bahwa wanita tersebut adalah kandidat sekretaris untuknya.


" Saya Satya "__" Pasti sudah tau " ucapnya mengulurkan tangan dan dibalas oleh Tira.


" Zatira " dan tak lama, uluran tangan tersebut usai.


" Maaf Pa. Bapak tadi sudah ditunggu meeting " ucap Arya. Kali ini ucapan tersebut mengisyaratkan bahwa " Bos, jika tidak ingin menginterview, serahkan saja sama saya "


" Meetingnya sedang di reschedule " ungkap Satya. Dan Arya tahu bahwa artinya adalah " Gapapa, santai Bro. Gw juga mau ikut interview ". Lalu duduk disamping Arya.


Arya kembali mengajukan pertanyaan pada Tira. Tira menjawabnya dengan lugas, sesekali jawabannya agak sedikit tersendat. Maklum saja, bahwa selama ini pengalamannya hanya sebagai staff biasa. Walaupun terkadang membantu pekerjaan Bos lamanya, lebih dari staff biasa.


Bos lama ? Siapa lagi kalau bukan Arsyad. Ahh Rindu ...


Sedangkan Satya, membuka resume yang berada didepan Arya. Ia membaca satu persatu dengan teliti. Yah. Satya benar-benar teliti. Dan tertegun pada keterangan yang ditulis tersebut.


" PT ABADI GROUP. Kamu kerja disana sebelumnya ? " kini pertanyaan tersebut mencuat dari mulut Satya.


" Benar Pa " jawabnya cukup tenang.


" Abadi Group itu perusahaan besar. Kenapa kamu memilih resign dari sana ? "


Tira menarik nafasnya cukup dalam. Lalu mengeluarkan berlahan.


" Saya memilih untuk membantu usaha Ayah saya .... " Tira menjelaskannya secara rinci. Meski sebenarnya alasan terbesarnya masih Ia tutupi. Bagaimana menjelaskan, karena banyak kenangan indah disana. Dan semakin dikenang, semakin sakit rasa dihatinya.


" Jadi jika usaha orang tua anda sudah stabil, anda akan resign dari sini juga ? " ucapannya datar namun tatapannya sangat tajam.


" Belum tentu demikian Pa "


Arya kembali mengajukan pertanyaan. Dan Satya sibuk mengingat wanita didepannya ini.


Apa dia ?


Tapi jauh sekali perbedannya.


" Pak Satya, apa masih ada pertanyaan yang ingin Bapak ajukan ? "


" Tidak, sudah cukup Pak Arya " Satya lalu menutup resume tersebut.


" Saya rasa sudah cukup interviewnya hari ini. Terimakasih Ibu Zatira atas kehadirannya. Terkait proses selanjutnya akan dikabari lebih lanjut oleh Pak Aan. Terimakasih selamat siang " ucap Arya. Lalu ketiganya bersalaman bergantian.


***


" Ya, inget perempuan yang tadi ga ? " tanya Satya yang sudah berada di mobil menuju restaurant, untuk menikmati makan siang.


" Ada apa Pa ? "


" Aneh yah " ucap Satya yang masih memandang jalan.


" Aneh ?? "__" Oh, maksud Bapa penampilannya ? "


" Iya "


" Yah, memang agak beda dari sekretaris Bapa sebelumnya. Biasanya tinggi sempai, cantik dan ideal gitu kan Pa ? "


" Hmmm " sebenarnya bukan itu yang menjadi fokus utama pemikiran Satya. Bahwa wajah wanita tersebut, mirip dengan wanita yang pernah ada dipikirannya. Dan ditambah lagi, pengalaman bekerja di PT ABADI GROUP.


Orang sama atau berbeda ?


Secara fisik sangat berbeda 180°.


Jika wanita yang ditemuinya adalah wanita dengan tubuh ideal dan ditunjang dengan OOTD ciri khas wanita kantoran.


Sedangkan wanita yang ditemuinya tadi adalah wanita dengan tubuh sintal serta dengan penampilan biasa saja. Sangat bertolak belakang dengan citra seorang sekretaris.