
Pagi yang indah dengan langit biru. Udara segar tersaji tanpa pamrih dari sang Illahi. Begitu KUASA dan MAHA BESAR, menciptakan dunia dengan begitu uniknya.
Pukul 09.00 AM, seluruh peserta gathering sudah menikmati sarapan paginya. Semua sudah berjajar rapih di depan lobby hotel. Mengantri menunggu giliran naik ke bis nya masing-masing.
" Eh lu semalem dapet doorprize apa ? "
" Gw dapat ini ricecooker. Si Budi dapet apa yah ? Kayanya dapet hadiah utama deh "
" Kalo boleh milih, gw mau dapet kompor gas aja. Lumayan buat di kost an. Hahahh "
Begitu yang terdengar dari percakapan mereka.
Tira melihat ke arah kirinya. Ada Arsyad berdiri dengan koper disisinya. Menunggu mobil yang diambilkan oleh petugas hotel. Senyuman mengembang begitu saja. Sedangkan yang diberikan senyuman tidak mengetahuinya.
" Ra, ayo. Itu Bis 3 "
Semua masuk satu-persatu menduduki kursi dengan tertib.
" Aww kenapa sih ? " membalikkan badannya setelah pundaknya ditepuk dari belakang.
" Tukeran tempat dong "
" Ngga mau. Duduk aja sih disana. Jangan gangguin orang. Gw udah PeWe nih "
" Yah Na, pelit banget sih. Gw kan mau duduk sama yayang gw " dengan senyuman terpancar
" Yeh Ge Er lu. Emang Zatira mau apa sama lu " sahut Nana dengan sedikit emosi. Mendengar namanya dipanggil, Tira melihat ke belakangnya. Angga dan Nana yang mempertahankan argumennya masing-masing.
" Mas Angga mau duduk disini ? "
" Iyah " Angguk Angga dengan cepat
huhuh.. gemuruh tepuk tangan terjadi.
" Ra, apasih Ra. Ngapain sih " ucap Nana dengan pandangan agak melotot tanda tak setuju.
" Silakan duduk " ucap Tira berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju bangku yang kosong paling belakang.
" Mau kemana ? Aku maunya duduk sama kamu, bukan sama Nana "
" Hahah. Mampus luh " ucap Nana dengan senang
" Lu kenapa sih ? Ngga seneng banget ngeliat gw sama Zatira ? " sahut Angga
" Yeh. Ngaca dong jadi orang. Lagian mana mungkin dia mau sama lu " tunjuk Nana pada Tira
" Selama jalur kuning belum melengkung. Masih ada kesempatan. Lagian Zatira juga belum punya pacar " ucap Angga dengan PeDe nya.
" Kata siapa ? Orang Zatira punya pacar. Pacarnya ... " sahut Nana dengan begitu antusiasnya.
" Nana " sahut Tira agak keras agar terdengar oleh Nana dan menggelengkan kepalanya. Meladeni Angga hanya membuang waktu. Bukan hanya karena itu saja, jika nama Arsyad terucap bisa geger dunia persilatan.
" Sudah sudah. Angga, Nana duduk. Bis sudah harus jalan " ucap Mita
" Sebelum perjalanan ada baiknya, kita membaca doa menurut agama masing-masing. Semoga kita semua selamat sampai tujuan " lanjut Mita.
" Bedoa dimulai " suasana langsung berubah menjadi hening dan khidmat.
Aamiin
________________________________________
- DIRUMAH ARSYAD -
" Assalamualaikum " ucap Arsyad ketika masuk rumah dan menyalimi Umi.
" Waalaikum Salam. Lesu amat sih anak Umi. Ada apa sini duduk dulu " menepuk sofa disisinya.
" Ngga ada apa apa Mi " duduk disisi Umi
" Ada yang patah hati Mi " goda Irsyan yang masuk setelah Arsyad. Lalu menyalimi Umi.
" Apa sih Bang. Rese banget. Oyah. Abi mana Mi ? " mengalihkan godaan Irsyan
" Ada dikamar. Kenapa Syad. Cerita sama Umi " mengelus kepala Arsyad dengan lembut. Meskipun usia sudah bertambah, orang tua akan menganggap anaknya, anak kecil. Mengasihinya dengan tulus, menyayanginya sepenuh hati.
Setelah Gala Dinner, Abdullah memilih pulang ke rumah dibandingkan menginap di hotel tersebut.
" Anaknya lagi patah hati Mi. Pacarnya diambil orang. Hahahh " meninggalkan Arsyad dengan Umi berdua diruang tamu.
" Pacar ? Maksud Bang Irsyan itu Tira, Syad ? "
" Kenapa Syad ? Ayo cerita sama Umi " menatap wajah anaknya yang sendu.
" Itu Mi " Arsyad menarik nafas dalam sebelum melanjutkan obrolannya.
" Kamu serius ? Kalo Umi mah setuju aja. Tira juga anak yang baik. Umi seneng kalo kamu punya rencana kaya gini "
" Iya, serius Mi. Tapi kira-kira Abi setuju ngga ya Mi ? "
" Kalo Abi mah kayanya setuju-setuju aja. Lagian Abi juga ga pernah komentar apa-apa mengenai hubungan kamu sama Tira " menggenggam tangan Arsyad.
" Semalem Abi ngomong apa gitu Mi, tentang Tira "
" Ngga. Ngga ngomong apa-apa. Emang kenapa ? "
Arsyad menceritakan kepada Umi kejadian tadi malam. Umi mendengarkan dengan baik tanpa memberikan komentar.
" Jadi kamu beneran serius nih ? "
" Serius Mi. Kalo besok dibolehin nikah. Aku juga udah siap " canda Arsyad yang langsung dikelitiki oleh Umi.
" Yaudah sana istirahat. Nanti Umi bilang sama Abi deh "
" Makasih Umi. Arsyad sayang Umi " mengecup pipi Umi, lalu berjalan menuju kamarnya.
______________________________________________
- DIRUMAH TIRA -
Pintu kamar diketuk, terdengar suara wanita memanggil namanya. Tira segera membuka pintu tersebut.
" Ayo Mba, cepet makan " Mamah segera berbalik menjauh dari pintu kamar Tira. Namun langkahnya terhenti, ketika tangannya digenggam oleh anak gadisnya.
" Kenapa Mba ? " mengusap wajah Tira yang terlihat lelah.
" Tira mau ngomong Mah " Tira menggandeng tangan Mamah, lalu duduk disisi tempat tidurnya.
" Kenapa Mba ? Kayanya gelisah banget " mengusap kepala Tira. Tira menyenderkan kepalanya dipundak Mamah. Menikmati sentuhan kasih sang ibunda.
" Menurut Mamah, Arsyad orangnya gimana ?"
" Hmm, anaknya baik, sopan , ramah "
" Mamah suka ngga sama Arsyad ? " memilin bagian bawah bajunya
" Suka ko. Eh ada apa nih ? Ini bicarain tentang Arsyad ? "
" Iya Mah " Tira membenarkan posisi duduknya, menatap wajah Mamah.
" Mah, Arsyad mau ngelamar aku Mah. Mau ajak aku nikah "
" Oyah " tampak terkejut dengan ucapan anaknya.
" Menurut Mamah gimana ? "
" Mba. nikah itu bukan untuk main-main. Bukan untuk menyandang status baru. Apa lagi buat pamer. Nikah itu tentang komitmen, konsistent dan tanggung jawab seumur hidup. Mba udah siap jalanin itu semua ? "
" Tira ga tau Ma. Tira harus apa ? "
" Mba gimana rasanya sama Arsyad ? Bahagia ? Seneng atau apa ? "
" Aku nyaman sama Arsyad Mah. Aku juga suka sama Arsyad "
" Mamah juga seneng sama Arsyad. Dia anak yang baik dan dari keluarga baik-baik " mengelus kepala Tira.
" Kira - kira Ayah bakal setuju ga yah ? "
" Ayah sih selama ini keliatannya setuju - setuju aja. Percaya juga sama Arsyad kalo kamu diajak main. Atau pergi sama Arsyad Ayah juga ngga ngelarang. Kalo menurut Mamah pasti Ayah juga setuju aja "
" Jadi kapan Arsyad mau ke rumah ? "
" Belum tau Mah. Lagian juga itu baru dari ucapan Arsyad aja. Arsyad juga belum bilang sama Umi sama Abinya juga "
" Yaudah. Tira berdoa. Minta sama Allah. Minta Allah permudah urusan sama Allah " Mamah berdiri dari posisinya.
" Mamah mau kemana ? "
" Makan lah Mba. Ayah sama Rayan pasti udah nungguin dari tadi " menoel hidung Tira
" Mah, Terimakasih yah " memeluk Mamah dengan bahagia.
" Iya Mba. Ayo makan " ajak Mamah
______________________________________________
Bersambung ...