
Setelah menemui Rendi di pemakaman Wisnu langsung kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Amara.
.
.
.
Hari terus berganti pikiran Wisnu tetap tertuju pada anaknya untuk segera melakukan tes DNA, Tanpa sepengetahuan Amara Wisnu mengambil sedikit rambut bayinya dokter juga mengatakan jika keadaan bayi Amara dan Wisnu semakin membaik dan jika terus membaik besok Amara dan bayinya sudah bisa pulang.
.
.
Amara sangat senang mendengar kemajuan kesehatan anaknya membuat Amara tidak sabar untuk pulang ke rumah.
"Mas apa kamu sudah memikirkan atau memberi nama untuk anak kita..?" tanya Amara
"Emmm belum sayang, Apa kamu mempunyai saran..?" kata Wisnu
"Bagaimana jika namanya Nura..!"
"Apa artinya sayang..? " tanya Wisnu
"Itu potongan dari nama kita sayang Wisnu dan Amara jadi Nura, Bagaimana menurut kamu..? " kata Amara
"Bagus juga, Baiklah kita namakan anak kita ini Nura, Nura sayang.. " kata Wisnu sembari mengelus kepala anaknya yang sedang dia gendong
.
.
.
Hari berikutnya Amara dan Nura sudah di ijinkan pulang oleh dokter, Tapi di balik kesenangan Wisnu dan Amara yang bisa berkumpul bersama bayinya Nura, Wisnu merasa harap-harap cemas menunggu hasil tes DNA.
"Mas...Mas Wisnu kamu melamun...? " tanya Amara di berada dalam taksi sembari menggendong Nura
"Eh...Emmm tidak sayang aku hanya memikirkan tentang kamar Nura nanti soalnya kita belum menyiapkannya bukan...!" Wisnu gugup
"Tidak perlu di pikirkan sekarang mas, Nura juga masih bayi jadi dia bakal tidur dengan kita dulu supaya tidak repot juga nanti kalau Nura mau nyusu asi... " jawab Amara
"Emmm iya sayang.." kata Wisnu
.
.
Akhirnya tidak lama mereka akhirnya sampai di rumah, Wisnu menyuruh Amara untuk istirahat saja dengan Nura di kamar sedangkan Wisnu akan menyiapkan makanan.
.
.
.
Hidup aku sudah lengkap sekarang, gumam Amara dalam hati, Rasanya dia masih belum percaya sudah memiliki malaikat kecil cantik menggemaskan yang melengkapi kebahagiaan Amara, Tapi Amara ikut sedih juga saat mendengar anak Ratih meninggal dia tidak bisa bayangkan jika hal itu terjadi juga pada Nura, Ingin rasanya Amara menemui Ratih dan Rendi untuk menyampaikan rasa duka, Tapi Amara tahu jika sekarang bukanlah waktu yang tepat.
.
.
Waktu terus berlalu tidak terasa sudah satu minggu, Wisnu mencoba bicara pada Amara tentang rencananya yang sudah janjian dengan Rendi.
"Sayang sebenarnya aku mau membicarakan sesuatu dengan kamu.. " kata Wisnu yang duduk bersama Amara di ruang tengah sembari menonton televisi
"bicara apa mas...?" tanya Amara
"Sebenarnya aku dan Rendi berencana untuk bertemu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi sebelumnya, Aku khawatir jika tidak segera di selesaikan Ratih akan semakin emosi terhadap kamu.." kata Wisnu
"Aku juga sebenarnya ingin segera masalah ini selesai mas, Tapi aku takut Ratih akan emosi dan berontak lagi sama aku... " jawab Amara
"Kamu tenang ya aku janji akan menjaga kamu, Untuk Nura sebaiknya kita titipkan saja dulu pada ibu,bapak dan juga Lusi aku tidak mau terjadi sesuatu padanya... " kata Wisnu memegang tangan Amara
"Baiklah kalau begitu mas aku mau bertemu dengan Ratih dan Rendi... " jawab Amara
"Aku akan memberi kabar pada Rendi jika besok kita akan bertemu dan juga menentukan tempatnya.. " kata Wisnu
.
.
"Mungkin inilah saatnya Rahasia Aku dan Rendi terungkap baiklah aku harus siap..", kata Amara dalam hati.
.
.
keesokan harinya..
.
.
Amara dan Wisnu jam sembilan pagi sudah sampai di sebuah tempat makan dimana mereka akan bertemu dengan Rendi dan Ratih di sana.
.
.
Sembari menunggu Wisnu dan Amara memesan minum dan makan terlebih dulu, Saat pesanan mereka sampai Rendi dan Ratih sampai.
"Ada apa ini mas kenapa ada mereka berdua...?" Ratih mulai emosi saat melihat Amara dan Wisnu
"Kita duduk dulu saja baru aku jelaskan.. " ajak Rendi
"Tidak mas.. Aku tidak mau duduk bersama mereka, Aku kira hanya kita berdua kenapa malah ada mereka juga...!" kata Ratih
"Mereka ke sini karena sudah janjian sama aku untuk menyelesaikan masalah sebelumnya Ratih..."
"Ratih aku mohon tenang kita ke sini untuk menyelesaikan masalah bukan untuk membuat masalah baru.. " Rendi berusaha menenangkan Ratih
"Sini kamu Amara ke sini kamu... " Ratih emosi dan menghampiri Amara tapi tertahan oleh Rendi dan Wisnu yang sigap menghalangi
"Wisnu aku kira lain kali saja kita bicara, Ratih tidak bisa di ajak bicara baik-baik sekarang aku pamit dulu ya..." kata Rendi sembari memegang tangan Ratih dengan erat
"Emmm iya silahkan... " jawab Wisnu
.
.
.
Amara hanya diam ketakutan melihat Ratih yang semakin emosi, sementara Ratih di tarik paksa keluar oleh Rendi.
"Kamu ini kenapa sih buat malu saja marah-marah begitu pada Amara di tempat umum..." kata Rendi pada Ratih yang sudah berada di dalam mobil
"Bela saja si Amara itu mas, Kamu memang sudah di guna-guna oleh dia sampai gelap mata, Sadar mas kamu itu suami aku bukan dia harusnya kamu membela aku... " Ratih masih emosi
"Terserah apa kata kamu aku cape medengar semua emosi dan amarah kamu itu... "
"Aku kira kamu mengajak aku makan di luar untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kita, Ternyata malah bertemu mereka kalau tahu begitu aku tidak akan mau kamu ajak ke tempat tadi... " Ratih terus saja meluapkan emosinya pada Rendi sepanjang perjalanan pulang
.
.
Amara dan Wisnu juga memutuskan untuk pulang menemui Nura, Amara berusaha tenang walaupun tadi dia sempat takut dengan emosi Ratih.
.
.
Hari berikutnya...
.
.
Pagi-pagi Wisnu pergi berangkat kerja seperti biasa, Tapi dia lupa jika hari itu hasil tes DNA nya sudah keluar.
Tok.. tok..
"Sebentar...." jawab Amara dari dalam rumah yang kerepotan sudah memandikan Nura
"Maaf apa benar ini rumah bapak Wisnu..? " tanya seorang kurir pada Amara yang baru membuka pintu
"Iya benar mas.. " jawab singkat Amara
"Ada paket silahkan tandatangan dulu... " kata kurir
.
.
Sembari menggendong Nura Amara langsung tandatangan dan mengambil paketnya.
.
Ternyata sebuah amplop, Saat Amara lihat pengirimnya ternyata dari rumah sakit tempat dia melahirkan waktu itu," Mungkin ini hasil pemeriksaan Nura.. " gumam Amara, Dia penasaran dengan isi amplop itu dan ingin membukanya, Tapi sebelum Amara membuka amplop Nura menangis dan Amara langsung menghampiri Nura lalu menaruh amplop itu di atas meja.
.
.
Sore harinya Wisnu pulang
.
.
" Halo sayang-sayangnya aku...." kata Wisnu semabari masuk ke kamar menghampiri Amara dan Nura
"Eh ayah sudah pulang Nura..." jawab Amara yang sedang main bersama Nura
"Ini ayah belikan boneka untuk Nura... " kata Wisnu
" Wah boneknya bagus terimakasih Ayah... " kata Amara
.
.
Tiba-tiba pandangan Wisnu teralihkan dengan amplop di atas meja.
"Itu amplop apa sayang...? " tanya Wisnu
"Aku tidak tahu mas, Tapi alamat pengirimnya dari rumah sakit waktu aku melahirkan.. " jawab Amara
"Kamu.. Kamu sudah membuka amplopnya... " Wisnu gugup
"Belum sempat soalnya tadi Nura menangis... " kata Amara
"Syukurlah... Eh maksud aku ohh begitu ya sudah aku simpan dulu ya takut lupa... " kata Wisnu sembari cepat-cepat mengambil amplop itu dan menaruhnya di lemari.
.
.
.
.
Selamat membaca 😉