
Semua yang disana terlihat bahagia. Canda tawa dan tangis haru mewarnai jalannya acara.
" Ra, kita foto dulu yuk " ajak Nana
" Yuk "
Mereka berjajar rapih mengambil posisi masing-masing. Dengan background lambang inisial si empunya. T & A yang terdekor rapih minimalis dipekarangan rumah.
Wefie ria dilakukan, berkali-kali sampai menemukan hasil foto yang cantik dan sesuai.
" Bira, Bira , Bira " teriak anak kecil perempuan yang terkuncir kuda dengan gaun warna merah muda. Mendekati Tira yang sedang gembira berswasfoto dengan temannya.
" Sini sayang " melambaingakan tangannya dan digenggam oleh anak yang berusia empat tahun tersebut.
" Bira cantik sekali " punjinya
" Terimakasih sayang " duduk kembali di kursi berpita didekatnya, lalu memangku anak manis tersebut.
" Bira cantik. Kaya Eyang Umi, aku bentar lagi punya Mamih " ucapnya dengan senang. Pipinya merona dengan senyum mengembang.
" Terimakasih anak baik " mengelus pala anak manis tersebut.
" Eh Ra, maksudnya " Tifanny mendengar ucapan anak tersebut, lalu duduk didekat Tira.
" Arsyad duda gitu ? " tanya nya lagi yang tak percaya dan yang dimintai jawaban hanya tersenyum tak menjawab.
" Cantik, kamu namanya siapa ? " tanya Tifanny, mengelus pipi anak tersebut.
" Bira " mendengakan wajah pada Tira, seakan meminta persetujuan menjawab pada Tira.
" Jawab sayang. Nama aku Kasih. Ayo jawab sayang " Tira menunjuk pada Tifanny, mengelus kepala Kasih.
" Nama aku Kasih, tante " ucapnya dengan polos
" Kenalin, aku temennya tante Tira. Nama aku Tifanny "
" Ini bukan tante. Ini Bira aku " jawab Kasih dengan keluguannya dan memeluk tangan Tira
" Bira ? "
" Iya Bira. Bira aku. Bira nanti jadi Mamih aku " ucapnya polos, namun terlihat keposesifan dari anak sekecil itu.
" Bira, itu Bibi Tira. Singkatan biar cepet " ucap Tira menimpali.
" Bibi itu kan artinya tante. Berarti kalo lu udah nikah sama Arsyad. Panggilnya masih Bira apa udah ganti jadi Mira dong ? " tanya Tifanny
" Ko' Mira ? "
" Bira untuk Bibi Tira. Mira untuk Mamih Tira. Gitukan ? "
" Yah ngga lah. Tetap aja Bira "
" Ihhh Cantik sekali. Nama kamu siapa ? " puji Nana yang sudah selesai berselfie ria dan duduk tepat didepan Tira, namun menggeser posisi duduknya agar dapat mengobrol dengan Tira dan Tifanny.
" Kasih " ucapnya dengan polos
" Nama kamu bagus sekali. Cantik seperti wajah kamu " puji Rara yang duduk disamping Tifanny
" Terimakasih tante " ucap Kasih, si anak manis tersebut.
" Kasih udah makan ? "
" Udah Bira " ujar kasih yang masih duduk dipangkuan Tira. Terlihat bocah kecil tersebut sudah sangat kenal dan nyaman dengan wanita tersebut. Wanita cantik yang dipanggilnya Bira.
" Paman " ucap gadis kecil ketika melihat seorang laki-laki mendekat.
" Sini, Kasih sama paman aja. Bira nya pegel nanti " tawar Arsyad yang duduk disamping Tira. Kasih menurut, lalu duduk dipangkuannya.
" Selamat yah Syad " ucap Nana
" Iya. Makasih. Kalian udah pada makan ? "
" Udah - udah makan ko " jawab Nana dan diangguki oleh Tifanny dan Rara.
" Paman, kasih mau ke Eyang Umi " pinta Kasih yang sudah terlihat mengantuk.
" Ok " ___ " Kita kedalam dulu yah " ucap Arsyad dengan menggendong Kasih meninggalkan para wanita yang sedang bersenda gurau.
" Ra, jadi Kasih itu anaknya siapa ? " tanya Tiffany.
" Tadi kata kasih, lu bakal jadi Mamihnya. Tapi manggil Arsyad, Paman. Gimana sih " tanya Tifanny yang masih tak mengerti
Nana dan Rara mendengarkan secara seksama.
" Jadi, Kasih itu keponakan Arsyad. Ayahnya kasih sama Arsyad adik kakak. Jadi manggil gw dengan sebutan Bira dan Arsyad, Paman. Ngono loh "
" Kenapa ? Mau jadi Mamihnya Kasih ? " tanya Tira pada Nana.
" Tergantung. Papih nya Kasih kaya mana dulu ? " tanya Rara
" Eh, ko' jadi lu yang ngebet sih. Kan gw yang tanya " ujar Nana
" Kaya Arsyad lah. Yah ada manis-manis nya gitu " ucap Tira dengan tawa
" Hmmm.. Kayanya gw udah bisa bayangin deh. Orangnya tinggi, hitam manis terus ada sedikit brewok nya gitu yah ?" ___ " Yang itukan " tunjuk Rara pada seorang yang sedang berdiri didekat pagar dengan ponsel yang sedang ditempelkan pada pipi dan terlihat sedang berbicara dari gerakan bibirnya.
" Iyah. Bener " jawab Tira
" Kalo itu gw mah mau " ujar Rara
" Siapa namanya ? " tanya Nana
" Cari tau dong. Udah lah gw mau ke dalam dulu yah. Kalian tunggu sebentar yah " ucap Tira meninggalkan tiga sahabatnya yang masih membicarakan pria tampan yang tak jauh dari tempat duduk mereka.
" Upload foto dulu ahhh " ucap Rara yang sudah menemukan foto yang sudah dipilih dari puluhan gaya untuk di uploade.
Tira's Day , keterangan kalimat untuk foto tersebut.
***
Semetara ditempat lain, ada seseorang yang hati nya terluka. Tersayat tak berdarah. Merana, tak percaya. Menjerit pun tak berguna. Tak ada obat yang mampu meredakan emosinya. Kalah seribu langkah dalam menggapai Cita. Citanya menjadi pendamping bagi seorang wanita yang sudah lama dikagumi. Yah, siapa yang akan tahu ? Bahkan selama ini pun tak ada kejelasan. Lalu apa yang membuatnya merasa sudah berjuang. Bukankah sudah sangat lama dari terakhir perjumpaan ? Dan tidak ada kata pembahasan. Memang, menjadi pengagum rahasia tak salah. Lantas, bagaimana harus membuktikan. Dalam doa disebut namanya ? Tidak, Tidak !!! Jelas bukan pengagum rahasia, tapi lebih pada rasa semu ke egoisan yang tumbuh mengakar. Memilikinya bukan karena cinta, tapi hanya sebuah kepuasan belaka.
" Tiraaaa... Ngga mungkin ini. Ngga Ra, lu ngga boleh sama dia. Lu milik gw Ra. Ngga ada yang bisa milikin lu selain gw Ra " mengacak rambutnya.
" Ngga, ngga. Lu akan jadi milik gw selamanya Ra. Inget Ra. Apapun yang gw mau, pasti gw dapetin. Termasuk lu Ra " membantik ponselnya kelantai.
" Siapa laki-laki nya ? Akkhhhhhh .. Bisa gila gw kaya gini. Siapapun pria itu bakal gw habisin. Gw ga pernah main-main sama ancaman gw Ra. Gw bakal bikin pelajaran sama tuh cowok " mengacak dan melemparkan benda yang ada didekatnya. Jatuh terpecah belah. Meninggalkan kamar yang berantakan. Semua sudah tak sesuai pada tempatnya.
***
" Bagaimana untuk tanggal pernikahannya ? Tira, Arsyad apa sudah memilih ? " tanya Umi
" Belum Mi. Aku ikut Tira aja " ucap Arsyad
" Kalo boleh pilih, aku mau tanggal ini aja " ucap Tira menunjuk kalender meja yang ada didepannya.
" Ko' lama amat sih. Jangan lama-lama. Yang deket aja. Bulan depan aja " ucap Umi.
" Kayanya kalo bulan depan belum bisa deh Mi. Aku masih banyak kerjaan soalnya " jelas Tira
" Ngapain mikirin kerjaan sih Ra. Kerjaan biar Arsyad aja yang ngurus " menyenggol lengan Arsyad.
" Bukannya gitu Mi. Kan Umi juga tau, ada proyek baru diluar kota. Aku juga lagi sering banget ke luar kota. Kasian Tira juga kalo ngurusin semuanya sendiri " jawab Arsyad
" Yah kan Ra " ucap Arsyad mengedipkan mata pada Tira
" Iya. Bener Mi " Tira menimpali
" Tapi Umi rasanya ngga setuju deh. Itu kelamaan " Umi masih berteguh pada pendiriannya.
" Udahlah Mi, ngga apa-apa. Lagian kan yang mau nikah Arsyad sama Tira. Kita kan tim hore aja Mi " ucap Irsyan menengahi
" Tim hore bagaimana maksudnya ? "
" Yah maksudnya, kita jadi pendukung aja Mi. Lagian yang tau kesibukannya masing-masing kan Arsyad sama Tira. Trus bener kata Arsyad, Arsyad lagi sering keluar kota. Kasian juga Tira kalo ngurusin sendirian " timpal Irsyan lagi
" Tapi rasanya Umi kurang setuju gitu "
" Udah Mi. Kasih pilihan sama Arsyad sama Tira. Doain aja yang baik untuk mereka " ucap Abi
Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Sebenarnya tidak terlalu lama. Hanya 5 bulan dari acara lamaran hari ini.
______________________________________________
Bersambung ...
Heyho temen-temen. Maaf yah baru update lagi. Beberapa hari ini author (hampir) kehilangan untaian kata untuk menggambarkan dan menjelaskan inspirai jalan cerita.
Makanya author mesti baca enovel yang lain lagi.
Oyah, BTW siapa nih yang udah WFH ?
Yuk ceritain, pengalaman kalian selama WFH atau kegiatan kalian dirumah selama diliburkan dari sekolah atau kampus ?
Semoga temen-temen semua sehat dan bahagia. Wabah cepat berakhir dan tak ada lagi korban - korban baru.
Ingat, selama tidak ada keperluan mendesak, tetap dirumah yah. Dan buat temen-temen yg masih harus menjadi PEJUANG NAFKAH ditengah wabah Corona, semoga tetap diberi kelancaran dan kesehatan.
Aamiin