
Tira sudah membersihkan diri, berganti pakaian dan mengompres lukanya dengan air hangat yang dibawakan oleh Mamah ke dalam kamar.
Suara ponsel berdering, Ia segera mengangkat panggilan tersebut. Panggilan dari pria yang sangat baik padanya dan sekaligus jadi penolong dalam hidupnya.
" Halo Syad. Kamu udah sampe rumah ?" Tira mengubah panggilan, dengan memilih speacker. Memudahkannya berbicara sambil mengompres lukanya.
" Udah, kamu baik-baik aja ? " tanya Arsyad khawatir.
" Iya Baik. Kamu lagi apa ? " dari nada bicaranya sudah nampak tenang.
" Aku ngga bisa tidur, aku mau memastikan. kamu baik-baik ajakan ? Kamu juga kenapa belum tidur ? "
" Iyah, aku baik. Aku lagi kompres luka "__ " awww " jeritnya ketika tak sengaja menekan luka memar di tangannya.
" Kamu kenapa ? Sakit yah ? Apa kamu harus dirawat aja ? " Arsyad panik
" Ngga ko'. Ini cuma memar aja. Aku kompres nya kurang hati-hati aja. Jangan khawatir " mencoba berusaha tenang.
" Gimana aku ngga khawatir coba kalo kamu kaya gitu " dengus Arsyad kesal
" Syad. Terimakasih yah. Kamu datang tepat waktu. Aku ngga tau gimana jadinya tadi ... " Tira terisak lalu berusaha mencoba menenangkan dirinya kembali.
" Ra. Jangan sedih lagi yah. Mulai sekarang, kamu ngga boleh keluar sendiri lagi yah. Kamu harus minta anter jemput. Nanti ke kantor, aku yang akan anter jemput "
" Jangan Syad. Aku bisa ko' " tolak Tira
" Ngga. Pokoknya aku yang anter jemput ke kantor mulai sekarang. Ga boleh nolak " setelah percakapan Arsyad, Mamah dan Ayah, Arsyad merasa memiliki tanggung jawab yang lebih setelah dipercaya oleh Ayah.
" Syad. Aku boleh tanya ga ? "
" Tanya apa ? "
" Tadi ko' kamu bisa ada disana ? Apa kamu ikutin aku yah " Tira mengingat ketika Arsyad tiba-tiba memukul Ilham.
" Oh, itu. mesti diceritain yah ? " jawab Arsyad kikuk, mengelus kepalanya yang sakit akibat perkelahian antar dua lelaki tersebut.
" Iyah. Harus " pinta Tira
Arsyad mulai menceritakan dari awal. Tira hanya mendengarkan dengan seksama. Sesekali menangis, mengingat keteledoran yang dilakukannya.
***
Flashback On
" Pa, martabak coklat kacangnya satu yah " pesan Arsyad pada penjual martabak langgannya tersebut.
Arsyad memainkan ponselnya dan sesekali melihat disekelilingnya. Ia melihat wanita dengan baju daster didepan mini market. Terlihat dari jarak yang cukup jauh, wanita tersebut memainkan ponselnya.
Apa itu Tira, ko' sendirian ?
" Ra, Tira " teriak Arsyad yang mencoba memanggil wanita di seberangnya. Ia melihat kiri dan kanannya. Nampak kendaraan cukup banyak berlalu lalang.
Wanita tersebut, sepertinya mendengar teriakan Arsyad. Dari gerak tubuhnya, Ia seprti mencari sumber suara.
" Mas Ini pesanannya " ucap penjual martabak.
" Ini Pa. Makasih yah " Arsyad mengambil martabak tersebut dan memberikan uang dua puluh ribu seseai dengan harga.
" Ra. Tira " Arsyad memanggil dan menyeberang ditengah keramaian. Ia melihat wanita tersebut berdiri disamping pintu mobil. Sayangnya, mobil tersebut sudah melaju meninggalkan halaman mini market sebelum Arsyad mendekat.
Itu pasti Tira, Arsyad dengan yakin.
Arsyad kembali ke motornya. Mengendarai motornya dengan laju cukup cepat. Namun tak berhasil mengikuti mobil tersebut.
Arsyad sudah dekat dengan sebuah jembatan yang akan menghubungkan komplek sekitar rumah Tira dengan jalan utama. Karena jembatan tersebut sedang diperbaiki, tak mungkin jika mobil bisa melalui jembatan tersebut. Arsyad masih terus berfikir, jalan mana sekiranya yang akan dilalui oleh mobil tersebut. Semakin berfikir, semakin hatinya tak tenang.
Arsyad menepikan kendaraanya, Ia mengambil ponsel dan melacak keberadaan Tira dengan bantuan GPS yang sebelumnya sudah terpasang. Arsyad melihat dengan seksama. Jelas, dari GPS tersebut, bahwa lokasi Tira cukup jauh dari rumahnya. Arsyad mengendarai kendaraannya mengikuti alur yang dilacak oleh GPS.
Arsyad sudah berada dilingkungan komplek yang cukup mewah. Rumah besar dan pekarangan yang luas. Ia terus mencari mengikuti GPS dan melihat kanan dan kiri mencari keberadaan wanita cantik tersebut.
Bruk ... sebuah pukulan keras diterima oleh pria gila tersebut. Perkelahian terjadi. Bukan dengan Tira. Melainkan Ilham dan Arsyad. Entah dari mana Arsyad datang. Ia berkelahi dengan Ilham. Yah. Ilham benar-benar seperti monster, tenaganya masih ada. Masih bisa menangkis, menepis dari pukulan Arsyad dan sesekali perlawanan.
***
flashback off
" Ra, kamu tau kenapa aku selama ini suka banget ngelarang kamu. Ngelarang ini itu, kadang juga ga masuk akal. Terus juga aku minta kamu untuk berhenti nari. Kamu tau alasannya kenapa ? " tanya Arsyad dengan serius.
" Ngga " tanpa sadar Tira menggelengkan kepalanya.
" Itu karena aku ga mau ada kejadian kaya gini. Dan aku ternyata salah besar " Arsyad menghembuskannya dengan keras.
" Bahkan kamu pake daster jelek, sendal jepit terus rambut diikat ga jelas, masih ada aja yang naksir. Heran aku " canda Arsyad diselingi tawa
" Itu artinya aku cantik tau " jawan Tira percaya diri
" Bukan. Artinya kamu harus tutup aurat " sanggah Arsyad
" Iya. Doain aja. ASAP yah. Heheh "
( ASAP \= as soon as possible \= secepat/ sesegera mungkin )
" Ra, besok kamu ga usah masuk kerja dulu yah " pinta Arsyad
" Kenapa ? Terus kerjaan aku gimana ? " tanya Tira khawatir.
" Tenang aja, aku kan bosnya. Lagian muka kamu masih memar, nanti kalo kamu masuk kantor, satu kantor heboh lagi liat kamu kaya gitu. Belum nanti kalo ada perkembangan dari polisi, kamu juga harus bolak balik pergi. Mending kamu dirumah dulu " jelas Arsyad
" Baiklah kalo gitu. Terimakasih Pa Boss atas perhatiannya " ___ " Pa Boss, I love you " ucap Tira dengan riang
" Love you too. Udah sana tidur " Arsyad langsung memutuskan panggilan telefonnya.
Arsyad teringat dengan martabak yang ia beli. Masih tergantung di motornya. Bahkan karena kepanikan dan ke khawatiran, martabak yang dibelinya tidak diserahkan ketika sudah berada dirumah Tira.
" Syad, itu muka kenapa " tanya Umi memperhatikan wajah Arsyad yang baru saja masuk dengan sebuah bungkusan martabak ditangannya.
" Biasa Mi. Namanya juga laki-laki " jawab Arsyad sekenannya.
" Kamu abis berkelahi. Kenapa ? Sama siapa ? Abi, Abi " teriak Umi panik.
Umi menarik tangan Arsyad, untuk duduk disisinya.
" Ya Allah. Ini kenapa ? " Umi mengusap luka bibir pada Arsyad.
" Awww " teriak Arsyad reflek dan menghindar dari tangan Umi yang ingin mengusap kembali luka memar yang ada diwajah Arsyad.
" Kenapa Syad. Kamu berkelahi ? " tanya Abi khawatir, yang sudah berada disisi Umi.
" Tunggu sini. Umi ambil kompresan dulu " titah wanita tua yang terlihat khawatir dari bahasa dan gerak tubuhnya. Umi kembali dengan sebuah alat kompres dan air hangat.
Dengan hati-hati mengusap luka dan memar dari wajah anak yang dicintainya. Meski kesakitan, Arsyad mulai menceritakan kejadian yang baru menimpanya tadi.
" Astaghfirullah " Umi dan Abi menggeleng tak percaya. Dan ada rasa bangga tentunya,. pada anak laki-laki yang ada didepannya.
______________________________________________
Bersambung ...
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah membaca sampai saat ini.
Semoga novel ini membunuh kebosanan selama kalian #dirumahaja.
Jangan lupa, untuk like, koment , kritik dan sarannya.
see you 💙