
Pukul 8 malam Arsyad Tiba dirumah Tira tanpa memberi tahu sebelumnya.
" Assalamuaikum " ucapnya didepan rumah
" Waalaikum salam " ucap Tira, lalu menemui Arsyad.
" Tumben kesini ga bilang-bilang. Ada Apa ? " membuka pintu pagar.
" Ada rindu yang belum terlabuh "
" Ih gombal " menepuk tangan Arsyad.
Mereka masuk lalu menuju sofa diruang tamu.
" Ayah sama Mamah ada ? Rayan ? " melihat sekitarnya yang sepi.
" Lagi dikamar semua "
" Tunggu sebentar yah. Aku mau bikin minum dulu " ucap Tira
" Eh ada Arsyad " berdiri mendekati Arsyad.
" Iya Bu " menyalimi tangan Mamah Tira
" Mau kemana Mba ? " melihat Tira berdiri dari tempatnya
" Mau bikin minum Mah "
" Udah duduk aja. Biar Mamah yang buat "
" Bu jangan bu. Ga usah repot-repot " ucap Arsyad dengan tak enak hati.
" Ngga, ngga repot ko'. Kalian mau ngomong hal yang pentingkan. Udah omongin aja " ucap Mamah menuju ke dapur untuk membuatkan minuman.
" Ra, aku udah ngomong sama Abi sama Umi"
" Oyah, terus tanggapan mereka apa ? Tanggapan Abi gimana ? Kan semalem liat aku kaya gitu " Tira mengingat momen menyebalkan dihidupnya.
" Ngga ko'. Abi ngga komentar apa-apa. Mungkin karena udah dijelasin sama Umi. Jadi Abi lebih ngerti "
" Kamu udah ngomong " pembicaraan terhenti, ketika seorang wanita datang dengan sebuah gelas ditangan.
" Kalo udah nikah, ga cuma bisa bikin minum aja. Harus bisa masak. Jadi bisa bikinin masakan kesukaan suami. Kalo ga bisa, belajar dari sekarang " ucap Mamah menaruh gelas tersebut dimeja dan pergi.
Ihhh, Mamah. Pasti nyindir aku nih
" Jadi kamu udah ngomong " menyimpulkan dari ucapan Mamah Tira
" Udah " mengangguk
" Terus responnya gimana ? " tanya Arsyad dengan penasaran.
" Mamah sih setuju. Tapi Ayah aku gatau. Aku belum ngomong sama Ayah "
" Ih, kenapa ga ngomong "
" Nanti Mamah yang mau bicara sama Ayah dulu "
Ehemm.. bunyi suara batuk terdengar. Dari laki-laki paruh baya yang baru saja keluar dari kamar.
" Pa " menyalimi tangan Ayah Tira. Tira bergeser dari posisinya. Ayah duduk disamping Arsyad.
" Jadi gimana Syad ? " ucap Ayah dengan tenang.
Gugup melanda, keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya. Ia kehabisan kata untuk berucap.
" Jadi gini Pa " Arsyad terlihat sangat gugup.
" Ada apa. Pelan pelan aja ngomongnya ? " tepukan lembut dipunggung diterima dari tangan Ayah Tira.
" Saya punya niatan baik terhadap Tira "
" Niatan baik bagaimana maksudnya "
Ahh, Ayah, bukannya sudah tahu.
Kenapa masih tanya kaya gitu sih.
Ga liat apa, ekspresi Arsyad kaya gitu.
" Umi sama Abi, mau ketemu sama Bapak sama Ibu " melihat kearah Ayah, bergantian dengan Mamah, yang duduk bersebelahan dengan Tira.
" Terus, niat baiknya dimana ? "
" Hmmm.. niat baiknya, semoga di izinkan sama Bapa sama Ibu. Arsyad punya niatan serius sama Tira "
" Kapan orang tua mu mau kesini ? "
" Saya belum tau Pa. Tapi InsyaAllah segera "
" Baiklah kalo gitu. Silahkan ngobrolnya dilanjutkan " Ayah dan Mamah berdiri dari tempatnya dan kembali ke kamar.
Tira kembali pada posisinya semula, duduk disebelah Arsyad.
" Kamu ko' keliatan gugup sih "
" Bukan gugup lagi Ra. Tapi Gemetaran Ra "
" Masih gemetaran ? " Tira memegang tangan Arsyad dengan erat. Seakan sebagai suplement tambahan, genggaman tersebut menjadi sumber ketenangan bagi Arsyad.
" Kalo denger makna tersirat dari ucapan Ayah, Ayah setuju "
" Alhamdulillah Ra. Aku seneng banget. Ga sia-sia, aku gemeteran kaya gini. Hahah " senyum mengembang bagai bunga bermekaran. Begitu indahnya.
" Tapi kamu udah siap belum, nikah sama aku ? "
" Aku bingung Syad "
" Bingung kenapa ? "
" Nikah itu kan ibadah seumur hidup. Aku ngga mau jalaninnya asal-asalan. Aku masih banyak kekurangan. Aku ga tau, apakah nanti aku bisa jadi seorang istri yang baik "
" Jadi kamu ragu sama aku ? " ucap Arsyad serius
" Aku ngga ragu Syad. Aku seneng banget. Kamu orang baik, dari keluarga baik-baik dan orang tua ku juga setuju "
" Jadi masalahnya dimana ? Kalo kekurangan, setiap orang juga punya. Begitupun juga dengan aku Ra. Tapi ga adil rasanya, kalo kita fokus hanya dengan kekurangan saja. Sedangkan kelebihannya kita ngga anggap "
" Bukan gitu Syad. Tadi kamu denger kan apa yang Mamah ucapin dan kamu juga udah tau, kalo aku ngga bisa masak "
" Jadi karena ga bisa masak kamu nolak aku ?" tanya nya dengan heran
" Aku ngga tolak kamu. Tapi aku ngasih tau kenyataan. Aki ngga mau kasih ekspektasi yang tinggi buat kamu "
" Kalo kamu ga bisa masak yah ga apa - apa. Belajar pelan - pelan. Kalo masih ngga bisa, yaudah. Kita bisa order pake ojol ko' "
" Tapi itu baru salah satunya aja Syad "
" Ra, kamu yakin ga sama aku ? Kamu sayang ga sama aku ? Kamu percaya ga sama aku ? " dijawab hanya dengan anggukan kepala.
" Kita belajar Ra. Kita mulai semua dari awal. Meskipun kamu tau, aku sering marah sama kamu atau larang kamu atau buat aturan hal yang aneh untuk kamu. Tapi itu semua aku lakukan untuk kamu. Dan sampai saat ini kamu masih ada disamping aku. Ada disisi aku "
" Ra, aku sayang sama kamu. Kita belajar Ra "
" Syad. Aku juga sayang sama kamu "
______________________________________________
flashback
Abi, Umi dan Arsyad sudah duduk dikursinya masing - masing menikmati makan malamnya. Sedang Irsyan sudah kembali kerumahnya.
" Syad " ucap Abi disela makan malamnya
" Iya Bi "
" Jadi kamu sama Tira gimana ? "
" Eh itu Bi. Gimana yah ? " Arsyad bingung mau menceritakannya dari mana.
" Bi, ngomongnya jangan kaya mengintimidasi gitu sih " Umi melihat Arsyad yang kebingungan menjawab
" Jelasin sama Abi, Syad. Trus yang semalem gimana ? "
Deg, hampir saja detak jantungnya berhenti
berdetak.
" Itu Bi. Itu cuma salah paham aja Bi " ucap Arsyad mencari aman
" Kan udah Umi jelasin. Masa Abi ga percaya sama Umi sih " Umi menengahi
" Jadi Umi percaya sama Arsyad ? Padahal Abi ngeliat pake mata kepala sendiri loh " ucapnya datar, namun tak bisa ditebak.
Ya Allah, tolonglah hamba Mu ini ya Allah
Engkau selalu mempermudah bagi umat mu yang berniat kebaikan.
Semoga engkau, mempermudah niat baik ku.
Aamiin.
Doa Arsyad dalam hati dan tak berani menatap ekspresi Abinya
" Yah itu, karena mereka ngga tau Bi. Arsyad sama Tira hubungannya sudah dekat. Bahkan dari mereka lulus SMA. Dan mungkin kenapa mereka ngga tau kedekatan Tira sama Arsyad. Karena mereka berdua sangat profesionalisme di kantor "
Alhamdulillah, makasih Umi.
Umi no one. Umi is the best.
Umi I love you tiga ribu tambah gope Mi
Mengedipkan matanya pada Umi.
" Jadi kapan kamu punya rencana mau ketemu Tira ? "
" Belum tau Bi '
" Yaudah, kalo gitu sekarang aja. Habis kamu makan "
" Jadi Abi sama Umi, setuju "
" Iya, Sayang. Udah habisin makanannya " ucap Umi
______________________________________________
Bersambung ...