Rahasia

Rahasia
Epi. 51 PRASANGKA


" Maukah kamu terima mawar ini dari aku ? "


Eh, gimana nih ? Tuh kan bener.


Batinnya menjerit.


Tira mensejajarkan posisinya. Sedikit menunduk dan mengambil bunga tersebut dari tangan pria didepannya.


Angga tersenyum lebar, melihat wanita didepannya menerima bunga pemberiannya.


" Kenapa mas lakukan ini " Tira mengambil microphone yang dipegang Angga dan meletakkannya ke lantai. Agar suara nya tak tertangkap dan terdengar oleh mereka yang ada diruahgan ini.


" Apa kamu masih belum mengerti ? "


Ia berdiri dan berjalan menuju kursinya.


***


Sebagian besar dari mereka masih bertepuk tangan. Memuji keberanian Angga. Menyatakan cinta didepan orang banyak. Bukan masalah jika dua insan tersebut memiliki perasaan yang sama. Lain cerita, yang dialami oleh Tira.


Tira duduk dikursinya dan orang-orang disekitarnya menatap tak percaya. Ada yang larut dalam bahagia, ada yang merasa menyesal karena didahului oleh Angga dan beberapa diantaranya memasang wajah kaget tak percaya. Tira meletakkan mawar tersebut diatas meja dihadapannya. Ia melirik kearah laki-laki yang tak jauh dari kursinya.


Apa dia marah ?


Ah benar, pasti dia marah.


Irsyan mengelus pundak Arsyad, mencoba menenangkannya. Meskipun Ia tahu, bahwa apa yang dilakukan Tira bukan berarti menerima cinta Angga.


Meskipun cukup terkejut, Abdullah tidak mengatakan apa pun. Itu adalah urusan anak muda. Ia tak ingin ikut campur.


Arsyad berdiri dari kursinya dan berjalan keluar ruangan. Tira juga beranjak dari kursinya mengikuti langkah Arsyad.


" Syad " panggilnya. Arsyad terus melangkah tak peduli dengan suara yang memanggilnya.


Tira memperbesar langkahnya, bahkan sampai sedikit berlari. Berusaha mengimbangi langkah Arsyad yang panjang.


" Syad berhenti dong " panggil Tira kembali.


" Syad, please Syad. Dengerin dulu "


" Apa ? " Arsyad membalikkan badannya


" Aku mau ngomong " dengan nafas tak beraturan.


" Nanti aja " ucapnya membalikkan badan


" Ih sekarang " paksa Tira memegang tangan Arsyad


" Jangan disini " ucapnya tegas


" Kenapa ? "


" Tuh liat " Arsyad menunjuk gambar pada pintu tersebut. Pintu dengan hiasan gambar celana biru. Tira berhenti didepan pintu tersebut, menunggu Arsyad yang masuk kedalam ruangan tersebut sendiri. Kenapa Tira tidak masuk ? Karena pintu dengan gambar celana biru menunjukkan toilet pria, sedangkan toilet wanita berhias gambar dress merah muda.


" Ok " jawab Tira


Tira masih mencari alasan untuk menenangkan Arsyad agar tidak berprasangka buruk terhadapnya.


Sebenarnya bukan alasan, lebih tepatnya meluruskan adegan tadi agar tidak berfikir yang macam-macam tentangnya.


" Syad " Tira melihat Arsyad keluar dari toilet. Ada raut tak suka dari wajahnya.


" Apa ? "


" Yang tadi jangan marah yah " ucapnya dengan penyesalan.


" Aku juga ga tahu. Mana mungkin sih aku ngelakuin kaya gitu " masih mengikuti Arsyad dari belakang. Susah sekali mensejajari langkah Arsyad.


Arsyad berhenti dan duduk disebuah bangku taman. Tepatnya dibelakang hotel yang menghadap danau kecil buatan. Tira duduk disebelahnya tanpa bertanya.


" Syad " Tira menggenggam tangan Arsyad.


" Jangan marah please " Arsyad diam, tak melihat wanita yang mengajaknya berbicara.


" Aku gatau, bisa kaya gini. Syad, lihat aku " pinta Tira, namun Arsyad tetap diam tak ingin melihat. Matanya masih menatap air danau yang tenang dengan sedikit pantulan dari sinar penerangan jalan ditepi danau.


Cukup lama mereka berdiam. Tira tak tahu, apa yang harus ia bicarakan dengan Arsyad. Ia bingung, apa yang harus dikatakan. Padahal Ia sudah berbicara dengan jujur. Arsyad diam saja tak juga bersuara.


Angin malam menerpa, udara dingin semakin terasa. Tira melepaskan tangannya dan mengusap kedua lengannya. Baju yang ia kenakan tak mampu menghangatkan tubuhnya. Arsyad berdiri dari kursinya.


" Syad, jangan pergi " pinta Tira. Arsyad tak menjawab dan melepaskan jas yang dikenakannya. Ia mengenakan Jas tersebut pada Tira. Tira diam tak bergerak. Hanya ada senyuman yang tercipta. Satu dari banyak hal yang membuat Tira jatuh cinta pada Arsyad adalah laki-laki tersebut masih memperlakukannya dengan baik, meski sedang dalam keadaan marah sekalipun.


" Mau kemana ? " Tira melihat Arsyad melangkah.


" Tunggu disini " pintanya, lalu berjalan kembali menjauh dari Tira


***


Arsyad kembali ke ballroom, acara dinner pun sudah selesai. Namun, acara pembagian doorprize baru saja dilakukan.


Ia pergi ke sebuah meja yang bersandar didinding. Mengambil dua gelas plastik. Mengisinya dengan susu jahe dan kopi hitam.


" Syad mau kemana ? "


" Mau ke belakang Bang "


***


" Nih " Arsyad duduk kembali disamping Tira. Menyerahkan gelas tersebut pada Tira.


" Ini apa ? Teh " menunjuk gelas yang berisi air agak kecoklatan.


" Susu Jahe "


" Makasih " mengambil dengan hati-hati, karena gelas tersebut terasa agak sedikit panas dan kepulan asap diatasnya.


" Makasih Syad " meminum sedikit demi sedikit. Arsyad pun meminum kopi yang dibawanya.


" Syad, makasih " udah tiga kali bilang makasih, masih juga diem aja. Batinnya kesal tapi raganya sedikit terhangatkan dengan jas Arsyad dan susu Jahe yang dibawakan pula oleh Arsyad.


" Mak ... " berusaha mengucapkan ke empat kalinya.


" Sama - sama " tetap memandang danau


" Ra " ucapnya pelan.


" Apa ? " Tira menyandarkan kepalanya pada bahu Arsyad. Tak peduli jika Arsyad masih marah padanya.


" Aku mau bahas yang tadi "


" Iya, bahas aja " ucapnya pasrah. Ia bersiap melawan api kemarahan dari Arsyad.


" Waktu kamu ambil bunganya. Kamu ngomong apa ? "


Tira menjelaskan pada Arsyad. Apa yang dibicarakan dengan Angga. Ia hanya menerima bunga pemberian Angga. Jika menolak pemberian bunga, bukankah akan memalukan Angga. Hanya menerima bunga, bukan berarti menerima perasaan Angga. Bukankah begitu ?


" Kamu tahu, kenapa dia atau bahkan siapapun bisa melakukan itu sama kamu ? "


" Karena punya perasaan lebih. Gitu kan ? "


" Iya. Bener. Kamu tau ga, cara paling efektif menolak seseorang. Bahkan sebelum seseorang tersebut menyatakan perasannya "


" Apa ? "


" Status "


" Status gimana ? Aku ga ngerti " membernarkan posisinya. Lalu duduk berhadapan dengan Arsyad.


" Karena status kamu masih lajang. Coba kalo status kamu udah berubah ... "


" Berubah gimana ? "


" Berubah dari lajang jadi istri aku " ucapnya dengan senyum sambil menatap mata Tira. Sungguh rasanya bukan main. Seperti disambar pelangi. Begitu indah begitu luar biasa.


" Ngga ada yang bisa ngelakuin kaya tadi lagi"


" Syad, kamu serius ? " masih tak percaya


" Secepatnya aku akan melamar kamu. Kamu mau kan nikah sama aku ? "


" Iya , aku mau " air mata meluncur tak terrencanakan dari ujung mata Tira.


" Kenapa nangis ? " mengusap air mata yang jatuh dengan lembut.


" Aku seneng banget " tersimpul senyum dari bibir Tira


" Secepatnya aku akan bilang sama Abi sama Umi. Biar segera datang ke rumah mu. Aku gamau ada yang duluin lagi, aku ga akan kecolongan kali ini . hahahahah "


" Kecolongan sama siapa ? sama Angga Hahah " lelehan air mata sudah hilang


" Ahhh, kita beda level " Arsyad meninggikan diri.


" Aku tahu, level saingan kamu sama siapa ? "


" Hmmm... sama siapa ? Katanya gaada yang selevel sama aku deh "


" Ihhh mulai deh, Ge Er nya luar biasa "


" Emang ada ? Siapa ? "


" Ada, laki-laki yang diruang meeting, yang pakai kemeja abu-abu. Oyah itu, siapa namanya ? "


" Hah itu ? Boleh lah saingannya sama yang itu " ucap Arsyad cepat


" Namanya siapa yang itu ? Ayo jawab " paksa Tira dengan menggoyangkan lengan Arsyad


" Ngga tau " pura-pura hilang ingatan


" Ayo jawab. Ngga jawab, aku kelitikin nih " masih mencoba mencari jawaban


" Ngga tau. Beneran . Ngga tau "


" Ihhh ayo jawab "


______________________________________________


Bersambung ...