Rahasia

Rahasia
Bab 36:Membeli alat tes kehamilan


Ibu Sri datang mengahampiri Amara yang sedang duduk di gudang dengan membawa makanan dan obat.


"Amara ini kamu makan dulu, Nanti setelah makan kamu minum obat dan supaya tidak sakit lagi... "


"Terimakasih bu Tapi ini makanannya banyak sekali dan maaf jadi merepotkan ibu sampai membelikan obat dan... " kata Amara sembari mengambilnya.


"Tidak merepotkan itu makan semuanya ya supaya kamu cepat sehat, Kalau kamu memang belum kuat jangan memaksakan untuk kerja.." kata Ibu Sri.


"Saya tidak apa-apa bu insya allah saya kuat untuk bekerja..." jawab Amara.


"Ya sudah ibu tinggal dulu ya.. " kata ibu Sri.


.


.


Amara membuka dan memakan makanannya saat makan tiba-tiba Amara teringat pada Wisnu apakah dia sudah makan atau belum? Dia pergi bekerja atau sudah mengundurkan diri? Sembari makan Amara mengambil telepon dan mengirim pesan pada Wisnu "Mas kamu sudah makan belum? Kamu pergi kerja tidak.?" pesan terkirim, Tetapi Wisnu tidak membalas pesan dari Amara.


.


.


Beberapa menit berlalu Amara sudah selesai makan, Tapi Wisnu tetap tidak membalas pesannya, Amara pergi ke toko dan membantu ibu Sri lagi.


.


.


Amara bekerja dengan giat dan rajin ibu Sri merasa sangat terbantu bukan hanya mengurus tentang kebersihan dan kerapihan toko, Tapi Amara juga membantu melayani pembeli dengan ramah.


.


.


Waktu sudah sore waktunya toko tutup Tapi Amara teringat dia tadi merasa pusing dan sudah satu bulan belum datang bulan mungkin saja Amara hamil lalu dia memutuskan untuk membeli dulu alat tes kehamilan ke apotek sebelum pulang ke kontrakan.


.


.


.


Jika benar Amara hamil dia akan senang sekali bisa saja ini akan menjadi kabar baik juga untuk Wisnu dan semoga Wisnu bisa memaafkan Amara jika benar Amara sedang hamil.


.


.


.


Saat sampai di kontrakan Amara sudah tidak sabar dia sudah membayangkan kalau Wisnu tahu kalau Amara hamil pasti Wisnu akan sangat senang lalu memafkannya dan menjemputnya pulang ke rumah lagi, Amara langsung pergi ke kamar mandi lalu memakai alat tes kehamilannya.


.


.


.


Beberapa menit berlalu Amara melihat hasil tesnya dan ternyata hasilnya negatif, Kecewa rasanya semua bayangan bahagia itu sirna Amara hanya bisa menangis setelah melihat hasil tes itu, Dia terus menangis sampai tertidur.


.


.


.


.


.


Sementara Wisnu setelah mengundurkan diri dia mulai mencari pekerjaan lain dan melamar ke berbagai perusahaan, Wisnu tidak mau hanya diam di rumah terus memikirkan masalahnya yang belum selesai dia harus bekerja untuk bisa mengalihkan pikirannya selain itu dia punya tanggung jawab terhadap keluarganya dan juga keluarga Amara.


.


.


.


.


Satu minggu berlalu Rendi menghubungi Wisnu untuk di ajak bertemu dan menyelesaikan semua masalah yang telah terjadi, Walaupun Wisnu sempat menolak akhirnya dia setuju untuk bertemu di taman jam Enam sore, Lalu Rendi juga menghubungi Amara.


"Halo Mara apa kamu sibuk..? " tanya Rendi.


"Iya aku sibuk jadi jangan menghubungi aku lagi... " jawab Amara dengan kesal dan hampir menutup telepon Rendi,Tapi Rendi berteriak.


"Jangan di tutup dulu Mara aku mohon ini tentang Wisnu...!"


"Apa maksud kamu tentang mas Wisnu..?" Amara penasaran.


"Aku dan Wisnu akan bertemu nanti jam enam sore di taman A untuk menyelesaikan masalah yang terjadi apakah kamu bisa datang..? " tanya Rendi


"Kamu tidak bohong bukan..? " Amara ragu.


"Tentu saja aku tidak berbohong aku jujur Mara..! "jelas Rendi


"Baiklah aku akan datang..." jawab Amara.


"Kalau begitu nanti aku jemput kamu ya.. " kata Rendi.


"Jemput..? Memangnya kamu tahu aku berada dimana..? " Amara heran.


"Emmmm tentu.. Tentu saja tidak maksud aku nanti aku akan jemput kamu dan kamu bisa mengirim alamat kamu..." Rendi terbata-bata karena gugup.


"Ohhh begitu tidak perlu aku bisa sendiri... " jawab Amara.


"Tapi.... " Saat Rendi akan bicara Amara sudah menutup teleponnya.


.


.


.


.


.


Selamat membaca 😉