
Lunika tersenyum ramah dengan seorang gadis yang ada dihadapannya.
"Kenalkan, namaku Vellyn. Aku adiknya kak Zicko, tapi bukan adik satu ibu. Lebih jelasnya aku keponakan paman Zayen, ibuku saudara kembarnya paman Zayen. Sedangkan papaku dulunya adalah asisten paman Zayen, dan masih banyak lagi cerita cerita yang lainnya. Kakak, siapa namanya?" ucap Vellyn memperkenalkan diri, kemudian mengulurkan tangannya.
"Namaku Lunika, salam kenal denganmu. Kamu gadis yang cantik, dan juga ramah." Jawab Lunika, lalu ikut mengulurkan tangan dan berjabat tangan sembari senyum pada keduanya.
"Eh! busyet dah! kamu itu sebenarnya memperkenalkan diri atau promosi sih, Well?"
"Dih! apa apaan sih kakak pertama, suka suka aku dong." Jawab Vellyn sambil memasang muka cemberutnya.
"Sayang, hati hati sama nih bocah. Sekali merengek, kamu bakal seperti mendapat hukuman." Ucap Zicko yang tidak mau kalah dengan sepupunya, kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan istri dan Vellyn maupun Ommanya.
"Sudah ah, kalian itu selalu aja berantem. Nak Lunika, ayo kita sarapan pagi. Tadi kata mbak Yuyun, saat kita semua pulang, kamu baru saja keluar rumah. Oh iya, bagaimana hari hari kamu di rumah ini? kesepian, ya ... mulai hari ini, kamu tidak akan lagi kesepian. Omma mau berlama lama tinggal di di tanah air, Omma sangat merindukan masa masa muda." Ucap Omma Zeil sambil berjalan sejajar dengan Vellyn dan Lunika menuju ruang makan.
"Iya Omma, selama satu bulan ini Lunika kesepian. Tidak ada Mama, dan juga Papa. Apalagi Omma, Lunika belum mengenal Omma sama sekali."
"Kak Lun, kok nikahnya dadakan sih. Padahal tuh ya ... Vellyn pingin banget menyaksikan pernikahan kakak pertama dan istrinya, tapi lagi lagi kak Zicko mendadak pingin nikah. Kakak pertamaku itu memang aneh, kalau pingin sesuatu harus di dikabulkan. Pokoknya tuh ya ... udah kek punya lampu Aladin aja deh."
"Kamu bilang apa barusan? hem."
"Ampun kakak pertama, ampun dah! tadi keceplosan, serius dah."
"Sayang, sudah ... Vellyn tidak bersalah. Kamu juga, tiba tiba kamu datang udah kek jin iprit saja."
"Kompak dah! kalian berdua itu cucok abis. Satu bela diri, satu balap liar."
"Sudah sudah ... kalian udah sama besarnya, berantem ... terus. Malu sama umur, ingat Vellyn ... kamu juga Zicko. Kamu sudah beristri, malu dilihat."
"Ih! balap liar, enak aja kalo ngomong! awas loh, nanti malam kak Lunika aku rebut. Wek ...." ucap Velly dan menjulurkan lidahnya setelah kalimat terakhirnya.
"Enak aja, ini istriku. Kamu sama Omma Zeil aja, atau ... sama mbak Yuyun aja. Kamu kan klop banget sama mbak Yuyun, wek ..." balas Zicko yang tidak mau kalah dan menjulurkan lidahnya. Kemudian, ia segera menapaki anak tangga menuju kamarnya.
"Nak Lunika, kamu jangan kaget berada disekeliling keluarga Omma. Apa lagi dengan kegaduhan Zicko dan Vellyn, ini belum seberapa. Ada lagi cucu Omma, tapi dia tidak bisa ikut. Lebih jelasnya, kakaknya Vellyn. Maka dari itu, Zicko yang paling tua dipanggil kakak pertama." Ucap Omma menjelaskan.
"Pasti seru memiliki banyak saudara ya, Omma." Jawab Lunika, sedangkan Vellyn menjadi pendengar setia.
"Ma -- mama, apa kabarnya?" sapa Lunika dengan ramah pada ibu mertuanya, kemudian mencium punggung tangan miliknya.
"Kabar Mama sangat baik, sayang. Kamu sendiri, apa kabarnya kamu sayang?" jawab ibu mertuanya dan balik sapa pada menantunya.
"Kabar Lunika seperti yang Mama lihat, kabar Lunika sangat baik." Jawab Lunika dibarengi senyum manisnya.
"Syukur lah, ibu ikut senang mendengarnya. Ditambah lagi, kalian berdua sangat kompak. Ibu semakin bahagia melihat kalian berdua. Oh iya, ayo kita sarapan pagi. Sudah lama tidak serame ini, sayangnya hanya Vellyn yang ikut pulang."
"Hus! tidak baik berbicara didekat istri kakak kamu, Vellyn." Kata Omma Zeil menimpali kalimat Vellyn.
"Sudah ... ayo kita sarapan," ajak ibunya Zicko. Sedangkan Lunika baru menyadarinya, jika dirinya belum mencuci tangannya.
"Omma, Mama, Vellyn. Lunika mau masuk kamar dulu, Lunika lupa belum cuci tangan." Ucap Lunika yang teringat jika dirinya selesai jalan jalan pagi bersama suaminya.
"Iya, tidak apa apa." Jawab ibu mertuanya, Omma Zeil dan Vellyn mengangguk.
Sesampainya didalam kamar, Lunika tidak mendapati suaminya.
"Bukannya tadi sudah masuk ke kamar? apa iya, suamiku sudah keluar? sepertinya belum deh." Ucapnya lirih sambil mencari keberadaan suaminya sampai berada di ruang kerjanya.
Ketika berada di ruang kerjanya, sepasang matanya tertuju pada sebuah meja kerja suaminya terdapat banyak beberapa lembaran foto. Dengan rasa penasarannya, Lunika mencoba untuk memastikannya.
"Foto? kenapa banyak foto berserakan, sejak kapan? apakah tadi malam suamiku tidur hingga larut malam?" ucapnya lirih sambil memeriksa satu persatu foto kenangan dimasa lalu.
"Sayang, kamu ngapain di ruang kerjaku?" tanya Zicko mengagetkan istrinya.
Seketika, Lunika mendadak kaget dan reflek menjatuhkan beberapa lembar foto ke lantai.
"Kenapa kamu mendadak menjadi ketakutan? hem."
"Tidak, aku hanya kaget saja. Maaf, aku sudah lancang masuk tanpa permisi."
"Sejak kapan kamu mendadak gugup dan takut? aku ini suami kamu, dan kamu istriku. Ooh, foto ini yang membuatmu gugup? kirain."
"Iya, aku kira kamu bakal marahin aku. Aku kesini hanya mau mencarimu, soalnya ketika aku masuk kamar, kamu tidak ada. Jadi, aku mencoba mencarimu di ruang kerja. Tidak tahunya aku menemukan banyak foto diatas meja. Maafkan aku, karena aku benar benar tidak tahu."
"Sebanyak foto ini, tidak ada satupun foto perempuan lain. Maksud aku, tidak ada foto mantan aku. Adapun, mungkin sebagai tersangka."
"Tidak lucu, jangan bergurau." Ucap Lunika sedikit memasang muka masamnya karena cemburu, sedangkan Zicko tertawa kecil melihatnya.
"Ini foto masa lalu keluargaku, sayang. Ini foto yang diambil oleh kepercayaan keluarga papa dan Mama. Setiap langkah diantara kami, selalu ada yang mengawasinya. Ya ... walaupun terkadang absen untuk menjadi pengintai, tetap akan ada sebuah kamera yang mengikuti kita." Ucap Zicko menjelaskan, Lunika yang mendengarnya pun hanya memasang ekspresi tidak mengerti.
"Aku tidak maksud dengan apa yang kamu ucapkan barusan, memangnya ini foto apaan? kenapa bisa berserakan diatas meja." Tanya Lunika penasaran.
"Ini, kakek Dana memintaku untuk mencarikan sebuah video yang dimana dulu kakek Dana liburan dengan kekasihnya. Tapi aku belum menemukannya, yang ada hanya sebuah foto. Aku lupa meletakkannya, karena ruang kerja ini dulunya milik kakek."
"Oooh, kakek Dana? kok kekasih? memangnya kakek Dana ada masalah apa lagi?" tanya Lunika yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Sekarang kita sarapan pagi terlebih dahulu, agar kita tidak kesulitan untuk berpikir." Ajak Zicko yang tidak ingin ditunggu lama oleh yang lainnya di ruang makan. Sedangkan Lunika hanya nurut pasrah dengan apa yang perintahkan suaminya.