
Kekuarga Tuan Kazza dan yang lainnya, kini tengah dalam perjalanan menuju kediaman Tuan Zayen. Tdak memakan waktu lama, Dey yang lebih dulu sampai di rumah Tuan Zayen. s
Sedangkan yang lainnya tengah dalam perjalanan.
"Wah ... nanti bakalan rame nih, asik ... ada Kalla." Ucap Vellyn yang sudah keluar dari mobil.
"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo kita masuk, kita temui Paman dan yang lainnya." Ajak Dey pada adik dan istrinya.
"Tunggu tunggu tunggu tunggu," tiba tiba Vellyn menghentikan langkah kaki sang kakak dan kakak iparnya.
"Ada apa lagi? hah."
"Tidak ada apa apa sih, sepertinya kita datang lebih dulu deh." Kata Vellyn sambil celingukan mencari mobil yang terparkir dihalaman rumah.
"Justru itu kita tinggal menyambut yang lainnya, enak 'kan?"
"Eh iya juga ya, kita tidak susah susah kesana kemari." Kata Vellyn sambil tersenyum mengembang, kemudian ketiganya segera masuk kedalam.
Sampainya didalam ruangan yang sudah siapkan untuk berkumpul bersama keluarga, Dey, Vey, dan Vellyn disambut hangat oleh Tuan Rumah.
"Tante Afna ... Vellyn udah kangen lagi, Tante." Sapa Vellyn dengan langkah kakinya yang gesit dan langsung memeluk Bunda Afna.
"Tante, Vellyn kangen." Ucap Vellyn yang sudah menganggap Bunda Afna adalah ibu kandungnya sendiri. Dengan sikap ramah dan tutur kata yang lembut serta perhatian akan nasehat nasehatnya, Vellyn lebih dekat dengan istri Tuan Zayen ketimbang ibundanya sendiri yakni Bunda Adellyn.
Meski Vellyn tidak jauh beda dengan Bundanya, Vellyn lebih tertarik dengan sosok perempuan seperti Bunda Afna. Seperti halnya Bunda Zeilyn yang juga lebih dekat dengan istri Kakek buyut Angga, yakni sosok Qinan dimasa lampau yang memiliki sikap lembut yang tidak jauh beda dengan Afna yang juga satu keturunan dari keluarga Danuarta.
"Bagaimana rasanya tinggal bersama Kak Dey dan Kak Vey? betah 'kan?" tanya Bunda Afna sambil menatap wajah cantik keponakannya.
"Betah sih Tante, cuman ...."
"Cuman kenapa? hem." Tanya Bunda Afna sambil mencubit pipi Vellyn dengan gemas.
"Masih sepi, tidak ada Mama dan Papa. Tapi ... ada Papa pun sepertinya akan tetap acuh sama Vellyn." Jawab Vellyn dengan lesu.
"Vellyn putriku." Panggil seseorang yang tidak begitu asing dengan suara khasnya. Disaat itu juga, Vellyn menoleh ke sumber suara.
"Papa, Mama ..." panggil Vellyn seperti mimpi. Bagaimana tidak seperti mimpi, tiba tiba kedua orang tuanya sudah berada dihadapannya.
Pelan pelan, Vellyn maupun kedua orang tuanya berjalan maju kedepan untuk saling mendekat.
"Kemarilah Nak, Papa merindukan mu." Pinta sang ayah dengan posisi kedua tangannya yang siap untuk memeluk putrinya.
Vellyn yang memang merindukan seorang ayah, ia langsung memeluknya dengan erat. "Papa, Vellyn sangat merindukan Papa dan juga Mama." Ucap Vellyn dengan tangis kecilnya.
Tuan Viko sendiri memeluknya putrinya dengan erat, kemudian berulang ulang mengusap punggung milik Vellyn. Setelah itu, Tuan Viko melepaskan pelukannya.
"Bagaimana kabar kamu, Nak? maafkan Papa ya, jika Papa sudah salah sangka terhadapmu." Ucap Tuan Viko meminta maaf.
"Kabar Vellyn seperti yang Papa lihat, Vellyn baik baik aja. Maafkan Vellyn yang sudah salah, karena Vellyn waktu itu tidak bisa menyelamatkan calon keponakan Vellyn." Jawab Vellyn dengan menunduk.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Papa yang sudah salah sangka terhadapmu. Papa tidak tahu jika kamu yang sudah berusaha untuk menyelamatkannya. Papa minta maaf, karena kesalahan Papa, kamu harus Papa hukum." Ucap Tuan Viko yang merasa sangat bersalah pada putrinya.
"Kedepannya lebih berhati hati lagi, jangan sampai masalah terulang kembali. Kalau begitu, ayo kita kumpul bersama. Ada Omma Nessa dan Omma Zeillyn, terus ada Kakek Alfan dan juga Kakek Tirta." Timpal Tuan Zayen yang tiba tiba sudah berdiri di antara Tuan Viko dengan putrinya dan adik perempuannya yakni Bunda Zeillyn.
"Iya sayang, Papa sengaja ingin memberikan kejutan untuk kamu." Jawab sang ibu, Vellyn sendiri merasa tidak yakin jika kedatangannya hanya untuk berkumpul bersama keluarga, pikirnya.
'Jangan jangan ... masalah perjodohan itu, oooh! jangan sampai. Bagaimana aku bisa menerima perjodohan itu, jika aku sendiri tidak menyukainya.' Batin Vellyn sambil menyimpan rasa penasaran dengan maksud kedatangan kedua orang tuanya yang tiba tiba sudah datang lebih awal.
"Semoga aja kejutannya bukan Paman Zayen yang merencanakan, bisa perang Dunia ke empat nanti dengan dia."
"Dia siapa, Vellyn?"
Vellyn hanya tersenyum pasta gigi, bingung sendiri untuk menjelaskannya.
"Bukan siapa siapa kok, Ma. Oh iya Ma, Vellyn tinggal dulu ya Ma, Vellyn mau menemui Omma Omma cantik." Jawab Vellyn dan segera pergi dari hadapan orang tuanya.
"Omma Nessa ... Omma Zeil ... Vellyn kangen ..." kata Vellyn dan memeluk satu persatu secara bergantian, setelah itu mencium tangan milik Kakek Tirta dan juga Kakek Alfan.
"Rupanya kamu sudah besar, Nak Vellyn. Sudah pantasnya kamu menikah, Kalla saja sebentar lagi mau menikah." Ucap Kakek Tirta, Vellyn mendadak kaget mendengar ucapan dari Kakek Tirta.
"Seriu, Kek? sebentar lagi Kalla mau menikah? wah! Vellyn kesalip dong, Kek. Memangnya, siapa calon suami Kalla, Kek?" tanya Vellyn semakin penasaran.
"Nanti orangnya juga datang, mungkin sedang dalam perjalanan." Jawab Kakek Tirta dengan yakin.
"Jadi penasaran deh, sama calon suami Kalla." Ucap Vellyn yang kini sudah tidak sabar ingin bertemu dengan saudaranya yang bernama Kalla.
"Makanya, kamu cepetan nyusul. Nih lihat, Kakek kamu sudah tidak sabar ingin menggendong anak kamu." Ledek Kakek Tirta, sedangkan Kakek Alfan langsung menyikut lengan Kakek Tirta.
"Aw! sakit." Kata Kakek Tirta meringis kesakitan saat mendapat senggolan dari Besan nya.
"Udah lah Kek, Vellyn mau menemui Niko jagoannya Vellyn." Kata Vellyn berpamitan.
Sedangkan tidak lama kemudian, datang lah Kakek Ganan beserta keluarga nya. Sambil berjalan, Kakek Ganan sambil menahan sesuatu dengan langkah kakinya yang sudah tidak semasa mudanya.
"Kamu kenapa, Ganan?" tanya Kakek Tirta penasaran.
"Asam urat ku kambuh, puas." Jawab Kakek Ganan sambil menahan rasa sakit pada bagian kedua kakinya.
"Puas banget sih, eh! bukan begitu maksud aku Gan." Sahut Kakek Tirta yang tidak pernah berubah bila sudah bersama saudara laki lakinya.
"Asam urat? kamu kena asam urat? salah urut, kali." Tanya Kakek Alfan sambil memperhatikan kedua kaki milik Kakek Ganan.
"Iya salah urut ke urat, jadinya asam urat nih. Ngomong ngomong, dimana Dana? belum datang?"
"Katanya sih ada keperluan dengan keluarganya, soalnya tadi sudah menghubungi Zayen. Oh iya, dimana anak kembar mu? perasaan dari tadi belum lihat." Sahut Kakek Alfan.
"Ada kok mereka, mungkin masih menyapa Zayen dan yang lainnya." Jawab Kakek Ganan.
"Terus, cucu cucu kamu ikut semua, 'kan?" timpal kakek Tirta.
"Tidak ada yang ikut, semuanya di luar Negri. Mungkin dalam dekat ini semuanya akan pulang." Jawab Kakek Ganan.
Hai readers setia ... maaf ya sebelumnya, untuk Novel tentang Reynan dan novel tentang Jerry update nya agak slow ya... mungkin waktunya tidak bisa teratur sampai tanggal 31, dikarenakan mau menuntaskan novel yang ini terlebih dahulu. Soalnya bulan depan sudah End. Dan setelah itu, otor mau fokus ke dua novel yang berjudul "Zahra Istri Pilihanku" dan novel "**Terjebak Sang Duda"
Mulai hari ini crazy up ya.. semangat semangat**...