
Saat tidak ada lagi yang dibicarakan, seketika pandangan Zicko tertuju pada sebuah bingkai foto berukuran yang cukup besar telah menempel pada dinding.
Zicko membelalakan sepasang matanya tertuju pada sebuah foto pengantin yang terlihat begitu sangat jelas. Kemudian, Zicko menoleh kearah sangat istri yang menatapnya penuh keheranan.
"Tadi aku meminta pak Adi untuk membereskan tempat kerjaku, dan aku juga memintanya untuk mengubah isi dalam ruangan ini. Soal foto pengantin, aku tidak tahu jika sudah menempel pada dinding dan sudah berada di atas meja. Aku pikir belum jadi, rupanya sudah dipajang." Ucap Zicko beralasan.
"Oooh," jawabnya tanpa kalimat.
"Oh iya, nanti malam aku akan mengajakmu makan malam. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, biar aku yang berada di ruangan ini."
"Tapi ... kamu juga perlu untuk istirahat, aku sudah terbiasa tidak tidur siang."
"Tidak ada tapi tapian, ataupun penolakan yang lainnya. Sekarang juga, istirahatlah." Perintah Zicko pada istrinya yang tidak mau menerima penolakan, apapun itu.
Lunika yang mendapati tatapan dari sang suami, ia hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkannya.
"Oh iya, ada yang lupa. Aku boleh meminta izin, tidak?"
"Meminta izin? maksud kamu?"
"Emmm sahabatku mau menikah dalam waktu dekat ini, aku ingin menghadiri acara pernikahan sahabat dekatku." Jawab Lunika sedikit harap harap cemas.
"Siapa sahabatmu?" tanya Zicko.
"Hana, tenamanku sekaligus tetanggaku. Tapi, aku belum tahu pasti soal tempatnya. Kata Romi sih, di sebuah gedung yang tidak jauh dari rumahnya." Jawab Lunika penuh harap.
"Aku tidak melarangmu, silahkan jika kamu mau menghadiri acara pernikahan sahabatmu itu." Ucap Zicko.
"Kamu serius tidak marah? bukankah kamu pernah bilang, aku dilarang pergi sendirian tanpa didampingi kamu. Meski dengan supir sekalipun, kamu tetap tidak mengizinkan aku." Tanya Lunika yang teringat akan ancaman dari sang suami.
"Hem, rupanya kamu masih mengingatnya. Aku tidak bisa mengantarmu, tapi aku yang akan menjemputmu. Aku masih ada pekerjaan yang begitu padat di minggu minggu ini, karena besok siang Mama dan Papa mau berangkat ke Amerika. Mau tidak mau, semua tanggung jawab ada padaku." Jawab Zicko menjelaskan.
"Boleh minta izin satu lagi, tidak?" tanya Lunika sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Mau minta izin lagi? minta izin apaan lagi, hah?"
"Aku ingin menginap di rumah ibu, bagaimana?"
"Terserah kamu, hanya satu malam." Jawab Zicko datar.
"Serius? kamu tidak lagi sedang kasihan denganku, 'kan?"
"Hem, kamu mau terus berdialog atau mau istirahat?"
"Mau istirahat, terima kasih banyak ..." jawab Lunika tersenyum lebar padanya. Kemudian, Lunika segera keluar dari ruang kerja suaminya. Zicko yang melihat senyum manis dari sang istri hanya menggelengkan kepalanya penuh heran.
"Ternyata ... perempuan ini cantik juga, tidak kalah cantiknya dengan Seril. Hanya saja, Seril yang sudah dari kecil hidup enak. Wajar saja jika bodynya terawat, ditambah lagi menjadi seorang model. Aaah! kenapa aku mesti bandingin mereka berdua." Ucapnya lirih, kemudian meletakkan kembali sebuah foto ke tempat semula.
Karena bingung harus tidur dimana, Zicko memilih untuk beristirahat diruang kerjanya. Tepatnya tidur disofa yang ada di ruang kerjanya. Mau tidak mau, Zicko melakukannya demi sang istri bisa istirahat dengan cukup dan tidak merasa canggung dengannya.
Meski sofanya berukuran pas pasan, Zicko tetap bisa tidur dengan pulas. Sedangkan Lunika sendiri telah terlelap dari tidurnya, meski awalnya sedikit takut untuk memejamkan kedua matanya. Namun, demi fisiknya agar kesehatannya tidak terganggu, Lunika memilih untuk beristirahat.
Zicko yang mulai terasa tidak nyaman tidur di sofa, ia memilih kembali masuk ke kamarnya. Dengan sangat hati hati agar tidak menimbulkan suara, dengan pelan Zicko melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah hingga sampai didekat tempat tidur. Namun, ia baru sadar jika AC nya belum ia nyalakan. Alih alih Zicko menyalakan AC nya agar terasa dingin dan tidak berkeringat ketika tidur diwaktu jam siang.
'Mau tidur saja harus seperti ma*ling, sunggu menyiksaku. Aku yang tuan rumahnya, namun serasa jadi peny*usup dirumahku sendiri.' Batin Zicko dengan pelan pelan membaringkan badannya diatas tempat tidur agar tidak mengagetkan sang istri.
Zicko masih menarik nafasnya pelan, dan membuangnya pun dengan pelan juga. Berharap sang sang istri tidak langsung bangun tatkala dirinya baru saja membaringkan tubuhnya.
Karena masih terasa mengantuk, Zicko mulai memejamkan kedua matanya. Kemudian, tanpa disadarinya sudah terlelap dari tidurnya.
Lama lama Zicko terasa kedinginan, tanpa menyadari jika dirinya telah mengganti posisi tidurnya menghadap pada sang istri. Sedangkan Lunika sendiri masih pada posisinya yang miring.
Karena tidak dapat menahan rasa dingin, Zicko menarik selimutnya untuk menyelimuti bagian anggota tubuhnya. Entah ada angin apa, tiba tiba Zicko mendekati sang istri yang terlihat seperti guling. Setelah itu, Zicko memeluknya dengan erat bagaikan guling dalam pandangannya. Bahkan Lunika tidak sendiri menyadarinya, jika rasa hangat itu berasal dari tubuh sang suami. Hingga keduanya semakin pulas dalam tidurnya berbalut dalam selimut.
Lunika yang serasa sesak untuk bernafas, dengan pelan ia membuka kedua matanya. Pelan pelan ia menormalkan pandangannya, lalu mengatur pernapasannya yang dirasa lumayan sesak.
Dengan fokus, Lunika mencoba menangkap suara hembusan nafas yang ada didekatnya. Lunika masih belum juga menyadari jika dirinya berada dalam pelukan suaminya sendiri.
Pelan pelan Lunika memeriksa bagian perutnya yang terasa ada yang memegangnya.
DEG!!!
Lunika mendadak menarik nafasnya panjang dan berhenti begitu saja, kemudian membuangnya kasar. Lalu membenarkan posisinya dan menoleh kearah sebelah.
"Tidak!!!!"
Teriak Lunika yang mendadak kaget, Zicko pun bangkit dari posisi tidurnya. Lunika mendadak panik dan langsung menutupi anggota tubuhnya sampai kebagian dadanya.
"Jangan! sentuh! aku!" dengan bentakan, Lunika menatap tajam pada suaminya. Kemudian ia bersandar dengan perasaan takut, dan membenarkan posisinya dengan menyilangkan kedua kakinya. Sedangkan kedua tangannya mencoba menutupi bagian anggota tubuhnya, tepatnya pada bagian dadanya.
"Maaf, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tadi merasa tidak nyaman tidur di ruang kerja, dan aku memilih untuk tidur dikamar sambil menyalakan AC agar tidak gerah. Kamu jangan salah paham dulu, aku tidak mungkin tidur di ruang tamu." Ucap Zicko mencoba untuk menjelaskannya, sedangkan Lunika memilih untuk diam.
Lunika sendiri tidak dapat memungkirinya, jika dirinya telah bersuami dengan statusnya yang sah. Meski bagi kedua belah pihak mengatakan sebuah sandiwara, tetap saja sudah sah di mata hukum maupun agama.
"Tenang, kamu masih utuh. Aku tidak segila yang kamu bayangkan. Hanya saja, emmm ... tidak jadi. Tidak penting jugaan, sudah cepetan sana bangun terus mandi. Aku mau mengajakmu keluar, jangan protes." Ucap Zicko, kemudian ia bangkit dari posisinya dan meraih sebuah laptop untuk menyibukkan diri sambil menunggu sang istri selesai mandi.
Lunika sendiri hanya bisa menahan rasa kesalnya sambil menunjukkan muka masamnya pada sang suami dan berjalan menuju kamar mandi.