
Pagi yang cerah, namun tidak secerah harapan Dey yang masih menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.
"Malas sekali berangkat ke Kantor dengan kondisiku yang seperti ini." Gumam Dey sambil meregangkan otot ototnya yang terasa kaku dan sedikit masih ada rasa sakit pada bagian pinggangnya.
"Dey, sudah jam berapa ini? ayo cepetan turun. Kata Papa semalam kamu pulang begitu larut, kemana aja kamu dan Vellyn semalam? hah. Kata Papa pinggang kamu sakit, coba Mama mau lihat."
"Ih, apa apaan sih Papa. Pakai ngadu segala sama Mama, Dey tidak kenapa kenapa. Cuman sedikit sakit aja, nanti juga sembuh sendiri." Ujar Dey sambil mengenakan dasinya.
"Kalau masih sakit bilang aja, nanti Mama carikan tukang pijat. Nanti kalau kenapa kenapa dengan pinggang kamu bagaimana? jangan protes, nanti Mama mau minta tolong sama pelayan rumah untuk memanggil tukang pijat." Terserah Mama aja, yang terpenting pijatannya tidak menyiksa Dey.
"Sini Mama bantu memakai dasinya, pakai dasi aja kelamaan. Makanya, buruan menikah. Lihat tuh si Zicko. Sebentar lagi paman dan tante kamu akan menjadi seorang kakek, kamu kapan menikahnya? atau .. Mama carikan jodoh untuk kamu, bagaimana?"
"Ih! Mama ini, Dey bukan anak kecil lagi. Nanti kalau Dey sudah waktunya menikah juga bakalan menikah, Mama jangan cemas."
"Mama tidak percaya dengan kamu dalam waktu singkat ini menemukan perempuan yang akan kamu nikahi, habisnya kamu itu terlalu dingin dan fokus dengan karirmu." Sindir sang ibu sambil menunjukkan muka masamnya.
"Ma, menikah itu bukan hal yang gampang. Dey harus menyiapkannya sematang mungkin, karena pernikahan bukanlah permainan. Yang kapan saja bisa dibeli dan dibuang ketika kita tidak lagi merasa cocok. Lebih baik Mama bersabar, nanti Dey juga bakalan menikah. Tapi, bukan sekarang ini waktunya. Entah kapan, Dey pasti akan menikah." Jawab Dey sambil mengenakan jam tangannya.
"Terus, sampai kapan Mama harus menunggu? sampai kamu lupa dengan usia kamu sendiri? hah." Tanya sang ibu sedikit mendesak putranya.
"Mama mau carikan jodoh untuk Dey? terlalu cepat jika melakukan perjodohan, seperti tidak ada harga diri saja anak Mama ini." Jawab Dey sambil mencari pembelaan.
"Hem, harga diri yang kamu bilang. Terserah kamu aja, Mama tidak akan memaksamu. Jika memang harus dilakukan perjodohan, mau bagaimana lagi. Tenang ... Mama sudah menyiapkan banyak pilihan untuk kamu." Ucap sang ibu diakhiri dengan kalimat ledekan, Dey hanya mengernyitkan dahinya.
"Ya sudah, cepetan turun. Semua sudah menunggunya di ruang makan."
"Iya Ma, ya." Sahut Dey sambil meraih jas kerjanya.
Sedangkan di ruang tamu sudah dipenuhi anggota keluarganya, semua tengah mengobrol dengan satu sama lainnya.
Dengan jalannya yang sudah seperti encok, Dey berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya itu. Namun tetap saja tidak dapat disembunyikan, semua mata tertuju pada Dey.
"Dey, kenapa dengan pinggang kamu itu? encok pegel linu, asam urat?" tanya Zicko setengah meledek.
"Hem, bukan itu Kak Zicko. Tetapi ... Kak Dey habis ditabrak oleh bidadari yang sangat cantik." Ledek Vellyn yang juga ikut mengimpori sang kakak. Dey hanya menatap tajam pada Vellyn, sedangkan Vellyn sendiri hanya menahan tawanya tatkala melihat sang kakak yang terlihat lucu dengan ekspresi marahnya.
"Sudah sudah, jangan meledek. Kasihan Dey, dia sakit beneran. Seharusnya kalian berdua itu carikan tukang pijat untuknya, hem." Sahut Mama Afna sambil mengambilkan sarapan pagi untuk suaminya.
Disaat itu juga, tiba tiba pandangan Dey tertuju pada Lunika yang sedang mengambilkan sarapan pagi untuk Zicko suaminya. Secepat mungkin, Dey menepis pikirannya itu.
Zicko yang melihatnya pun, segera menunjukkan kemesraannya. Entah apa tujuannya, Zicko mencoba memanasi sepupunya sendiri.
'Cih! pakai menyalakan kompor segala.' Batin Dey, kemudian segera ia mengambil sarapannya dan menikmatinya.
Lunika yang mendapat perlakuan dari suaminya merasa malu karena sedekit berlebihan, ingin menolak tapi takut sang suami akan merasa tersinggung.
"Kenapa semuanya menatapku seperti itu?" tanya Dey sambil mengunyah suapan terakhirnya.
"Karena semuanya menunggu kamu untuk segera menikah, Dey ..." sahut sang ibu ikut menimpali.
"Hem, lagi lagi soal menikah. Sudah lah, Dey mau berangkat. Dan kamu Vellyn, kamu berangkat sama Papa." Ucap Dey, kemudian segera bangkit dari posisi duduknya
"Aku tidak mau berangkat dengan Papa, titik. Aku juga ingin tebar pesona bersama Kak Dey, yang tampannya udah kek bule bule gitu."
"Dih, tebar pesona. Bagaimana Kakak kamu ini mau laku, jika kamu aja masih selalu ada didekat Kakak." Ucapnya beralasan.
"Yang dikatakan Kakak kamu itu memang ada benarnya, mendingan status kakak beradik itu disumputkan aja." Ucap Zicko ikut menimpali.
"Ah iya, benar juga kata Kakak pertama. Aku sampai lupa jika aku ingin mengikuti jejak Mama Dellyn, jika gagal ya sudahlah." Jawab Vellyn dengan senyum mengembang.
"Kamu pasti bisa, kamu kan jagonya akting dan drama." Sahut Dey sambil mengelap area bibirnya dengan tissu.
Setelah cukup lama mengobrol di ruang makan, Tuan Zayen dan juga Tuan Zicko serta anak anaknya segera berangkat kerja ke Kantornya masing masing.
Sedangkan di tempat lain, yaitu tepatnya di Kantor milik kekuarga dari Tuan Besar Zio. Kini akan segera diduduki dan dikelola oleh Dey putra dari Tuan Viko sendiri.
Semua karyawan tengah disibukan untuk menyambut kedatangan Bos barunya, semua antusias dan penasaran dengan sosok pemuda yang pernah digosipkan akan ketampanannya dan juga kesuksesannya.
"Ayo! cepat beres beresnya, sebentar lagi Bos baru kita akan segera datang." Perintah dari orang kepercayaan keluarga Tuan Zayen.
Semua tidak ada yang tidak tunduk dengan perintah dari orang kepercayaan pemilik Perusahaan ternama.
"Vey, sekarang bukan waktunya untuk bersantai. Sebentar lagi pimpinan perusahaan akan segera datang, ayo selesaikan dulu pekerjaan kita. Lu mau kita dipecat, tidak 'kan?"
"Perutku sakit, tau. Kamu cari temen kek, atau apalah untuk menggantikan posisiku. Aku males pakai acara sambut menyambut pimpinan, capek akunya."
"Duh! sekarang yang mimpin bukan lagi Tuan Zicko, tetapi sepupunya. Dan kamu akan dijadikan sekretaris sepupunya oleh Tuan Zicko, ayolah kita sambut kedatangan Bos Baru. Seharusnya kamu senang naik jabatan kamu, Vey."
"Bodoh amat dah, aku lagi males. Sudah sana pergi, aku mau ke toilet." Jawabnya dengan enteng dan meninggalkan temannya begitu saja.
"Heran deh sama kamu, Vey. Padahal kamu itu ngebet banget ingin jadi sekretaris, sekarang mau menolaknya. Apa aku tidak salah dengar? semoga pendengaranku ini salah." Gumamnya sambil berkacak pinggang.
"Bagus lah kalau Vey menolak untuk menjadi sekretaris Bos Baru, berarti ini kesempatanku untuk mendapatkan peluang emas. Vey menyerah untuk menjadi sekretaris, berarti aku bisa mendaftarkan diri jadi sekretarisnya." Ucapnya dengan percaya diri.
"Kepedean akut kamu, Sel." Sahutnya dengan tatapan tidak suka.
"Suka suka aku dong, wek ...." jawabnya dengan percaya diri dan menjulurkan lidahnya.