Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Permintaan


Sesampainya di depan rumah, Lunika dan suami segera turun dari motor. Kemudian Lunika membuka pintu dengan lebarnya, lalu meminta suaminya untuk memasukkan motor kedalam rumah.


Setelah berada didalam rumah, Zicko langsung melepas sepatunya serta jaket yang dikenakannya. Sedangkan Lunika tengah mengambil sendok, piring, dan air minum.


"Ibu sudah tidur?" tanya Zicko sambil membuka bungkusan nasi gorengnya.


"Iya, ibu sedang tidur. Kenapa? minta ditemani sama ibu?" jawab Lunika dan balik bertanya.


"Hem, aku maunya ditemani sama kamu." Jawab Zicko sambil menyendoki nasi gorengnya, lalu menyuapi istrinya terlebih dahulu.


"Ayo buka, mulutnya." Ucap Zicko sambil mengedipkan satu matanya menggoda. Sedangkan dengan rasa malu malu, Lunika menerima suapan dari suaminya.


Setelah itu, Lunika menyuapi suaminya seperti yang dilakukan oleh sang suami. Keduanya saling menatap satu sama lain, terlihat jelas senyum bahagia pada kedua sudut bibir masing masing.


Setelah nasi gorengnya tidak lagi tersisa, Lunika segera membereskannya ditemani sang suami. Setelah itu Zicko dan Lunika bergantian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka serta buang air kecil dan terakhir menggosok gigi.


Karena Lunika yang lebih dulu ke kamar mandi, dan pastinya Lunika yang pertama untuk masuk ke kamarnya. Sesampainya didalam kamar, Lunika melihat sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Apa ini? sepertinya baju." Ucapnya lirih dan mendekati bibir ranjang.


Dengan hati hati, Lunika mencoba memeriksanya. Karena penasaran, Lunika langsung memastikan dengan sesuatu yang ada dibibir ranjangnya.


"Apa! lingeria?" spontan kaget, Lunika mendadak panik dibuatnya. Tanpa disadari, jika suaminya sudah berada dibelakangnya.


Dengan senyum mengembang, Zicko memiliki istrinya dari belakang dengan cara melingkarkan kedua tangannya tepat pada pinggang milik istrinya.


Seketika, Lunika mendadak kaget. Tubuhnya mendadak lemah serta detak jantungnya seakan mengajaknya untuk maraton, nafasnya pun tidak lagi tenang. Pikirannya juga ikut melancong kemana mana, Lunika benar benar terasa panik dibuatnya.


Tanpa pikir panjang, Zicko memeluknya begitu mesra. Kemudian ia mencoba menempelkan bi*birnya didekat telinga milik istrinya, seakan mau membisikkan sebuah kalimat.


"Tidak perlu kamu mengganti penampilanmu itu, kamu tetap terlihat cantik dimataku." Bisik Zicko didekat telinga istrinya, Lunika hanya bergidik bulu romanya tatkala sikap suaminya yang semKin menjadi jadi.


Zicko akhirnya melepaskan pelukannya, kemudian ia memutarkan posisi sang istri untuk menghadapnya. Sebuah lingeria yang ada pada istrinya langsung dibuang ke sembarang arah, Zicko kembali menatap lekat ayunya wajah sang istri.


Pelan pelan, Zicko mendaratkan sebuah ciu*man mesra pada istrinya. Sedikitpun, Lunika tidak melakukan penolakan apapun. Dengan perasaannya yang menggebu, Zicko dan Lunika semakin terhanyut dengan suasana didalam kamarnya.


Dengan pelan, Zicko menuntunnya sampai didekat tempat tidur. Kemudian menjatuhkan tubuhnya bersama sang istri diatas tempat tidur dengan sangat hati nati, agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.


Semakin beraksi, membuat Zicko semakin bringas dibuatnya. Namun, tiba tiba Lunika teringat akan sesuatu pada dirinya sendiri.


Zicko yang sudah mulai bersemangat, ia mencoba menanggalkan pakaian istrinya.


"Aku lupa," ucap Lunika secara tiba tiba. Hingga membuat aktivitas Zicko mendadak terhenti begitu saja, lalu menatap istrinya dan mengernyitkan dahinya. Seakan akan tatapan dari sang suami memberikan sabuah pertanyaan pada dirinya.


Zicko yang mendengar ucapan dari sang istri, dirinya hanya menelan ludahnya kasar. Kemudian, meraih sebuah selimut yang ada di dekatnya dan menutup tubuhnya bagian atas.


"Nih, kenakan lagi bajumu. Aku mau mandi, gerah." Ucap Zicko tidak bersemangat, kemudian segera keluar dari kamarnya untuk membersihkan diri.


Zicko tidak perduli dengan ibu mertuanya ketika mengetahui dirinya yang tengah mandi dimalam hari, yang terpenting sesuatu yang mengganjal dapat ia hempaskan dengan perasaan lega.


'Sialan, kenapa juga tadi begitu antusias. Tidak tahunya, ngenes.' Batinnya sambil berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan Lunika sendiri merasa sangat bersalah, dirinya benar benar menyesalinya ketika dirinya tidak berterus terang dengan kondisinya itu.


'Bo*doh sekali aku ini, kenapa aku tidak jujur dari awal. Jadi begini deh, jadinya. Pasti suamiku sangat kecewa, duh ... semoga saja tidak marah.' Batin Lunika sedikit cemas.


Setelah mengenakan pakaiannya, Lunika mengambil kembali lingeria yang sudah dilempar oleh suaminya. Kemudian, ia memasukkannya kedalam lemari baju.


Sambil duduk dengan meluruskan kedua kalinya dan bersandar dengan posisinya diatas tempat tidur, Lunika mencoba menajamkan kedua matanya. Berharap, ia tidak akan lagi bermimpi buruk.


Zicko yang sudah membersihkan diri, rasa pada tubunya pun tidak lagi gerah. Melainkan terasa segar dan enakan dirasa dibadannya.


Saat masuk kedalam kamar, dilihatnya sang istri yang tengah memejamkan kedua matanya tetap terlihat cantik dan menggoda. Sebisa mungkin, Zicko menepis pikiran kotornya. Ia tidak ingin sial yang kedua kalinya, pikir Zicko.


Dengan pelan, Zicko mendekati istrinya dan meng*ecup keningnya dengan lembut. Seketika, Lunika mendadak kaget dibuatnya.


"Kamu ... kamu sudah selesai mandinya?" tanya Lunika dengan kondisi setengah sadar dan mengantuk, Zicko mengangguk dan tersenyum mendengarnya.


"Iya, aku sudah selesai mandi. Kamu mandi juga? hem." Jawab Zicko dan ikut duduk disebelah kanan istrinya dengan posisi yang sama sama muluskan kedua kakinya, lalu dengan manja Zicko berbaring diatas pangkuan istrinya.


Lunika mendadak panik dan masih sedikit canggung, Zicko hanya tersenyum melihat ekspresi sang istri yang terlihat jelas malu malunya.


Setelah berada dipangkuan istrinya, Zicko mengganti posisinya dengan erat memeluk sang istri. Kemudian, Zicko mendongakkan pandangan kearah istrinya.


Zicko segera mengganti posisinya kembali hingga keduanya duduk bersebelahan, lalu Zicko memeluk istrinya dan mengusap lembut lengan sang istri. Tidak hanya itu, lagi lagi Zicko mencium pucuk kepala milik istrinya dengan mesra.


"Tetaplah bersamaku, walau aku sendiri banyak masalah. Tapi percayalah, aku akan salalu menjagamu dari masalahku yang kapan saja bisaa datang kapan saja. Kamu tahu? aku hanya punya kamu setelah kedua orang tuaku, kamulah yang akan menjadi bagian dari separuh hidupku." Ucap Zicko yang masih dengan posisinya memeluk erat sang istri begitu mesra.


Sedangkan Lunika hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil mengatur sebuah kalimat yang pantas untuk suaminya.


"Terima kasih, kamu sudah mempercayakan aku untuk menjadi pelengkap hidupmu. Maafkan ataa segala kekuranganku, aku janji untuk tetap setia bersamamu." Jawab Lunika yang juga ikut memeluk erat suaminya.


Setelah banyak mengobrol, rasa kantuk pun tengah menghampiri Zicko dan juga Lunika. Karena tidak ada pilihan lain, keduanya sepakat untuk segera beristirahat dengan tenang tanpa banyak beban yang dipikirkannya.


"Sudah larut malam, tidak baik untuk bergadang. Ayo, kita tidur." Ajak Zicko, dan keduanya akhirnya memilih untuk beristirahat dan tidur dengan pulas.