Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Pilihan yang sulit


Sang kakak masih menatap adik perempuannya dengan seksama. "Sudah ngomongnya? kalau sudah, diam." Ucapnya dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kak, kenapa sih Kakak tidak buruan menikah. Oh iya, kata Kak Denra mau memperkenalkan perempuan yang kakak sukai. Kenapa sampai sekarang tidak ada kabarnya? apakah Kakak sudah putus? ayolah kita berbagi cerita." Tanya Vey sambil menatap lurus kedepan, sang kakak pun menoleh kearah sang adik.


"Tidak ada yang perlu diceritakan, semua sudah berakhir. Doakan saja Kakak kamu ini segera mendapatkan penggantinya, setidaknya tidak bawel sepertimu." Jawabnya, kemudian pandangannya kembali lurus kedepan.


"Pasti sangat sakit ya, Kak. Jika orang yang kita cintai rupanya tidak berpihak dengan kita, lantas apa kabarnya dengan yang dijodohkan? mungkin saja bisa depresi akut."


"Tidak juga, justru akan mendapatkan sesuatu yang lebih tanpa kita duga."


"Cie ... kaya udah pernah dijodohkan aja, hem."


"Makanya, kamu mencobanya. Jika kenyataannya lebih baik, Kakak akan mengikuti jejak kamu."


"Wah, kalau begitu Vey akan bilang sama kakek jika Kak Denra minta dijodohkan. Bagaimana kalau dengan Vellyn, teman baru Vey. Anaknya cantik dan kelihatannya juga baik, keponakan Paman Zayen."


"Dan kamu, dengan Kakaknya. Si siapa namanya, Kakak lupa. Dedede .. emm ..."


"Deyzan! Bos angkuh, kaku, belagu, reseh, kejam, pokoknya nyebelin." Sahut Vey langsung menyambar perkataan dari sang kakak.


"Wah, rupanya kamu sudah mengenalnya. Sampai sampai banyak capnya nih, cie .. ati ati nanti kamu jatuh cinta dengannya loh." Ledek sang kakak.


"Dih! amit amit banget Kak, jangan sampai jatuh cinta dengan orang nyebelin kek dia deh. Dijodohkan aja ogah, yang ada perang terus."


"Segitunya ekspresi kamu membicarakan si Dey, tapi beneran loh kamu itu cocok banget dengannya." Ledeknya semakin bersemangat untuk membuat sang adik kesal.


"Kak Dey! sudah dong, jangan ledek Vey terus. Mendingan ngomongin tentang Kak Denra, orangnya cantik dan cocok banget buat Kakak." Ucap Vey yang tidak mau kalah dari sang kakak.


"Mimpimu terlalu pendek, hingga seenaknya aja kamu memberi petunjuk perempuan yang tidak masuk dalam kriteria Kakak kamu ini."


"Terus ... type perempuan yang Kakak suka itu seperti apa? yang bahenol ya, atau ... yang langsing dan ..."


"Yang jelas tidak sepertimu yang super bawel, ngerti."


"Hem, segitunya menilaiku. Padahal adik kamu ini tidak bawel, justru sangat humoris." Sahutnya dengan rasa percaya dirinya.


"Kita sudah sampai di depan rumah, ayo kita turun." Ajak sang kakak, kemudian segera keluar dari mobilnya. Vey hanya bisa nurut dan juga pasrah, meski sedikit malas untuk masuk kedalam rumahnya.


Sesampainya didalam rumah, tepatnya di ruangan keluarga. Vey mendapati keberadaan sang kakak yang tengah duduk santai ditanya dengan secangkir kopi panas.


"Vey, kemarilah duduk didekat Kakek. Ada sesuatu yang ingin Kakek sampaikan ke kamu." Panggil sang Kakek, Vey pun nurut dan duduk disebelah sang kakek.


Begitu juga dengan sang kakak, Denra pun ikut duduk dihadapan kakeknya.


"Ada apaan sih Kek? kok Vey harus dijemput segala. Vey kan bisa pulang sendiri, lagian tidak jauh juga dengan Kantor." Tanya Vey sambil melepaskan tas miliknya dan meletakkannya dipinggiran tempat duduk.


"Tidak ada apa apa Vey, Kakek hanya ingin mengajakmu jalan jalan sebelum Kakak kamu berangkat."


"Lebih baik kamu segera ganti baju dulu, bila perlu sekalian mandi." Perintah sang kakak, Vey hanya menatapnya bingung.


"Sebenarnya ada apaan sih, kek? Vey bingung menanggapi Kakek dan juga Kak Denra." Tanya Vey yang semakin penasaran.


'Pasti soal memilih menikah atau menetap di Amerika, bagaimana ini? menikah pun, menikah dengan siapa?' batin Vey bertanya tanya.


Karena tidak ingin terbawa mimpi buruk, Vey memberanikan diri untuk bertanya. Berharap pertanyaannya akan dijawab dengan baik dan juga tidak diembeli dengan pemaksaan, pikir Vey penuh harap.


"Kek apa benar, soal memilih menikah dan menetap itu masih berlaku?" tanya Vey dengan berani. Walaupun pada kenyataannya Vey sendiri sangat ketakutan jika ucapannya tidak direspon sama sekali.


"Benar, Vey. Malam ini juga, kamu akan dipertemukan dengan lelaki yang akan menjadi suami kamu." Jawab sang kakek dengan santai, Vey sendiri terkejut mendengarkannya.


"Tidak perlu setegang itu juga, kali. Sudah sana cepetan kamu ganti bajunya, Kakak dan Kakek mau mengajakmu jalan jalan. Sekalian, kita akan pergi ke rumah kakek Ganan." Ucap sang Kakak meminta sang adik untuk segera bersiap siap, Vey hanya mengerucutkan bibirnya dan memilih untuk masuk ke kamarnya.


Kini di ruangan tamu hanya tinggal sang kakek dan kakaknya Vey.


"Denra, sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini. Apa kamu tidak ingin segera menikah? usiamu tidak lagi muda." Tanya sang kakek memulai pembicaraan.


"Tidak Kek, Hati ini sudah mengatakannya sendiri dan juga berjanji. Bahwa sampai kapanpun, rasa ini tidak akan pernah berubah. Meski luka yang akan terus dirasakan, apapun itu." Jawabnya dengan yakin.


"Kamu serius? apa untungnya? yang ada kamu akan kecewa atas perbuatan kamu sendiri yang telah membutakan mata hati kamu, jauhi egomu itu. Jangan sampai kamu menyesal yang tidak berujung, kasihan jiwamu." Ucap sang kakek yang terus menasehati serta mengingatkannya.


"Sudah lah Kek, sekarang yang terpenting kebahagiaan untuk Vey." Jawabnya mengalihkan topik.


Dengan pelan, sang kakek menarik nafas panjangnya. Kemudian membuangnya kasar, meski sedikit ada keraguan.


"Terserah kamu saja, sekarang kamu bukan


lah anak kecil lagi. Kamu sudah benar benar dewasa, dan pastinya kamu dapat memilah serta memilih untuk kebaikan diri kamu sendiri." Ucap sang Kakek pasrah.


Sedangkan di tempat lain, Zicko telah sampai mengadakan rapat kecil mengenai keberadaan Dey di Kantor yang pernah di pimpin oleh Zicko.


Disaat itu juga, tiba tiba ponsel milik Zicko terdengar ada yang menghubunginya. Dengan cepat, Zicko merogoh saku celan. Kemudian setelah benda pipi tersebut ada ditangannya, segera ia menerima panggilan telfon.


"Halo sayang, ada apa?" tanya Zicko.


"Baiklah, aku akan segera pulang. Katakan pada Ibu dan Mama untuk menungguku pulang, sekarang pun aku sedang bersiap siap." Ucap Zicko, tidak memakan waktu lama, panggilan masuk pun telah terputus."


"Siapa Zick, istri kamu?" tanya sang paman.


"Iya Paman, sepertinya Zicko harus segera pulang deh. Pa, Paman, Dey, kalau begitu Zicko izin untuk pulang lebih dahulu." Jawab Zicko, kemudian segera pulang dengan terburu buru.


Setelah bayangan Zicko tidak lagi terlihat, kiki tinggal lah Tuan Zayen dan Tuan Viko serta putranya.


"Vik, jangan lupa pesan dariku yang tadi." Ucap Tuan Zayen mengingatkan, takut adik iparnya akan lupa dengan pesan darinya.