Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Kepergok


Vey yang tidak bisa menghindar dari Bosnya, dirinya hanya pasrah dan kembali duduk disebelah Dey dengan perasaan bercampur aduk. Ada kesal, ada geram, dan juga perasaan yang lainnya.


Ditambah lagi, semua karyawan tengah memperhatikannya. Tidak hanya itu saja, ada juga yang berbisik membicarakan tentangnya. Ada yang berkomentar positif, ada juga yang berkomentar negatif. Begitu berbagai macam karakter para netizen, yang manis saja bisa jadi pedas.


Selwy yang merasa tersisih secara terang terangan, rasanya pun sangat dongkol. Ingin marah, namun ia sadar akan posisinya yang juga hanya karyawan biasa. Selwy hanya menang dari segi penampilan, namun tidak untuk wajah cantik nan ayu.


Sedangkan Vey sangat berbanding terbalik dengan Selwy, Vey sendiri yang lebih menyukai penampilan yang biasa biasa saja. Asalkan masih pantas untuk ia pakai, Vey tidak mempermasalahkan atas penampilannya. Selain karena kesederhanaannya, Vey juga mempunyai sifat tomboy yang membuatnya merasa nyaman dengan apa yang dikenakannya. Sekalipun itu pakaian sesederhana sekalipun.


Vey bukanlah perempuan yang mudah untuk di tindas, dan juga tidak mudah untuk diperlakukan buruk. Tanpa pandang bulu, siapapun yang ingin berhadapan dengannya harus siap mental dan juga siap segalanya. Bahkan Selwy sendiri tidak dapat menaklukkan Vey, karena ia sadar seperti apa Vey itu.


Dengan perasaan kesal, Selwy akhirnya memilih pergi entah kemana. Yang jelas Selwy begitu kesal melihat pemandangan yang benar benar membuatnya sakit hati.


Sedangkan Yeni tersenyum mengembang saat dirinya harus pindah tempat dan menjauh dari tempat duduk sahabatnya bersama Bosnya sendiri.


Kini tinggal Vey dan Dey yang masih dengan posisinya duduk bersebelahan. Vey tetap cuek, dengan santainya ia menikmati supnya tanpa rasa canggung sedikitpun. Bahkan Vey tetap bersikap biasa biasa saja dan fokus pada sebuah mangkok berisi sup iga.


Dey yang merasa dicuekin oleh sekretsrisnya, cepat cepat ia merampas mangkok yang ada dihadapan Vey. Seketika Vey menoleh kearah Dey, ditatapnya lekat lekat wajah Dey. Kemudian menajamkan pandangannya tepat pada kedua mata Dey hingga keduanya saling bertemu.


"Sini, aku suapin kamu. Aku akan menebus luka kamu itu yang ada dilenganmu, setelah itu aku akan mengobatinya. Jangan protes, apa perlu aku cium lagi itu bibir kamu agar semakin membengkak."


Vey yang mendengarnya pun ingin rasanya kembali menamparnya, namun ia mencobanya untuk menahan. Meski sudah terasa geram, Vey tetap berusaha untuk tenang. Hanya saja, tatapannya kini semakin tajam.


"Sudah cepetan buka mulut kamu, apa perlu aku suapin kamu dengan ci .." ucapnya sengaja memancing emosi Vey yang kelihatan sangat lucu dan juga membuatnya gemas.


"Aku bisa makan sendiri, dan aku tidak sedang dalam mode sakit. Kedua tanganku masih bisa untuk melakukan pekerjaan, jadi jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Apakah Om mengerti? mau mengancam dengan ciuman? silahkan! aku tidak takut." Ucap Vey dengan berani, bahkan terang terangan Vey telah menantangnya.


Seketika, sorot matanya pun semakin tajam pada Vey. Nafasnya ikut memburu dengan perasaan kesal, emosi dan juga geram tentunya. Tanpa rasa malu, rasa canggung, rasa takut, akhirnya Dey kembali melakukan aksinya.


Tangan sebelah kirinya memegangi tengkuk lehernya, tubuhnya mengapitkan tubuh Vey sangat erat. Sedangkan tangan kanannya ikut menahan lengan milik Vey begitu kuat. Bahkan Vey sendiri tidak mampu memberontak, dan hanya bisa pasrah saat mendapatkan perlakuan dari Dey. Dengan bringas, Dey langsung mencium bibir Vey tanpa ampun. Vey bukannya memberontak, justru ia tercengang saat ciuman yang bringas mendarat pada bibirnya.


Seketika, semua karyawan dibuatnya terkejut saat Bosnya dengan terang terangan mencium Vey tanpa ada rasa malu sedikitpun. Semua tidak ada yang menyangkanya, jika Bosnya berani berbuat senekat itu.


BRAK!!


Sebuah gebrakan dimeja kantin tengah mengagetkan Vey dan juga Dey. Seketika, Vey membelalakan kedua matanya dengan rasa terkejutnya saat melihat siapa yang tengah membuat jantungnya hampir copot.


"Sekarang juga kalian berdua kembali ke ruang kerja kalian, cepetan! aku hitung sampai dia hitungan." Ucap Tuan Zayen dengan tatapan kesal. Tanpa harus menunggu hitungan dimulai, keduanya langsung kembali ke ruang kerjanya.


Sedangkan karyawan lainnya yang tengah menyaksikannya pun segera pergi dari kantin dan segera kembali ke tempat kerjanya masing masing. Bahkan satupun tidak ada yang berani berbisik untuk membicarakan tentang kejadian yang barusan terjadi didalam kantin.


Sesampainya didalam ruangan kerja, Dey dan Vey duduk di tempatnya masing masing tanpa bersuara.


Vey yang semakin kesal, berkali kali ia mengrutuki dirinya sendiri atas kebodohannya itu. Sedangkan Dey sedikitpun tidak ada rasa takut maupun hal yang lainnya, Dey sendiri tetap bersikap santai tanpa beban sedikitpun.


Tidak lama kemudian, Tuan Zayen dan tuan Viko segera menuju ke ruangan kerja milik Dey.


"Viko, jaga amarah kamu." Ucap tuan Zayen mengingatkan adik iparnya.


"Jaga amarahku? lihat lah, putraku sudah membuatku malu. Bahkan sudah mencoreng nama baik keluarga Wilyam, apa jadinya jika paman Ganan mengetahuinya. Mau ditaruh dimana mukaku ini? benar benar sangat memalukan." Jawab tuan Viko dengan perasaan kesal dan juga geram.


"Sudahlah jangan kamu pikirkan, secepatnya jadwal pernikahan akan aku majukan. Semua pernah muda, mungkin saja Dey sedang tidak dapat mengendalikan emosinya. Ayo, kita temui Vey dan Dey terlebih dahulu." Ucap tuan Zayen dan mengajaknya untuk segera menemui Dey didalam ruangan kerjanya.


Dengan cepat kilat, Zicko yang berada dirumah saja langsung mengetahuinya. Lunika yang melihat suaminya bersikap aneh karena senyum senyum sendiri, akhirnya menggeser tempat duduknya dan menatap layar ponsel milik suaminya.


"Siapa yang ciuman, sayang? kok kamu senyum senyum begitu." tanya Lunika penasaran.


"Ini, rekaman CCTV di Kantor. Dey tertangkap basah oleh paman dan Papa, kasihan sekali dia. Aku yakin jika hari pernikahannya pasti akan segera dimajukan." Jawab Zicko menjelaskan, Lunika hanya tersenyum getir.


"Memangnya siapa perempuan itu? kok sepertinya aku tidak begitu asing dengan caranya berpakaian." Tanya Lunika yang tiba tiba ingatannya kembali teringat pada seseorang.


"Oooh ini, perempuan yang dicium Dey? namanya Vey. Memangnya kamu mengenalnya? dia sih jago bela diri seperti kamu, sayang. Si Dey kan pinggangnya bermasalah saat ditabrak oleh Vey, hingga pada akhirnya Vey sendiri lah yang memijat Dey. Lucu ya, yang nabrak dan yang mijat satu orang." Jawab Zicko menjelaskannya kembali.


"Vey? aku tidak pernah mendengar nama itu, memangnya nama yang sebenarnya siapa?" tanya Lunika yang masih penasaran.


"Raveyza, sayang." Jawab Zicko singkat.


"Raveyza? emmm, aku coba ingat ingat lagi. Siapa tahu terlintas dalam ingatan aku, dan aku dapat menebaknya dengan benar." Ucap Lunika sambil berusaha untuk mengingatnya.