
Lunika dan Zicko kini saling beradu pandang, keduanya sama sama saling menatap dengan menunjukkan muka sama masamnya.
"Awas, kalau aku temukan nomor ponsel laki laki selain nomorku. Aku bisa memperpanjangmu untuk menjadi asistenku setelah perceraian kita." Ucap Zicko mengancam.
"Terserah, aku mau istirahat. Kalau kamu mau istirahat, dikamar ini dengan pak Yitno. Jika kamu tidak bisa tidur ditempat kumuh seperti ini, mendingan pulang saja." Jawab Lunika yang sudah mulai kesal dengan ancaman dari suaminya yang tidak pernah ada rasa percaya pada istrinya sendiri.
"Apa kamu bilang, tidur dikamar bareng pak Yitno? oooh! itu tidak mungkin terjadi. Kamu adalah istriku, aku berhak tidur dikamarmu." Ucap Zicko yang terus mendesak.
"Aku istri kamu? apa aku tidak salah dengar apa yang kamu ucapkan? jangan bermimpi deh, sekarang aku lah tuan rumahnya. Ingat, pernikahan kita hanya sebatas perjanjian. Kalau kamu mau istirahat, istirahatlah." Jawab Lunika yang mulai menunjukkan sikap ketegasannya.
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung menarik tangan milik istrinya hingga keduanya saling menatap satu sama lain yang jaraknya begitu dekat. Zicko menatap tajam pada istrinya, Lunika sendiri yang sedikit gugup mencoba untuk mengatur pernapasannya agar tidak salah tingkah di hadapan sangat suami.
"Lepaskan tanganmu ini, jangan sampai aku melakukan hal yang sama dan membuatmu meringis kesakitan." Ucap Lunika mencoba untuk melepaskan cengkramannya dan menuntunnya dengan kasar sampai didalam kamar yang ditunjukkan Lunika.
Disaat itu juga, Lunika melototi suaminya sambil berusaha untuk bisa lepas dari sang suami. Namun, tenaga Zicko semakin kuat. Lunika sendiri kualahan untuk membela dirinya.
"Apa perlu aku memaksamu untuk mela*yaniku, agar kamu percaya jika kamu adalah istriku." Ucap Zicko dengan tatapannya yang sulit untuk diartikan.Lunika tercengang dan menelan ludahnya kasar.
Kemudian, Lunika mendadak gemetaran tatkala mendengar sang suami tengah berucap soal haknya.
"Iya, aku mengaku kalah. Kamu bisa tidur di kamarku, dan aku akan tidur bersama ibuku." Ucap Lunika dengan gemetaran dan juga gugup. Zicko tersenyum menyeringai, Lunika hanya membuang nafasnya kasar dan segera keluar dari kamar yang diperuntukan pak Yitno.
"Lunika, kamu bicara dengan siapa? sepertinya terdengar suara laki laki. Benarkah itu, Lun?" seru sang ibu memanggilnya sambil berjalan tertatih tatih.
"Ibu ... kenapa ibu harus keluar? Lunika kan, bisa menemui ibu di kamar." Jawab Lunika dan membantu sang ibu untuk berjalan sampai ditempat duduk.
Zicko yang melihat Lunika tengah menuntun ibunya, segera ia ikut menuntun disebelahnya.
"Kamu siapa, Nak? temannya Lunika?" tanya sang ibu sambil menoleh kearah Zicko.
"Bukan Bu, Dia ini majikan Lunika." Sahut Lunika menimpali.
"Apa! majikan kamu?" tanya sang ibu kaget, kemudian Lunika dan Zicko membantu ibu Ruminah untuk duduk dikursi.
"Silahkan duduk, nak bagus. Jadi, kamu ini majikannya putri saya." Ucap ibu Rumi pada Zicko.
"Iya, Bu. Kebetulan, saya mau menghadiri acara pernikahan karyawan saya yang tempat tinggalnya tidak jauh dari sini. Karena satu arah dengan Lunika, saya memilih untuk meminta izin menginap di rumah ibu." Jawab Zicko d
sesopan mungkin.
"Oooh, kirain ada apa. Boleh boleh saja kalau mau menginap di rumah ibu, tapi harus laporan dengan pak RT dulu." Ucap ibu Ruminah mengingatkan.
"Iya Bu, setelah ini saya meminta Lunika untuk menemani saya ke rumah pak RT. Boleh kan, Bu? ada supir saya juga yang akan ikut menginap tempat ibu." Jawab Zicko.
"Iya, tidak apa apa. Loh, ngomong ngomong pak supirnya dimana? sepertinya tidak kelihatan batang hidungnya." Ucap ibu Ruminah, kemudian celingukan mencari sosok Pak supir.
"Supir saya sedang duduk santai di depan rumah, Bu." Jawab Zicko sembari tersenyum, meski sedikit kaku.
"Lunika, kamu ini bagaimana sih. Majikan datang ke rumah itu harus disambutnya dengan sopan, buruan buatkan minuman untuk Bos kamu dan pak supirnya." Perintah sang ibu pada putrinya.
"I --- iya, Bu." Jawab Lunika, kemudian menoleh menatap suaminya yang tengah duduk dihadapannya. Setelah itu, Lunika segera ke belakang untuk membuatkannya minuman. Sedangkan Zicko tengah duduk ditemani ibu mertuanya.
"Nama saya Zicko, Bu." Jawab Zicko dengan senyum tipis.
"Nama yang sangat bagus, semoga sebagus seperti orangnya." Ucap ibu mertua.
"Aamiin, semoga saja." Jawab Zicko.
"Ibu sampai lupa lagi, jadi malu. Terima kasih banyak ya nak, atas oleh oleh yang kamu berikan untuk kami. Nak Bagus tidak perlu repot repot membawakan oleh oleh untuk Lunika, karena dirumah tidak ada siapa siapa selain ibu sendiri." Ucap sang ibu mertua.
"Tidak apa apa kok, Bu. Lagian tidak sering sering juga, anggap saja silaturahmi saya ke rumah ibu." Jawab Zicko, tidak lama kemudian Lunika menyuguhkan minuman untuk sang suami dan supirnya.
Ketika menyuguhkan minuman kopi serta cemilannya, Lunika kembali duduk disebelah ibunya.
"Ya sudah kalau begitu, ibu pamit mau istirahat. Dan, buat kamu Lunika. Kalau majikan kamu mau istirahat, tunjukin kamarnya. Satu lagi, jangan lupa masak yang enak buat majikan kamu." Ucap sang ibu pada putrinya.
"Iya, Bu." Jawab Lunika singkat, kemudian ia segera bangkit dari posisi duduknya dan membantu sang ibu untuk berdiri. Lalu, Lunika menuntun sang ibu sampai kedalam kamar.
"Nanti malam Lunika tidur bareng ibu, ya." Ucap Lunika sambil membantu sang ibu untuk dan bersandar.
"Ooh, boleh. Ibu mengerti maksud kamu, majikan kamu 'kan?"
"Iya Bu, Lunika tidak enak jika Bos tidurnya bareng pak supir." Jawab Lunika, sang ibu pun mengangguk dan tersenyum. Kemudian, Lunika kembali menemui sang suami.
"Aku mau mengganti bajuku, tunjukan kamar kamu. Oh iya, ambilkan bajuku didalam mobil. Bawa ke kamar, jangan kelamaan."
"Itu, yang ada rendanya."
Tanpa pikir panjang, Zicko langsung masuk ke kamar yang ditunjukkan istrinya. Saat sudah didalam kamar, Zicko celingukan disetiap sudutnya.
Tiba tiba sepasang matanya tertuju pada sebuah foto yang berada diatas meja, Zicko pun penasaran dan mendekatinya untuk melihatnya lebih jelas lagi.
Dengan pelan dan rasa penasarannya, Zicko mengambilnya untuk memperjelas foto tersebut.
'Arnal, jadi ini foto Arnal. Begitu sepesialnya dia dihati perempuan itu, sampai saat ini pun masih ada fotonya. Bagaimana kalau dia tahu jika Arnal telah menikah? kasihan juga dia, pasti sakit banget. Kenapa aku ikut merasa sakit begini, dih! aku cemburu dengan sekretarisku sendiri? tidak.' Batin Zicko dan meletakkan kembali fotonya.
"Ini, pakaiannya Bos." Ucap Lunika tengah mengagetkan sang suami, Zicko pun segera menoleh dan menghadap istrinya.
"Memangnya, aku ini Bos kamu? hem."
"Kenyatannya, 'kan? bukankah ibuku sendiri juga tidak tahu jika kita sudah menikah? apalagi orang sekitar." Jawab Lunika, sedangkan Zicko baru menyadarinya jika ibu mertua serta warga yang lainnya pun tidak ada yang mengetahui akan statusnya.
"Terserah kamu, setelah ini kita akan lapor ke RT setempat."
"Mengenai apa?" tanya Lunika penasaran.
"Mengenai pernikahan kita lah, memangnya kamu pikir pernikahan siapa? kucing?"
"Tidak lucu!" ucap Lunika ketus dan keluar dari kamar. Sedangkan Zicko hanya tersenyum dan segera mengganti bajunya.