
Dilain tempat, tepatnya di Kantor yang dimana Dey tengah sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan sang istri, Vey memulai belajar sebagaimana tugasnya menjadi seorang sekretaris. Ditambah lagi dengan pekerjaan yang menurutnya sangat rumit untuk ia kerjakan, dengan serius Vey menatap layar kerjanya. Bahkan ia lupa jika sedari tadi suaminya memperhatikannya.
Meski sudah tidak lagi seperti Tommy and Jerry, justru Vey kini menjadi pendiam. Bahkan merasa canggung jika berada didekat suaminya sendiri.
Dey yang sedari tadi memperhatikan dan mencuri pandang pada istrinya, segera ia mendekatinya.
"Hem, serius bener ngerjainnya. Sampai lupa jika suaminya kelaparan, bagus."
Seketika, Vey mendongak ke arah suaminya yang ternyata sudah berada di hadapannya. Dilihatnya sang suami yang tengah menatapnya dengan lekat, Vey hanya melempar senyum pasta gigi dan bergegas bangkit dari tempat duduknya.
"Lapar, ya. Maaf, aku kira masih pagi." Balas Vey sambil garuk garuk ke tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Dey yang merasa sudah tidak sabar lagi, ia berpindah posisi dan mendekati istrinya. Kemudian merangkul pinggang milik Vey hingga istrinya tidak dapat untuk berkutik sedikitpun.
"Lepasin sih kenapa, engap nih pinggangku."
"Hem, jangan banyak protes." Sahut Dey, kemudian ia memutar badan istrinya hingga menghadap kearahnya sambil memegangi kedua pundaknya. Vey semakin menjadi jalan pikirannya, ia tidak lagi mampu menatap wajah suaminya yang terlihat sangat tampan dan mempesona serta menggodanya.
Ingin berterus terang, namun ia malu untuk mengakuinya. Vey hanya bisa nurut apa yang suaminya lakukan.
"Kalau yang ini?" tanya Dey sambil merapatkan sesuatu kepada istrinya. Sedangkan Vey mendadak tercengang ketika merasakan sesuatunya, Vey hanya menggigit bibir bawahnya yang tidak mampu untuk bergerak.
"Jangan me*sum, nanti di rumah saja. Kamu bisa puas puasin, yang jelas tidak ada iklan apapun jika kita melakukannya di rumah. Sekarang, ayo temani aku untuk makan siang yang sudah lewat."
"Dih, siapa juga yang me*sum. Memangnya apa yang mau dipuas puasin, terus apanya yang mau kita lakukan, palingan juga nonton berita." Sahut Vey pura pura tidak mengerti.
"Hem, kamu ini. Ah sudah lah, ngomong sama kamu sulit mendapatkan signyal." Ucap Dey, kemudian ia segera keluar dari ruang kerjanya. Sedangkan Vey masih berdiri sambil berkacak pinggang.
"Lihat lah, suamiku tidak ada mesra mesranya sedikitpun padaku. Ngajakin anu, udah kek ngajakin nongkrong aja. Benar benar dah, suami tidak peka. Memangnya mainan tembak tembakan, gitu. Dih! aku juga pingin di halusin, di rayu, dibikin terpanah atau apalah gitu. Ah! punya suami kadang dingin, kadang puitis, kadang udah kek seperti Tommy and Jerry." Gumam Vey sambil berkacak pinggang, tanpa ia sadari jika suaminya tengah sibuk dengan ponselnya untuk memantau dirinya yang masih berada didalam ruang kerjanya.
"Masih ingin berdiri disitu? hem." Vey hanya tersenyum pasta gigi. Karena tidak mempunyai pilihan yang lain, akhirnya Dey mengunci pintunya dan melepaskan jaketnya serta dasi yang masih menempel pada kemejanya.Tidak hanya itu sebuah jam tangan pun ia melepaskannya dan membuka kancing kemejanya dari atas dan mendekati Vey yang masih berkacak pinggang.
Vey yang melihatnya kembali tercengang, bahkan ia kesulitan untuk menelan ludahnya.
Senyum menggoda terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Dey, sedangkan Vey akhirnya berdiri tegap dan mundur beberapa langkah untuk menghindari suaminya itu.
Dey tidak peduli dengan ucapan istrinya, ia tetap dengan tujuannya yang akan membuktikannya pada sang istri yang sudah menantangnya lewat gumamnya yang dapat ditangkap melalui CCTV ruang kerjanya.
Vey semakin bingung dibuatnya, kini posisinya sudah menempel pada dinding. Bahkan ia tidak mampu untuk berkutik, apa lagi untuk kabur, itu tidak akan mungkin bisa dilakukan oleh Vey.
Kini keduanya sudah beradu pandang, sepasang netranya sudah saling bertemu. Vey semakin gugup dan detak jantungnya ikutan berdetak sangat kencang. Bahkan pikirannya pun berkelana kemana mana, diikuti tangan Dey yang mulai aktif untuk mencari sensasi yang dapat memancingnya.
Dey yang tidak lagi sabar, Dey memulai mencium bi*bir milik Vey dengan lembut. Kemudian menjalar kebawah dan dibantu oleh tangannya untuk mengerjakan sesuatu hingga apa yang diinginkannya terpenuhi. Vey hanya pasrah, bahkan ia ikut mabuk asmara didalamnya.
Dey mendekatkan kembali ke daun telinga milik istrinya dan membisikkan sesuatu padanya.
"Kamu menginginkan sesuatu yang seperti ini, bukan? tidak ada kekerasan, melainkan perlakuan lembut dariku. Aku mencintaimu, sayangku. Panggil aku dengan sebutan sayang, ayolah. Setelah itu, aku akan memintamu lagi dan terus dan lagi." Bisik Dey, kemudian ia menc*ium leher jenjang milik istrinya.
Lagi lagi Vey kembali tercengang saat mendengar penuturan dari suaminya, Vey berusaha untuk tetap tenang. Meski yang sebenarnya ia sangat gugup untuk melakukannya, rasa takut pun telah menghantuinya.
"Sa -- sayangku, tap -- ta - tapi aku takut." Jawabnya sedikit gugup.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, percayalah denganku." Ucap Dey, Vey pun mengangguk pasrah.
'Ah iya, bodohnya aku. Ini pasti dia mengswasiku lewat CCTV yang ada di kantor ini, aku yakin itu. Mau taruh dimana ini mukaku, memalukan.' Batin Vey yang tersadar dari kelalaiannya sendiri.
Dey yang sudah mendapatkan izin dari istrinya, Dey terus memburu akan sesuatu yang sudah ia tahan, bahkan kini semakin jauh perlakuan Dey pada istrinya. Dengan pelan, Dey menuntun istrinya menuju ruangan yang dijadikan tempat untuk istirahat. Vey hanya bisa nurut pasrah, ia pun tidak lagi dapat menolaknya.
Vey yang lupa akan kebodohannya sendiri, ia hanya bisa mengerutuki dirinya sendiri. Namun, Vey juga tidak dapat untuk memungkirinya jika ia pun ingin mendapatkan perlakuan yang lebih dari suaminya. Begitu juga dengan Dey, meski sudah tidak sabar, ia tetap menjaga gengsinya. Ditambah lagi dengan pengungkapan perasaan yang begitu cepat, hingga membuatnya ada sedikit rasa ragu untuk meminta haknya. Dey takut, jika istrinya melakukannya dengan keterpaksaan.
Namun ketika mendapati pengakuan dari istrinya lewat CCTV, Dey semakin yakin jika istrinya memang benar sudah memiliki rasa terhadapnya.
Kini, keduanya sudah berada didalam ruangan yang sangat privat untuk melabuhkan ke lebih yang serius lagi. Dey begitu lembut memperlakukan istrinya, bahkan Vey sendiri baru menyadari akan perlakuan sang suami padanya. Ditempat inilah, keduanya sama sama memadu kasih yang berawal dari sebuah perjodohan hingga menyadari akan perasaannya masing masing. Dengan nafas yang sama membara, hingga keduanya dapat melepaskan sesuatu yang sudah memuncak sampai pertahanannya pun lepas bersama.
Usai melakukan ritual panjangnya di dalam ruangan kerjanya, Dey dan Vey sama lelahnya. Kemudian Dey memeluk istrinya dengan erat, lalu mencium pucuk kepalanya dengan satu kecupan.
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah memberiku sebuah mahkota yang sangat berharga bagimu, aku janji untuk selalu mencintaimu hingga maut menjemputku. Aku akan selalu menjagamu, dan tidak akan pernah berpaling, apalagi untuk meninggalkanmu, itu tidak akan aku lakukan." Ucap Dey yang masih memeluk erat istrinya dalam satu balutan selimut.